Agama Mesir Kuno

  1. I.       PEMBAHASAN

Dalam Encyclopedia of World Religions ditulis: “country located in the north-eastern corner of Africa, divided into two enequal, extremely arid regions by the landscape’s dominant feature, the northward-flowing Nile River. It is one of the world’s oldest continuous civilizations, in ancient times ruled by a Pharaoh”.[1]

Mesir merupakan salah satu pusat peradaban tertua di dunia yang terletak di ujung Benua Afrika bagian utara. Peradaban Mesir tumbuh dan berkembang di sekitar aliran Sungai Nil yang membentang sepanjang 6.671 km. Orang-orang Mesir diperkirakan telah menempati wilayah tersebut sejak 6.000 tahun sebelum Masehi. Di tempat yang subur inilah nenek moyang bangsa Mesir membangun daerah-daerah pemukiman dan memanfaatkan daerah yang subur tersebut sebagai lahan pertanian. Kesuburan tersebut telah menciptakan kemakmuran penduduk. Selain itu, Mesir secara geografis memiliki perlindungan alam berupa gurun. Gurun Nubia dan Gurun Sahara menjadikan Mesir terlindungi dari ancaman serangan bangsa asing.

Berikut peta geografis Negara Mesir Kuno:

 

 

 

 

Wilayah terluas Mesir Kuno

(abad ke-15 SM).

 

 

Kondisi geografi yang mendukung dan tanah di tepi sungai Nil yang subur membuat bangsa Mesir mampu memproduksi banyak makanan, dan menghabiskan lebih banyak waktu dan sumber daya dalam pencapaian budaya, teknologi, dan artistik. Pengaturan tanah sangat penting di Mesir Kuno karena pajak dinilai berdasarkan jumlah tanah yang dimiliki seseorang. Pertanian di Mesir sangat bergantung kepada siklus sungai Nil. Bangsa Mesir mengenal tiga musim: Akhet (banjir), Peret (tanam), dan Shemu (panen). Bangsa Mesir menanam gandum emmer dan jelai, serta beberama gandum sereal lain, sebagai bahan roti dan bir. Tanaman-tanaman Flax ditanam dan diambil batangnya sebagai serat. Serat-serat tersebut dipisahkan dan dipintal menjadi benang, yang selanjutnya digunakan untuk menenun linen dan membuat pakaian. Papirus ditanam untuk pembuatan kertas. Sayur-sayuran dan buah-buahan dikembangkan di petak-petak perkebunan, dekat dengan permukiman, dan berada di permukaan tinggi. Tanaman sayur dan buah tersebut harus diairi dengan tangan. Sayur-sayuran meliputi bawang perai, bawang putih, squash, kacang, selada, dan tanaman-tanaman lain. Anggur juga ditanam untuk diolah menjadi arak.

Penduduk Mesir kuno mulai menempati kawasan lembah Nil sekitar tahun 5000-525 SM, yaitu sejak orang Mesir primitif periode perkembangan neolitik sampai pada perkembangan peradaban masa kekuasaan para Firaun absolute. Secara kronologis, sejarah Mesir dapat dibagi menjadi beberapa periode. Sejarah Mesir sebelum tahun 3400 SM disebut dengan periode prasejarah, periode kerajaan lama (3400-2475 SM), periode transisi feudalism (2475-2160), periode pertengahan (2160-1780 SM), ditambah dengan periode dominasi Hykso (1780-1580 SM) dan periode emperium (1580-525 SM).

Periode prasejarah Mesir ditandai dengan banyak ditemukan peralatanperalatan pada kuburan kuburan bangsa Mesir, diperkirakan dimulai sejak tahun 1500 SM. Dengan demikian, penduduk Mesir sudah menggunakan peralatan dimulai sejak masa paleolitik dan neolitik (zaman batu tua dan batu muda). Kemajuan bangsa Mesir lebih ditopang oleh hasil bumi yang subur, sejak pra dinasti sudah terjalin kerja sama dalam pembuatan kanal dan irigasi. Gambaran ini menunjukkan sudah adanya unit-unit politik meskipun masih kecil, yang secara gradual membentuk dua dua kerajaan, atas di bagian selatan, bawah di bagian utara sekitar tahun 5000 SM (Bogardus, 1995: 56).[2]

Sistem Sosial Kemasyarakatan

 

Gambar patung yang menggambarkan kegiatan masyarakat kecil Mesir Kuno.

 

Dilihat dari system social kemasyarakatan, Mesir Kuno ketika itu sangat terstratifikasi dan status sosial yang dimiliki seseorang ditampilkan secara terang-terangan. Sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani, namun demikian hasil pertanian dimiliki dan dikelolah oleh negara, kuil, atau keluarga ningrat yang memiliki tanah. Petani juga dikenai pajak tenaga kerja dan dipaksa bekerja membuat irigasi atau proyek konstruksi. Seniman dan pengrajin memunyai status yang lebih tinggi dari petani, namun mereka juga berada di bawah kendali negara, bekerja di toko-toko yang terletak di kuil dan dibayar langsung dari kas negara. Juru tulis dan pejabat menempati strata tertinggi di Mesir Kuno, dan biasa disebut “kelas kilt putih” karena menggunakan linen berwarna putih yang menandai status mereka. Perbudakan telah dikenal, namun bagaimana bentuknya belum jelas diketahui. Mesir Kuno memandang pria dan wanita, dari kelas sosial apapun kecuali budak, sama di mata hukum. Baik pria maupun wanita memiliki hak untuk memiliki dan menjual properti, membuat kontrak, menikah dan bercerai, serta melindungi diri mereka dari perceraian dengan menyetujui kontrak pernikahan, yang dapat menjatuhkan denda pada pasangannya bila terjadi perceraian. Dibandingkan bangsa lainnya di Yunani, Roma, dan bahkan tempat-tempat lainnya di dunia, wanita di Mesir Kuno memiliki kesempatan memilih dan meraih sukses yang lebih luas. Wanita seperti Hatshepsut dan Celopatra bahkan bisa menjadi firaun. Namun demikian, wanita di Mesir Kuno tidak dapat mengambil alih urusan administrasi dan jarang yang memiliki pendidikan dari rata-rata pria ketika itu. Juru tulis adalah golongan elit dan terdidik. Mereka menghitung pajak, mencatat, dan bertanggung jawab untuk urusan administrasi.

Masyarakat Mesir Kuno dibagi menjadi enam tingkatan sebagai berikut:

  1. Fir’aun dan keluarganya yang hidup mewah.
  2. Para Bangsawan yang juga hidup mewah.
  3. Para Pedagang dan pengusaha yang tinggal di kota-kota.
  4. Para petani yang tinggal di desa-desa.
  5. Para buruh yang tingal di kota-kota.
  6. Para budak yang dipekerjakan oleh para bangsawan dan fir’aun

 

Struktur sosial Mesir terdiri dari kelas atas yang didominasi oleh para penguasa dan pendeta, kelas menengah dan kelas rakyat yang sebagian besar sebagai budak. Seluruh sejarah kehidupan Mesir, basis ekonominya adalah pertanian dengan sistem sentralisasi irigasi memungkinkan hasil panen yang melimpah, sehingga industri sudah ada pada masa kerajaan lama. Setiap bulan Juli sungai Nil akan meluap, sedangkan bulan Nopember akan mengalami kekeringan. Hal ini sejak lama telah diantisipasi oleh bangsa Mesir dengan melakukan pertanian yang bervariasi. Pengembangan tembaga, penggunaan bahan kaca, penggalian batu secara terorganisir, serta teknik pemahatan relief sangat efisien dan maju yang tidak dijumpai di Eropa sampai periode revolusi industri.[3]

 

  1. A.    Perkembangan pemerintahan Mesir Kuno

Masa pemerintahannya dapat dikelompokkan menjadi tiga zaman, yaitu: Kerajaan Tua, Kerajaan Tengah dan Kerajaan Baru.

  1. a.      Zaman Kerajaan Tua (3000-2200 SM)

Pada masi ini, raja Menes berhasil menyatukan Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Dia kemudian digantikan oleh raja Chufu (Chefren) tahun 2200 SM-2150 SM. Setelah itu, yang berkuasa adalah raja Sesotris tahuan 2150-2000 SM. Pada masa ini, makam raja-raja berbentuk piramida dan di depannya terdapat Sphink.

Periode kerajaan lama, sudah memasuki zaman logam, perdagangan sudah mengalami kemajuan, kapal-kapal dagang telah dikirim ke kawasan pantai Syria untuk memperoleh kayu sebagai bahan pembuatan kapal, rumah dan perabotan lainnya. Industri sudah dimulai pada masa ini, manifaktur dari kaca, permata-permata yang indah banyak dihasilkan oleh para pengrajin. Indikasi kemajuan peradaban pada masa kerajaan lama adalah peninggalan piramida-piramida. Piramida pertama dibangun pada masa dinasti ketiga, merupakan kuburan batu besar pertama di

dunia. Dari enam dinasti kerajaan lama yang ada, dinasti keempat adalah yang paling kuat dengan membangun piramida besar sebagai kuburan pagi Firaun Khufu dan dikenal dengan Cheops. Pembangunan piramida ini membutuhkan 100.000 pekerja dikerjakan selama dua puluh tahun. Bangunan ini didesain untuk memprotek jasad Firaun setelah mati. Dari sini, menunjukkan bahwa pengetahuan geometri telah dikenal baik oleh  bangsa Mesir, mereka telah menggunakan perunggu untuk memotong batu Kerajaan Mesir mengalami pertumbuhan besar menuju fase baru dengan kekuasaan yang bersifat feodalistik.

Selama berada di bawah kekuasaan enam dinasti Firaun pada masa kerajaan lama, sentralisasi kekuasaan yang kuat menjadi berkurang yang memunculkan independensi dan ambisi para gubernur propinsi. Akibat terjadinya perang sipil, kekuatan para Firaun menjadi runtuh, sementara para gubernur saling berebut kekuasaan di antara mereka. Secara umum, masyarakat tidak dapat menahan kelaparan karena adanya tekanan dari tirani-tirani kecil, kerusakan yang disebabkan oleh peperangan, sehingga praktis masa ini kemajuan peradaban terhenti (Bogardus, 1995: 57).

Setelah selama 300 tahun berada dalam disintegrasi atau disunity, putra-putra mahkota dari Nil bagian atas telah berhasil membangun kembali sebuah negara kesatuan. Di masa kekuasaan satu Firaun terdapat dua belas dinasti selama dua abad, yang paling menonjol adalah Sesostris III and Amenemhet III dengan kemampuannya membawa kerajaan para Firaun

bersifat monarki yang kuat, dengan hukum, aturan, kemakmuran ekonomi dan kemajuan peradaban. Jika kerajaan lama terkenal dengan piramidanya, maka pada masa pertengahan ini lebih menonjol dalam bidang literatur dan kesenian (Bogardus: 1995: 57).

Sekitar tahun 1780 SM, seorang Asia dikenal oleh bangsa Mesir dengan Hykos, dengan pasukan berkuda dan kereta yang superior telah menaklukkan Mesir kawasan Delta secara keseluruhan dan bertahap sampai pada lembah Nil bagian atas. Selama dua abad sampai tahun 1580 SM di bawah kekuasaan orang asing, telah melahirkan nasionalisme bangsa Mesir.

Azhmes liberalis dari Thebes adalah seorang pahlawan nasional yang besar telah membebaskan bangsa Mesir menuju babak baru, yaitu masa emperium. Para penguasa emperium ini meyakini bahwa untuk menjaga keamanan negara Mesir dari serbuan bangsa asing adalah dengan mengontrol Palestina, Syria, Phoenisia, kawasan air di timur Mediterania serta mengontrol nite-nite perdagangan oleh pasukan infantri. Firaun yang paling besar peradaban pada periode ini adalah Mosis III (1479-1447 SM) biasa disebut sebagai Napoeleon oleh bangsa Mesir. Dia mampu menaklukkan Syuria, Phoenesia, Palestina, Nubia dan dilengkapi dengan kawasan Siprus. Kebesaran Mesir berada di bawah kekuasaan Firaun dinasti ke-18; peradaban dan kekuatan politik, politik hukum dan peraturan-peraturan di lembah Nil. Perkembangan perdagangan dan kemakmuran yang besar dari rampasan perang yang mengalir ke Mesir.

Thebes sebagai ibukota Mesir menjadi kota terkaya di dunia. Beberapa kuil taman yang indah dan rumah-rumah besar dan indah milik para pembesar membuat Thebes tampak lebih indah (Bogardus, 1995: 58). Di bawah kekuasaan Amenhotep III (1411-1375 SM), emperium Mesir mengalami kemunduran, yang ditandai dengan adanya kontoversi agama, dan kehilangan teritorial.[4]

 

  1. b.      Zaman Kerajaan Tengah (2000-1700 SM)

Sekitar tahun 2000 SM-1800 SM terjadi perang saudara, yaitu pada masa pemerintahan raja Hatshepsut. Tahun 1800-1700 SM, Kerajaan dalam keadaan genting. Pada masa genting inilah Raja Hatshepsut mengirimkan tentara ekspedisi ke Afrika Timur, sehingga saudagar-saudagar memperoleh pasaran baru. Kota Karnak yang penuh dengan kuil diperbaiki dan didirikan Obelsik yang besar. Di Derel Bakri dibangun kuil yang indah. Dia juga membuat pemakaman rahasia di gunung pasir (sebelah barat Sungai Nil).

  1. c.       Zaman Kerajaan Baru (1700-1100 SM)

Sekitar tahun 1700 SM, Mesir diserang oleh bangsa Hiksos dari Asia. Sekitar tahun 1600 SM, bangsa Hiksos berhasil diusir. Raja yang terkenal adalah Thutmosis III. Dia berhasil memperluas kekuasaan sampai ke Syiria dan pulau Kreta. Dia juga memindahkan pusat pemerintahan yang semula di Memphis ke Thebe. Pada masa raja Ramses II Agung, wilayahnya sampai ke Palestina, Sisilia dan Sardinia. Pada masa Raja Ramses II Mesir menjadi lumpuh. Akibatnya kerajaan ini tidak mampu menghadapi serangan-serangan dari luar. Selengkapnya sebagai berikut:

1.Pada abad ke-9 SM, Mesir ditundukkan bangsa Assiria.

2.Pada abad ke-6 SM, Mesir ditundukkan bangsa Persia.

3.Pada abad ke-4, Mesir ditundukkan oleh raja Iskandar Zulkarnaen dari Macedonia (Yunani). Akhirnya, diditemukan nama kota Iskandariah. Dia juga menggabungkan kebudayaan Timur (Asia-Afrika). Hal ini disebut Hellenisme.Hellen adalah sebutan bagi orang-orang Yunani.[5]

Ramses II (1292-1225 SM) dinasti ke-19, dikenal sebagai Firaun yang menindas bangsa Yahudi dan berusaha untuk merestorisasi, atau memulihkan kembali kejayaan emperium Mesir. Kekuatan bangsa Mesir dibangun kembali di Dyria selatan dan Palestina. Monumen-monumen besar telah dibangun disepanjang sungai Nil, sehingga dari luar emperium tampak makmur dan aman. Setelah periode ini seluruh kawasan Timur dekat muncul kekuatan, sementara Ramses III (1198-1167 SM) hanya mempertahankan emporium dari kehancuran. Setelah Ramses III tidak ada lagi pemimpin dari bangsa Mesir yang brilian. Akhirnya Mesir di bawah kekuasaan bangsa-bangsa asing, Afrika, Assyria dan Persia tahun 525 SM. Pada masa ini praktis bangsa mesir

telah kehilangan kemerdekaan politiknya. Setelah kedatangan Islam, Mesir telah banyak meninggalkan tradisi kuno mereka.

Sistem pemerintahan pada teritorial kerajaan Mesir lama adalah absolut secara ekstrim, seluruh kekuasaan berada di bawah tangan Firaun. Siapa yang dipanggil dengan Firaun berarti rumah besar (Great House). Para Firaun merupakan pemilik seluruh tanah, tidak ada pertanyaan bagi para penguasa ini. Rakyat Mesir percaya bahwa jika hal itu dilakukan, maka akan mendapat sangsi dari para dewa. Pemerintahan Mesir bersifat teokratik, dengan mengkombinasikan agama dan fungsi politik. Di samping sebagai raja, Firaun sebagai dewa penguasa tanah dan spiritual. Keberhasilan system administrasi kerajaan lama, memungkinkan adanya sentralisasi kekuasaan

yang absolut. Dalam mengatur negara, raja dibantu oleh seorang ketua bendahara dan dua orang perdana menteri. Sistem paternalisme tiada lain adalah untuk melanggengkan kekuasaan dan kemakmuran keluarga raja (Bogardus, 1995: 60).

Sejak kerajaan lama, komersial mengalami kemajuan sangat pesat sepanjang sungai Nil. Ekspedisi melaut di laut merah dengan memakai perahu telah dilakukan, sehingga bangsa Mesir dapat mengklaim bahwa merekalah bangsa pertama menggunakan perahu. Sejak 2750 SM, perahu-perahu Mesir berlayar menelusuri pantai Timur Mediterania sampai Phoenesia. Perdagangan emperium memiliki empat rute. Lewat kanal yang dikonstruksi sebagai penghubung antara laut Merah dengan daerah timur Delta. Sepanjang Sungai Nil perahu-perahu membawa barang-barang dari selatan, para kafilah menjalin kontak dagang dengan Mesopotamia dan Syria selatan; pelayaran dari Syria utara ke Yunani dan pulau-pulau lain. Hasil perdagangan Mesir banyak ditemukan di Yunani, agama dan bentuk seni pun mulai diadopsi oleh Yunani. Impor Mesir adalah kulit onta, senjata-senjata dari logam, rempah-rempah, emas, kayu dan permadani. Sementara ekspor Mesir adalah gandung, linan, dan barang-barang kerajinan sebagai hasil olahan (Bogardus, 1995: 62).[6]

 

  1. B.     Sistem Hukum Mesir Kuno

Sistem hukum di Mesir Kuno secara resmi dikepalai oleh firaun yang bertanggung jawab membuat peraturan, menciptakan keadilan, serta menjaga hukum dan ketentraman, sebuah konsep yang disebut masyarakat Mesir Kuno sebagai Ma’at. Meskipun belum ada undang-undang hukum yang ditemukan, dokumen pengadilan menunjukkan bahwa hukum di Mesir Kuno dibuat berdasarkan pandangan umum tentang apa yang benar dan apa yang salah, serta menekankan cara untuk membuat kesepakatan dan menyelesaikan konflik.

Dewan sesepuh lokal, yang dikenal dengan nama Kenbet di Kerajaan Baru, bertanggung jawab mengurus persidangan yang hanya berkaitan dengan permasalahan-permasalahan kecil. Kasus yang lebih besar termasuk di antaranya pembunuhan, transaksi tanah dalam jumlah besar, dan pencurian makam diserahkan kepada Kenbet Besar yang dipimpin oleh wazir atau firaun. Penggugat dan tergugat diharapkan mewakili diri mereka sendiri dan diminta untuk bersumpah bahwa mereka mengatakan yang sebenarnya.

Dalam beberapa kasus, negara berperan baik sebagai jaksa dan hakim, serta berhak menyiksa terdakwa dengan pemukulan untuk mendapatkan pengakuan dan nama-nama lain yang bersalah. Tidak peduli apakah tuduhan itu sepele atau serius, juru tulis pengadilan mendokumentasikan keluhan, kesaksian, dan putusan kasus untuk referensi pada masa mendatang. Hukuman untuk kejahatan ringan di antaranya pengenaan denda, pemukulan, mutilasi di bagian wajah, atau pengasingan, tergantung kepada beratnya pelanggaran. Kejahatan serius seperti pembunuhan dan perampokan makam dikenakan hukuman mati seperti pemenggalan leher, penenggelaman, atau penusukan. Hukuman juga bisa dikenakan kepada keluarga penjahat. Sejak pemerintahan Kerajaan Baru, oracle memiliki peran penting dalam sistem hukum, baik pidana maupun perdata. Prosedurnya adalah dengan memberikan pertanyaan “ya” atau “tidak” kepada dewa terkait sebuah isu. Sang dewa, diwakili oleh sejumlah imam, memberi keputusan dengan memilih salah satu jawaban, melakukan gerakan maju atau mundur, atau menunjuk pada selembar papirus atau ostracon.

 

  1. C.    Sistem Perekonomian Mesir Kuno

Sebagian besar perekonomian diatur secara ketat dari pusat. Bangsa Mesir Kuno belum mengenal uang koin hingga Periode Akhir sehingga mereka menggunakan sejenis uang barter berupa karung beras dan beberapa deben (satuan berat yang setara dengan 91 gram) tembaga atau perak sebagai denominatornya. Pekerja dibayar menggunakan biji-bijian; pekerja kasar biasanya hanya mendapat 5 karung (200kg) biji-bijian per bulan sementara mandor bisa mencapai 7 karung (250kg) per bulan. Harga tidak berubah di seluruh wilayah negara dan biasanya dicatat utuk membantu perdagangan; misalnya kaus dihargai 5 deben tembaga sementara sapi bernilai 140 deben. Pada abad ke 5 sebelum masehi, uang koin mulai dikenal di Mesir. Awalnya koin digunakan sebagai nilai standar dari logam mulia dibanding sebagai uang yang sebenarnya; baru beberapa abad kemudian uang koin mulai digunakan sebagai standar perdagangan.

 

  1. D.    Sistem Kesenian Mesir Kuno

 

Patung dada Nefertiti, karya Thutmose, adalah salah satu mahakarya terkenal bangsa Mesir Kuno.

 

 

Bangsa Mesir Kuno memproduksi seni untuk berbagai tujuan. Selama 3500 tahun, seniman mengikuti bentuk artistik dan ikonografi yang dikembangkan pada masa Kerajaan Lama. Aliran ini memiliki prinsip-prinsip ketat yang harus diikuti, mengakibatkan bentuk aliran ini tidak mudah berubah dan terpengaruh aliran lain. Standar artistik—garis-garis sederhana, bentuk, dan area warna yang datar dikombinasikan dengan karakteristik figure yang tidak memiliki kedalaman spasial—menciptakan rasa keteraturan dan keseimbangan dalam komposisinya. Perpaduan antara teks dan gambar terjalin dengan indah baik di tembok makam dan kuil, peti mati, maupun patung. Seniman Mesir Kuno dapat menggunakan batu dan kayu sebagai bahan dasar untuk memahat. Cat didapatkan dari mineral seperti bijih besi (merah dan kuning), bijih perunggu (biru dan hijau), jelaga atau arang (hitam), dan batu kapur (putih). Cat dapat dicampur dengan gum arab sebagai pengikat dan ditekan (press), disimpan untuk kemudian diberi air ketika hendak digunakan. Firaun menggunakan relief untuk mencatat kemenangan di pertempuran, dekrit kerajaan, atau peristiwa religius. Di masa Kerajaan Pertengahan, model kayu atau tanah liat yang menggambarkan kehidupan sehari-hari menjadi populer untuk ditambahkan di makam.Sebagai usaha menduplikasi aktivitas hidup di kehidupan setelah kematian, model ini diberi bentuk buruh, rumah, perahu, bahkan formasi militer.

 

  1. E.     Sistem Militer Mesir Kuno

 

 

Gambar Kereta Perang Mesir Kuno

 

 

Angkatan perang Mesir kuno bertanggung jawab untuk melindungi Mesir dari serangan asing, dan menjaga kekuasaan Mesir di Timur Dekat Kuno. Tentara Mesir kuno melindungi ekspedisi penambangan ke Sinai pada masa Kerajaan Lama, dan terlibat dalam perang saudara selama Periode Menengah Pertama dan Kedua. Angkatan perang Mesir juga bertanggung jawab untuk memberikan perlindungan terhadap jalur perdagangan penting, seperti kotaBuhen pada jalan menuju Nubia. Benteng-benteng juga didirikan, seperti benteng di Sile, yang merupakan basis operasi penting untuk melancarkan ekspedisi ke Levant.Pada masa Kerajaan Baru, firaun menggunakan angkatan perang Mesir untuk menyerang dan menaklukan Kerajaan Kush dan sebagian Levant. Peralatan militer yang digunakan pada masa itu adalah panah, tombak, dan perisai berbahan dasar kerangka kayu dan kulit binatang.Pada masa Kerajaan Baru, angkatan perang mulai menggunakan kereta perang yang awalnya diperkenalkan oleh penyerang dari Hyksos. Senjata dan baju zirah terus berkembang setelah penggunaan perunggu: perisai dibuat dari kayu padat dengan gesper perunggu, ujung tombak dibuat dari perunggu, dan Khopesh (berasal dari tentara Asiatik) mulai digunakan. Tentara direkrut dari penduduk biasa; namun, selama dan terutama sesudah masa Kerajaan Baru, tentara bayaran dari Nubia, Kush, dan Libya dibayar untuk membantu Mesir.

 

  1. F.     Sistem Teknologi Mesir Kuno

Bangsa Mesir kuno telah mampu mengembangkan sebuah material kilap yang dikenal sebagai tembikar glasir bening, yang dianggap sebagai bahan artifisial yang cukup berharga. Tembikar glasir bening adalah keramik yang terbuat dari silika, sedikit kapur dan soda, serta bahan pewarna, biasanya tembaga. Tembikar glasir bening digunakan untuk membuat manik-manik, ubin, arca, dan lainnya. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menciptakan tembikar glasir bening, namun yang sering digunakan adalah menaruh bahan baku yang telah diolah menjadi pasta di atas tanah liat, kemudian membakarnya. Dengan teknik yang sama, bangsa Mesir kuno juga dapat memproduksi sebuah pigmen yang dikenal sebagai Egyptian Blue, yang diproduksi dengan menggabungkan silika, tembaga, kapur dan sebuah alkali seperti natron. Bangsa mesir kuno juga mampu membuat berbagai macam objek dari kaca, namun tidak jelas apakah mereka mengembangkan teknik itu sendiri atau bukan. Tidak diketahui pula apakah mereka membuat bahan dasar kaca sendiri atau mengimpornya, untuk kemudian dilelehkan dan dibentuk, namun mereka dipastikan memiliki kemampuan teknis untuk membuat objek dan menambahkan elemen mikro untuk mengontrol warna dari kaca tersebut.Banyak warna yang dapat mereka ciptakan, termasuk di antaranya kuning, merah, hijau, biru, ungu, putih, dan transparan.

 

  1. G.   

     

     

    Kuil Edfu adalah salah satu hasil karya arsitektur bangsa Mesir Kuno.

     

    Arsitektur Mesir Kuno

 

Karya arsitektur bangsa Mesir Kuno yang paling terkenal antara lain: Piramida Giza dan kuil di Thebes. Proyek pembangunan dikelola dan didanai oleh pemerintah untuk tujuan religius, sebagai bentuk peringatan, maupun untuk menunjukkan kekuasaan firaun. Bangsa Mesir Kuno mampu membangun struktur batu dengan peralatan sederhana namun efektif, dengan tingkat akurasi dan presisi yang tinggi. Kediaman baik untuk kalangan elit maupun masyarakat biasa dibuat dari bahan yang mudah hancur seperti batu bata dan kayu, karenanya tidak ada satu pun yang terisa saat ini.Kaum tani tinggal di rumah sederhana, di sisi lain, rumah kaum elit memiliki struktur yang rumit.Beberapa istana Kerajaan Baru yang tersisa, seperti yang terletak di Malkata dan Amarna, menunjukkan tembok dan lantai yang dipenuhi hiasan dengan gambar pemandangan yang indah. Struktur penting seperti kuil atau makam dibuat dengan batu agar dapat bertahan lama.

Kuil-kuil tertua yang tersisa, seperti yang terletak di Giza, terdiri dari ruang tunggal tertutup dengan lembaran atap yang didukung oleh pilar. Pada Kerajaan Baru, arsitek menambahkan pilon, halaman terbuka, dan ruangan hypostyle; gaya ini bertahan hingga periode Yunani-Romawi. Arsitektur makam tertua yang berhasil ditemukan adalah mastaba, struktur persegi panjang dengan atap datar yang terbuat dari batu dan bata.Struktur ini biasanya dibangun untuk menutupi ruang bawah tanah untuk menyimpan mayat.

Salah satu kontribusi penting lain bangsa Mesir dalam peradaban adalah kemajuan dalam bidang seni tulisan, khususnya pengenalan terhadap alphabet Literatur tertua tercantum pada teks-teks piramida yang disebut dengan teks tertua tentang pemikiran manusia. Teks yang berkenaan dengan agama dapat dijumpai pada dinding-dinding makam raja ke-5 dan ke-6 yang berisi tentang mantra-mantra magis, mitos dan nyanyian religius. Sementara literatur pada masa pertengahan lebih kaya dan bervariasi serta bersifat sekuler (Wallbank, 1949: 64). Banyak ditemukan cerita-cerita romantis, tenggelamnya kapal dan sebagainya. Tetapi cerita yang penting adalah legenda tentang Yusuf dan saudaranya. Di samping itu juga ditemukan syair-syair bernuansa religious yang diekspresikan secara filosofis.

Sistem penanggalan sudah dikenal dengan baik, penetapan jumlah hari sebanyak tiga puluh dalam satu bulan dan jumlah bulan sebanyak dan belas dalam satu tahun setiap akhir tahun ditambah dengan lima hari. Dalam bidang ilmu pengetahuan, bangsa Mesir adalah pertama kali dalam matematika terapan, tetapi mereka sedikit kemajuan dalam bidang fisika dan astronomi. Bangsa Mesir dapat dikatakan sebagai arsitek yang luar biasa dengan menghasilkan bangunan batu berbentuk piramida. Secara umum struktur social Mesir tidak ada rumah yang megah, istana raja dibangun tidak cukup indah. Hal ini menunjukkan bahwa orientasi kehidupan bangsa Mesir lebih banyak diarahkan kepada tujuan hidup abadi. Bangunan piramida adalah ekspresi tunggal dari peradaban Mesir. Sementara kuil-kuil dengan struktur bangunan menunjukkan misteri agama bangsa Mesir (Wallbank, 1949: 65). Kuil terbesar adalah Karnak yang dibangun dengan batu-batu besar dengan pintu-pintu dan jendela terbuka, dan atap yang menghadap ke langit. Terdiri dari tiang-tiang besar, di dalamnya terdapat ruangan besar  Dalam bidang seni dekorasi, banyak ditemukan batu-batu kuburan dan istana yang dicat dengan warna-warna simbolik (Wallbank, 1949: 68-69).[7]

 

  1. H.    Sistem Pengobatan /Medis Mesir Kuno

 

 

 

Prasasti yang menggambarkan alat-alat pengobatan Mesir kuno.

 

 

Permasalahan medis di Mesir kuno kebanyakan berasal dari kondisi lingkungan di sana. Hidup dan bekerja di dekat sungai Nil mengakibatkan mereka terancam penyakit seperti malaria dan parasit schistosomiasis, yang dapat mengakibatkan kerusakan hati dan dan pencernaan.Binatang berbahaya seperti buaya dan kuda nil juga menjadi ancaman.Cidera akibat pekerjaan yang sangat berat, terutama dalam bidang konstruksi dan militer, juga sering terjadi.Kerikil dan pasir di tepung (muncul akibat proses pembuatan tepung yang belum canggih) merusak gigi, sehingga menyebabkan mereka mudah terserang abses.Hidangan yang dimakan orang kaya di Mesir kuno biasanya mengandung banyak gula, yang mengakibatkan banyaknya penyakit periodontitis. Meskipun di dinding-dinding makam kebanyakan orang kaya digambarkan memiliki tubuh yang kurus, berat badan mumi mereka menunjukkan bahwa mereka hidup secara berlebihan. Harapan hidup orang dewasa berkisar antara 35 tahun untuk laki-laki dan 30 tahun untuk wanita.

Tabib-tabib Mesir Kuno termasyhur dengan kemampuan pengobatan mereka dan beberapa, seperti Imhotep, tetap dikenang meskipun telah lama meninggal. Herodotus mengatakan bahwa terdapat pembagian spesialisasi yang tinggi di antara tabib-tabib Mesir; misalnya beberapa tabib hanya mengobati permasalahan pada kepala atau perut, sementara yang lain hanya mengobati masalah mata atau gigi. Pelatihan untuk tabib terletak di Per Ankh atau institusi “Rumah Kehidupan,” yang paling terkenal terletak di Per-Bastet semasa Kerajaan Baru dan di Abydos serta Saïs di Periode Akhir. Sebuah papirus medis menunjukkan bahwa bangsa Mesir memiliki pengetahuan empiris soal anatomi, luka, dan perawatannya. Luka-luka dirawat dengan cara membungkusnya dengan daging mentah, linen putih, jahitan, jaring, blok, dan kain yang dilumuri madu untuk mencegah infeksi. Mereka juga menggunakan opium untuk mengurangi rasa sakit.Bawang putih maupun merah dikonsumsi secara rutin untuk menjaga kesehatan dan dipercaya dapat mengurangi gejala asma.Ahli bedah mesir mampu menjahit luka, memperbaiki tulang yang patah, dan melakukan amputasi.Mereka juga mengetahui bahwa ada beberapa luka yang sangat serius sehingga yang dapat mereka lakukan hanyalah mebuat pasien merasa nyaman menjelang ajalnya.

 

  1. I.       Bahasa Mesir Kuno

Bahasa Mesir Kuno baru dapat dibaca di abad modern setelah ditemukannya sebuah prasasti perjanjian yang disebut dengan Batu Rosetta.Batu ini ditulis dengan bahasa Yunani Kuno, bahasa hieroglif, dan demotik.Bahasa demotik sendiri memiliki bentuk yang lebih sederhana dari hieroglif.Setelah Kerajaan Mesir Kuno runtuh, maka tidak ada yang dapat membaca huruf-huruf hieroglif, sehingga bahasa Mesir ini merupakan suatu “teka-teki” yang sulit dipecahkan.Sejak adanya batu Rosetta, sekarang bahasa Mesir kuno dapat dianalisa. Berikut para ahli membagi bahasa Mesir ke dalam enam tahap:

 

  1. J.      Sistem Ketuhanan/Dewa-Dewi Mesir Kuno

Perkembangan tradisi agama Mesir merupakan sebuah proses yang panjang terus menerus terganggu dan tidak terpengaruh oleh perkembangan peradaban lain. Sekitar 3000 SM agama resmi yang diakui Firaun sebagai sebagai dewa anak-inkarnasi dari dewa-anak. Itu tidak perlu, maka, untuk mencari kehendak atau mandat dari dewa matahari, perlu mandat yang diekspresikan melalui dewa/firaun. Keadilan tidak didasarkan pada kode hukum, tetapi pada keputusan Firaun sendiri, dibuat sesuai dengan adat. Mereka yang menolak firaun sebagai otoritas tertinggi  dalam hukum adalah pemberontak.[8]

Setiap wilayah di Mesir memiliki dewa sendiri, kota-kota atau desa di wilayah tersebut diakui eksistensinya secara lokal untuk kawasan Phanteons. Ciri yang paling mencolok dari tradisi keagamaan Mesir ialah tidak bersifat politeistik atau banyak dewa, tetapi agama Mesir dibedakan atas kemampuan yang luar biasa dari dewa nya. Dewa dan dewi Mesir diwakili baik sebagai hewan lengkap atau berbentuk manusia dan semi hewan atau semi manusia. Dengan demikian, Horus, adalah dewa wilayah Delta, diwakili dengan tubuh manusia dengan kepala elang. Dewi Hathor berkepala wanita, bertubuh sapi. Anubis menampilkan tubuh pria dan ibis. Dewi Sekhmet dibedakan oleh tubuh betina dan kepala singa betina. Tueris berkepala buaya, bertubuh kuda nil, berkaki singa, dan berlengan manusia. Dewa-dewa lain muncul sebagai hewan lengkap dalam bentuk buaya, kucing, katak, belut, kuda nil, dan sebagainya.[9]

Selain dewa matahari dan dewa yang dikaruniai dengan bentuk hewan, agama Mesir mengakui sejumlah dewa-dewa lainnya. Di antara mereka adalah dewa kosmik, seperti dewa bumi Geb, dewi langit Nut, dan dew udara Shu. Di antara dewa astral, dewa matahari Horus awalnya adalah yang paling menonjol. Bukan hanya dewa matahari, namun juga yang lain, termasuk Kheprer, Atum, dan Re (atau Ra), yang pada waktu itu dikalahkan Horus. Seperti halnya matahari yang terbit, Horus ini dilambangkan dengan sayap burung elang yang luas berpasangan. Setiap pagi muncul dari laut untuk melintasi langit, setiap malam ia turun melalui laut ke Dunia Bawah.[10]

Agama Mesir berkembang dengan baik. Mesir dianggap sebagai langit, bumi, sungai, dan sumber kehidupan matahari. Mereka dilambangkan sebagai manusia, hewan, dan gabungan antara manusia dan hewan. Simbol-simbol dari matahari, dewa tertinggi, memiliki nama yang berbeda untuk waktu yang berbeda pula. Isis dan Osiris adalah suami dan istri didewakan sebagai vitalitas diri yang memperbaharui di alam. Horus, anak Osiris dan Isis, yang dilambangkan oleh elang. Sebagai raja para dewa, ia berdiri untuk cahaya dan surga. Amon-Re, atau Ra, dikombinasikan dewa Thebes dengan dewa matahari siang. Ia dilambangkan oleh bentuk manusia dengan sebuah obelisk (sinar matahari). Aton, yang diperjuangkan oleh Firaun Akhenaton, adalah matahari, dilambangkan oleh disk. Akhenaton menyatakan bahwa dewa matahari, Aton adalah satu-satunya dewa yang ada.[11]

Berikut sedikit penjelasan tentang nama-nama dewa:

  1. Horus

In Egypt, the son of Isis and Osiris who opposed his uncle, Seth. Horus was also the sun, symbolized by a falcon.

  1. Amon-Re

A sun god of Egypt. His symbol was the obelisk, a ray of the sun. Amon, originally the god of Thebes, became highest god in 2000 BCE, when Thebes dominated all Egypt.

  1. Aton

In Egypt, this god’s symbol was a disk, representing the sun. After Akhenaton established his throne was the only god worshiped.

  1. Hathor

The Egyptian goddess who created the world. Her symbol was a woman’s body with the head of a cow

  1. Mayet

 (Maat) The Egyptian goddess of order and truth, who prompted the deceased at the time of judgement.[12]

 

Agama Mesir kuno menjadi agama rakyat, aturan-aturan didominasi oleh penguasa yang dianggap sebagai dewa (Bogardus, 1995: 28), ritual mereka lebih dikonsentrasikan pada dramitisasi kematian raja-raja (Bell, 1997: 5-6). Piramida-piramida merupakan manifestasi keyakinan mereka. Karya-karya seni yang mengakar dari simbol-simbol agama, tulisan-tulisan dalam dekorasi makammakam bernuansakan religius, kuil-kuil dijadikan sentral ilmu pengetahuan, kemakmuran dan energi dimanfaatkan untuk melanggengkan jasad setelah mati. Bagi rakyat jelata yang tidak dapat mengabadikan jasadnya dengan mumi, orientasi mereka diabdikan bukan untuk polilik, tetapi untuk keagamaan (Trever, 1963: 50). Perhatian mereka tentang keabadian jasad dipengaruhi oleh Osiris, orang pertama diabadikan jasadnya dengan mumi. Dia dianggap dewa Nil. Naik turunnya sungai Nil merupakan symbol kematian dan kebangkitan dewa ini dan diperingati setiap tahun. Mitologi tentang Osiris terus berkembang. Osiris yang dibunuh oleh dewa Seth dengan memotong-motong tubuh Osiris, kemudian disebar ke seluruh dataran lembah Nil. Isis yang merasa kehilangan, mengumpulkan kembali potongan-potongan jasad Osiris, akhirnya bangkit kembali dan menjadi abadi. Akhirnya Horus putra Osiris menuntut balas dengan menyerang Seth (Wallbank, 1949: 63).

Bangsa Mesir kuno mengambil banyak Tuhan. Di antaranya adalah Ra, yaitu dewa matahari. Osiris dewa air, Isis ibu yang agung. Di antara dewa-dewa tersebut Ra-lah yang paling penting. Akan tetapi setelah berada di kekuasaan Thebes, posisinya digantikan oleh dewa Anum atau dewa yang agung (supreme god) kemudian digabung menjadi Anum-Ra, Bangsa Mesir juga sudah mengenal nyanyian-nyanyian untuk memuja para dewa, seperti Hymn to the sun (Wallbank, 1949: 64).[13]

 

  1. K.    Rituals Mesir Kuno

Ritual yang berkembang pada saat itu disebut sebagai ritual Ozres yang meyakini bahwa setiap manusia baik raja atau rakyat biasa akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatannya selama hidup di dunia. Adapun yang memiliki wewenang untuk menjatuhkan putusan adalah Ozres yang di bantu oleh Dewa kebijaksanaan dan Ilmu yang bernama Taut, Onbez (Dewa pengubur mayat sekaligus penunjuk jalan di akhirat), Horez (anak Ozres), Ma’at (Dewa kebenaran dan keadilan) serta 42 hakim lainnya.

Dalam kepercayaan mesir kuno, jenazah orang mati akan diserahkan kepada Onbez untuk diambil hatinya kemudian diletakkan diatas piring neraca dan di sisi lainnya diletakkan miniatur dewa Ma’at. Kemudian dewa Taut berdiri disamping neraca melihat dan mencatat hasil timbangannya. Setelah itu diserahkan kepada Ozres yang berdiri didekat Dewa Amayit (dewa berkepala buaya dan berbadan singa, yang bertugas menerkam mayat yang memiliki catatan amal perbuatan buruk). Gambar hati yang ditimbang melambangkan amal dan perbuatan si mayyit selama hidup. Mereka menggunakan gambar hati karena menurut keyakinan mereka, hatilah yang menyaksikan semua perbuatan manusia selama hidup di dunia. [14]

 

 

 

  1. L.     Kesimpulan

Munculnya peradaban sangat terkait dengan eksistensi manusia dan kondisi lingkungan melalui interaksi aktif dan imaginatif. Secara umum Mesir adalah kawasan subur yang sangat mendukung terbentuknya masyarakat yang berbudaya dan berperadaban. Struktur social Mesir adalah konkrit, spesifik dan praktis. Peradaban di lembah Mesopotamia dan kawasan bulan sabit bersifat lebih non fisik jika dibanding dengan Mesir. Mesir lebih menonjolkan aspek religius. Sistem politik di kawasan Mesir, yaitu absolutism dan menganggap raja sebagai dewa, Efektivitas terbentuknya peradaban besar sangat ditentukan oleh kekuatan politik dan ekonomi. Para raja periode awal di Mesir adalah contoh lain yang menghasilkan banyak bangunan pyramid. Dalam bidang ilmu pengetahuan dan kesenian, Mesir bersifat aplikatif. Di Mesir doktrin agama lebih menonjol. Aspek ekonomi Mesir didasarkan pada pertanian dan perdagangan.

 

  1. M.   Daftar Pustaka

 

Umar, Mustofa, Mesopotamia dan Mesir Kuno; Awal Peradaban Dunia, El-Harakah: 2009. No. 3, Vol. 11,

 

sejarahnasionaldandunia.blogspot.com/2012/10/sejarah-mesir-kuno.html

 

Nigosian, S. A.  World Faiths, New York: St. Martin’s Press, 1990

 

Matthews, Warren, World Religions, Canada: Wadsworth Publishing Company, 1999

 

dewasastra.wordpress.com


[1] Johannes P. Schade (Editor), Encyclopedia of World Religions, Concord Publishing-Foreign Media Book, 2006, h. 289

[2] Mustofa Umar, Mesopotamia dan Mesir Kuno; Awal Peradaban Dunia, (El-Harakah: 2009)  Vol. 11, No. 3, h. 208

[3] Ibid; h. 211

[4] Ibid; h. 208-210

[6] Mustofa Umar, Mesopotamia dan Mesir Kuno; Awal Peradaban Dunia, (El-Harakah: 2009)  Vol. 11, No. 3, h. 210-211

[7] Ibid; h. 212-213

[8] S. A. Nigosian, World Faiths (New York: St. Martin’s Press, 1990), h. 25

[9] Ibid., h. 26

[10] Ibid., h. 26

[11] Warren Matthews, World Religions, (Canada: Wadsworth Publishing Company, 1999), h. 56

[12] Ibid., h. 56

[13]Mustofa Umar, Mesopotamia dan Mesir Kuno; Awal Peradaban Dunia, (El-Harakah: 2009)  Vol. 11, No. 3, h. 211-212

Agama Shinto

AGAMA SHINTO

 

  1. 1.      Sejarah dan Perkembangan Agama Shinto

Wilayah Jepang terdiri dari empat pulau besar, yaitu Hondo (Honsyu) dan Hokkaido (Ezo) dan Shikoku dan Kyushu, beserta ribual pulau kecil. Bentuk susunan sosial Jepang dewasa itu terdiri atas himpunan berbagai suku (Uji), yang satu persatu suku itu dibawah pimpinan seorang kepala suku (Uji No Kami). Negara Jepang itu sepanjang sejarah sering berbenturan dengan Korea dan Tiongkok dan pertempuran itu meniggalkan jejak pengaruh di Jepang.[1] Nama asli bagi agama itu ialah Kami no Michi, yang bermakna “jalan dewa”.

Agama Shinto di Jepang itu tumbuh dan hidup dan berkembang dalam lingkungan penduduk. Pada saat Jepang berbenturan dengan kebudayaan Tiongkok maka nama asli itu terdesak kebelakang oleh nama baru yaitu Shin-To. Nama baru itu perubahan dari Tien-Tao, yang bermakna “jalan langit”. Perubahan bunyi kata itu seperti halnya dengan aliran Chan, sebuah sekte agama Budha mazhab Mahayana di Tiongkok, menjadi aliran Zen sewaktu berkembang di Jepang. Dan nama Shinto itu sendiri baru dipergunakan untuk pertama kalinya untuk menyebut agama asli bangsa Jepang itu ketika agama Buddha dan agama konfusius (Tiongkok) sudah memasuki Jepang pada abad ke-6 M.

Shinto adalah kata majemuk daripada “Shin” dan “To”. Arti kata “Shin” adalah “roh” dan “To” adalah “jalan”. Jadi “Shinto” mempunyai arti lafdziah “jalannya roh”, baik roh-roh orang yang telah meninggal maupun roh-roh langit dan bumi. Kata “To” berdekatan dengan kata “Tao” dalam taoisme yang berarti “jalannya Dewa” atau “jalannya bumi dan langit”. Sedang kata “Shin” atau “Shen” identik dengan kata “Yin” dalam taoisme yang berarti gelap, basah, negatif dan sebagainya ; lawan dari kata “Yang”. Dengan melihat hubungan nama “Shinto” ini, maka kemungkinan besar Shintoisme dipengaruhi faham keagamaan dari Tiongkok. Sedangkan Shintoisme adalah faham yang berbau keagamaan yang khusus dianut oleh bangsa Jepang sampai sekarang.

Shintoisme merupakan filsafat religius yang bersifat tradisional sebagai warisan nenek moyang bangsa Jepang yang dijadikan pegangan hidup. Tidak hanya rakyat Jepang yang harus menaati ajaran Shintoisme melainkan juga pemerintahnya juga harus menjadi pewaris serta pelaksana agama dari ajaran ini. [2]

Agama Shinto didirikan mulai sekitar 2,500 – 3000 tahun yang lalu di Jepang. Agama ini memiliki 13 sekte dengan masing-masing pendirinya. Pengikutnya sekitar 30 Juta orang, dominasi di Jepang. Sebagian besar juga adalah penganut agama Buddha. Ada dua pemisahan utama. Pertama adalah tiga belas sekte-sekte kuno, hampir sama semuanya. Kedua adalah apa yang dikenal sebagai Shinto Negara, dan merupakan sinthesa kemudian yang menemukan ekspresi tertinggi pada pemujaan pada Kaisar dan kesetiaan pada Negara dan keluarga.

Agama Shinto itu berkenyakinan pada mitos bahwa bumi di Jepang itu diciptakan dewata yang pertama-tama dan bahwa Jimmu Tenno (660 SM), Kaisar Jepang yang pertama, adalah turunan langsung dari Amaterasu Omi Kami, yaitu dewi matahari, dalam perkawinannya dengan Taouki Lomi, yakni dewa bulan. Sekalian upacara dan kebaktian terpusat seluruhnya pada pokok keyakinan tersebut.

Sejarah perkembangan agama Shinto di Jepang dapat dibagi menjadi beberapa tahap massa :

  1. Masa perkembangannya dengan pengaruh yang mutlak sepenuhnya di Jepang, Yaitu dari tahun 660 SM – 552 M. kira-kira 12 abad lamanya.
  2. Masa agama Budha dan ajaran Konfusianisme dan ajaran Taoisme masuk ke Jepang, yaitu tahun 552 M sampai tahun 800 M, yang dalam masa dua setengah abad itu agama Shinto memperoleh persainga berat, pada tahun 645 M kaisar Kotoku merestui agama Buddha dan menyampingkan Kami no Michi. Sedangkan pada tahun 671 M sang Kaisar membelakangi dunia dan mengenangkan pakaian rahib.
  3. Masa sinkronisasi secara berangsur-angsur antara agama Shinto dengan tiga ajaran lainnya, yaitu dari tahun 800 M sampai 1700 M, yang masa dalam sembilan abad itu pada akhirnya lahir Ryobu Shinto yang didirikan oleh Kubo Daishi (774-835 M) dan Kita Batake Chikafuza (1293 – 1354 M) dan Ichijo Kanoyoshi (1465-1500 M).

 

Kemudian agama Shinto bercampur dengan agama Buddha demikian pula dengan agama Konghucu yang masuk ke jepang langsung dari tanah asalnya kira kira pada abad pertengahan ke 7, Tentang pengaruh agama Buddha yang lain nampak pada hal-hal seperti anggapan bahwa dewa-dewa Shintoisme merupakan Awatara Buddha (penjelmaan dari Buddha dan Bodhisatwa), Dainichi Nyorai (cahaya besar) merupakan figur yang disamakan dengan Waicana (salah satu dari dewa-dewa penjuru angin dalam Budhisme Mahayana), hal ini berlangsung sampai abad ke-17 M.

Ahirnya ketiga agama itu bergandengan bersama sampai sekarang, hal itu tidaklah aneh karena orang jepang tidak menolak kepercayaan apapun yang masuk negrinya, asalkan tidak menggangu keselamatan Negara, tujuan utama bagi pemeluk agama Shinto adalah kebahagiaan dalam kehidupan dunia, mereka menganggap bahwa orang yang sudah mati dapat membantu mereka dalam menjalankan hidup ini dari abad keabad kultus (kebaktian) terhadap roh nenek moyang selalu berubah bentuknya tetapi sifat kultus yang khas masih tetap sama.[3]

Setelah abad ke-17, timbul lagi gerakan untuk menghidupkan kembali ajaran Shinto murni di bawah pelopor Kamamobuchi, Motoori, Hirata, Narinaga dan lain-lain dengan tujuan bangsa Jepang ingin membedakan “Badsudo” (jalannya Buddha) dengan “Kami” (roh-roh yang dianggap dewa oleh bangsa Jepang) untuk mempertahankan kelangsungan kepercayaannya.

Pada abad ke-19 tepatnya tahun 1868 agama Shinto diproklamirkan menjadi agama negara yang pada saat itu agama Shinto mempunyai 10 sekte dan 21 juta pemeluknya. Sejak saat itu dapat dikatakan bahwa paham Shintoisme merupakan ajaran yang mengandung politik religius bagi Jepang, Sebab saat itu taat kepada ajaran Shinto berarti taat kepada kaisar dan berarti pula berbakti kepada negara dan politik negara.

 

 

  1. 2.      Ajaran dan Praktek Keagamaan Shinto
    1. A.    Ajaran Agama Shinto

Dalam agama Shinto yang merupakan perpaduan antara faham serba jiwa (animisme) dengan pemujaan terhadap gejala-gejala alam mempercayai bahwasanya semua benda baik yang hidup maupun yang mati dianggap memiliki ruh atau spirit, bahkan kadang-kadang dianggap pula berkemampuan untuk bicara, semua ruh atau spirit itu dianggap memiliki daya kekuasaan yang berpengaruh terhadap kehidupan mereka (penganut Shinto), daya-daya kekuasaan tersebut mereka puja dan disebut dengan “Kami”.

Istilah “Kami” dalam agama Shinto dapat diartikan dengan “di atas” atau “unggul”, maka kata “Kami” dapat dialih bahasakan (diartikan) dengan “Dewa” (Tuhan, God dan sebagainya). Dewa-dewa dalam agama Shinto jumlahnya tidak terbatas, bahkan senantiasa bertambah, hal ini diungkapkan dalam istilah “Yao-Yarozuno Kami” yang berarti “delapan miliun dewa”. Menurut agama Shinto kepercayaan terhadap berbilangnya tersebut justru dianggap mempunyai pengertian yang positif. Sebuah angka yang besar berarti menunjukkan bahwa para dewa itu memiliki sifat yang agung, maha sempurna, maha suci dan maha murah.

Pengikut-pengikut agama Shinto mempunyai semboyan yang berbunyi “Kami negara – no – mishi” yang artinya : tetap mencari jalan dewa. Kepercayaan kepada “Kami” daripada benda-benda dan seseorang, keluarga, suku, raja-raja sampai kepada “Kami” alam raya menimbulkan kepercayaan kepada dewa-dewa.Orang Jepang (Shinto) mengakui adanya dewa bumi dan dewa langit (dewa surgawi) dan dewa yang tertinggi adalah Dewi Matahari (Ameterasu Omikami) yang dikaitkan dengan pemberi kamakmuran dan kesejahteraan serta kemajuan dalam bidang pertanian.

Disamping itu, mereka juga mempercayai adanya kekuatan gaib yang mencelakakan, yakni hantu roh-roh jahat yang disebut dengan Aragami yang berarti roh yang ganas dan jahat. Dualistis satu sama lain saling berlawanan yakni “Kami” versus Aragami (Dewi melawan roh jahat) sebagaimana kepercayaan dualisme dalam agama Zarathustra.

Dari kutipan di atas dapat dilihat adanya tiga hal yang terdapat dalam konsepsi kedewaan agama Shinto, yaitu :

  1. Dewa-dewa yang pada umumnya merupakan personifikasi dari gejala-gejala alam itu dianggap dapat mendengar, melihat dan sebagainya sehingga harus dipuja secara langsung.
  2. Dewa-dewa tersebut dapat terjadi (penjelmaan) dari roh manusia yang sudah meninggal.
  3. Dewa-dewa tersebut dianggap mempunyai spirit (mitama) yang beremanasi dan berdiam di tempat-tempat suci di bumi dan mempengaruhi kehidupan manusia.

 

  1. B.     Praktek Keagamaan Shinto

Mengenai tata cara sembahyang atau doa dalam kuil Shinto sangat sederhana yaitu melemparakan sekeping uang logam sebagai sumbangan di depan altar, mencakupkan kedua tangan di dada dan selesai. Jadi semua proses berdoa yang dilakukan dengan berdiri ini tidak lebih dari sepuluh detik. Doa dilakukan tidak mengenal hari atau jam khusus jadi bebas dilakukan kapan saja. Sedikit catatan, bisa saya sebutkan bahwa tata cara doa di kuil Shinto dengan kuil Buddha sangatlah mirip. Yang sedikit berbeda adalah di kuil Buddha tangan dicakupkan ke depan dada dengan pelan, hening dan tanpa suara, sedangkan kuil Shinto adalah sebaliknya yaitu mencakupkan tangan dengan keras sehingga menghasilkan suara sebanyak dua kali (mirip tepuk tangan).

Walaupun aturan tata cara berdoa ini bisa disebut baku namun sama sekali tidaklah bersifat mengikat. Berdoa tepat di depan altara utama, dari halaman kuil, dari luar pintu gerbang, dilakukan tidak dengan mencakupkan tangan namun membungkukan badan atau bahkan tidak berdoa sama sekali bukanlah masalah sama sekali.

Agama Shinto sangat mementingkan ritus-ritus dan memberikan nilai sangat tinggi terhadap ritus yang sangat mistis. Menurut agama Shinto watak manusia pada dasarnya adalah baik dan bersih. Adapun jelek dan kotor adalah pertumbuhan kedua, dan merupakan keadaan negatif yang harus dihilangkan melalui upacara pensucian (Harae). Karena itu agama Shinto sering dikatakan sebagai agama yang dimulai dengan dengan pensucian dan diakhiri dengan pensucian. Upacara pensucian (Harae) senantiasa dilakukan mendahului pelaksanaan upacara-upacara yang lain dalam agama Shinto. Atas pengaruh ajaran kebersihan atau kesucian ini, maka soal “mandi” termasuk perbuatan utama, sehingga dijadikan salah satu upacara keagamaan. Kamar atau tempat mandi dipandang sebagai tempat menarik hati bagi semua orang, sedangkan waktu mandi ditetapkan menjadi tradisi, misalnya 2 jam diwaktu sore anatara jam 17.00 dan 19.00 sebelum makan malam. Banyak terdapat uapaca-upacara ditetapkan dengan melalui pemandian. [4]

Ritus-ritus yang dilakukan dalam agama Shinto terutama adalah untuk memuja dewi Matahari (Ameterasu Omikami) yang dikaitkan dengan kemakmuran dan kesejahteraan serta kemajuan dalam bidang pertanian (beras), yang dilakukan rakyat Jepang pada Bulan Juli dan Agustus di atas gunung Fujiyama.

Upacara resmi dan bersifat menyeluruh bagi bangsa Jepang di pusatkan di kui Ise, yang terletak pada pesisir tenggara Kyoto, pemujaan terhadap Amaterasu Omi Kami (dewi matahari). Tepatnya berada dikuil Naiku, kuil tua yang terletak pada bagian dalam dank anon dibangun pada tahun 4 SM, kuil itu sangat terpandang suci bagi pemujaan Dewi Matahari, sedangkan pada bagian luar terdapat kuil Geku bagi pemujaan Dewi Makanan, Dewi Ukemochi. Seorang Shinto atau seorang Buddha di Jepang, merasa suatu kewajiban untuk sekali dalam seumur hidupnya pergi ziarah ketempat suci di Ise itu.

Pada setiapa hari kelahiran kaisar, seluruh lembaga pendidikan di Jepang, atas perintah resmi, melakukan uapacara yang kidmat dengan menundukan diri di depan gambar sang Kaisar. Kaisar itu dipandang suatu yang sangat sakral.

Akan tetapi sehabis perang dunia kedua, maka perubahan besar terjadi pada kekuasaan Kaisar yang absolut itu telah digantikan kekuasaan rakyat melalui sitem pemilihan umum, dan kaisar sudah ditempatkan pada lambang belaka, yang kini bukan lagi suatu yang sakral akan tetapi dipandang sebagai manusia biasa, yang saat ini sudah bias bergaul dengan masyarakat umum, sebuah keyakinan azasi dalam agama Shinto itu telah menghilang tempat untuk berpijak.[5]

 

  1. 3.      Kitab Suci Agama Shinto

Dalam agama Shinto ada dua kitab suci yang tertua, tetapi di susun sepuluh abad sepeninggal jimmi temmo (660 SM), kaisar jepang yang pertama. Dan dua buah lagi di susun pada masa yang lebih belakangan, keempat empat kitab tiu adalah sebagi berikut :

  1. Kojiki – yang bermakna : catatan peristiwa purbakala. Disusun pada tahun 712 masehi, sesudah kekaisaran jepang berkedudukan di nara, yang ibukota nara itu di bangun pada tahun 710 masehi menuruti model ibukota changan di tiongkok.
  2. Nihonji –  yang bermakna : riwayat jepang. Di susun pada tahun 720 masehi oleh penulis yang sama degan di Bantu oelh seorang pangeran di istana.
  3. Yeghisiki –  yang bermakna : berbagai lembaga pada masa yengi, kitab ini disusun pada abad kesepuluh masehi terdiri atas 50 bab. Sepuluh bab yang pertama berisikan ulasan kisah kisah yang bersifat kultus, disusuli dengan peristiwa selanjutnya sampai abad kesepuluh masehi, tetapi inti isinya adalah 25 norito yakni do’a do’a pujaan yang sangat panjang pada berbagai upacara keagamaan.
  4. Manyosiu –  yang bermakan : himpunan sepuluh ribu daun, berisikan bunga rampai, yang terdiri atas 4496 buah sajak, disusun antara abad kelima dengan abad kedelapan masehi.

Kitab 1 dan 2  itu menguraikan tentang alam kayangan kehidupan para dewa dan dewi sampai kepada Amaterasu Omi Kami (dewa matahari) dan Tsukiyomi (dewa bulan). Diangkat untuk menguasai langit dan putranya Jimmu Tenno diangkat untuk menguasai tanah yang subur (bumi Jepang) lalu disusul dengan sisilah turunan Kaisar Jepang itu beserta riwayat hidup satu persatuanya.Selanjutnya upacara-upacara keagamaan yang dilakukan dalam masa yang panjang itu, dan berkenaan dengan pemujaan terhadap Kaisar beserta para dewa dan dewinya. Dan di dalam kata pendahuluan itu dalam kitab Kojiki, penulisnya menyatakan bahwa dia seorang bangsawan tingkat lima di istana, yang menerima perintah Kaisar untuk menyusun riwayat hidupnya dan silsilah keturunan Kaisar.

Dan kitab 3 dan 4 berisikan tentang kisah-kisah legendaris, nyanyian-nyanyian kepahlawanan, beserta sajak-sajak tentang asal usul kedewaan, asal usul kepulauan Jepang dan kerajaan Jepang. Ragam hal-hal kisah yang berkaitan tentang kehidupan para dewa dan para dewi dalam kayangan dilangit.Catatan peristiwa pada masa-masa terakhir barulah dilanjutkan dengan kisah sejarah. [6]

 

  1. 4.      Sekte-sekte Agama Shinto

Secara umum Shinto bisa dikelompokkan menjadi 4 bagian atau kelompok. Yang masing masing mempunyai keunikannya tersendiri.

 

  1. a.      Imperial Shinto (Kyuchu Shinto atau Koshitsu Shinto).

Shinto kelompok ini sangat eksklusif dan tidak umum ditemukan. Memiliki beberapa kuil saja yang kalau tidak salah 5 buah di seluruh negeri. Nama kuil ini biasanya berakhir dengan nama Jingu, misalnya Heinan Jingu, Meiji Jingu, Ise Jingu dll. Kuil Shinto kelompok ini selain berfungsi sebagai tempat untuk memuja Kami juga berfungsi sebagai tempat memuja leluhur khususnya keluarga kerajaan. Salah satu dari kuil ini dibangun khusus untuk menghormati dewa Matahari.

 

  1. b.      Folk Shinto (Minzoku Shinto)

Mithologi tentang Kojiki, cerita terbentuknya pulau Jepang dan cerita tentang dewa dewa lain adalah ciri khas dari Shinto kelompok ini. Jadi Folk Shinto adalah kepercayaan Shinto yang meliputi cerita tua, legenda, hikayat dan cerita sejarah. Kuil Kibitsu Jinja yang terletak di daerah Okayama, Jepang tengah adalah salah satu contoh menarik karena dibangun untuk menghormati tokoh utama dalam cerita rakyat yaitu Momo Taro. Disamping itu Shinto kelompok ini juga mendapat pengaruh yang kuat dari agama Buddha, Konghucu, Tao dan ajaran penduduk local seperti Shamanism, praktek penyembuhan dan lain-lain. Kuil kelompok ini biasanya mudah dibedakan dengan kuil lainya karena adanya sejarah pendirian kuil yang unik. Jadi jangan kaget kalau Anda menemukan kuil yang penuh dengan ornament dan pernak pernik kucing atau binatang dan benda lainya karena sejarah pendiriannya yang memang berkaitan dengan binatang tersebut.

 

  1. c.       Sect Shinto (Kyoha atau Shuha Shinto)

Shinto kelompok ini mulai muncul pada abad ke 19 dan sampai saat ini memiliki kurang lebih 13 sekte. Dua diantara sekte ini yang cukup banyak pengikutnya adalah Tenrikyo atau Kenkokyo. Keberadaan dari Sect Shinto ini cukup unik karena memiliki ajaran, doktrin, pemimpin atau pendiri yang dianggap sebagai nabi dan yang terpenting biasanya menggolongkan diri dengan tegas sebagai penganut monotheisme. Shinto golongan ini sepertinya jarang dibahas ataupun kurang dikenal oleh kebanyakan orang.sehingga konsep monotheisme dari shinto aliran baru nyaris luput dari tulisan kebanyakan orang.

 

 

  1. d.      Shrine Shinto (Jinja Shinto)

Dari semua kelompok kuil Shinto yang ada, kelompok inilah yang sepertinya paling mudah untuk ditemukan. Diperkirakan saat ini ada sekitar 80 ribuan kuil yang ada di seluruh negeri dan semuanya tergabung dalam satu organisasi besar yaitu Association of Shinto Shrines.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arifin, Muhammad, H, Prof, M.Ed, Mengguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, GT. Press, Jakarta.

Sou’yb. Joesoef.Agama-agama besar di dunia.PT. Al-Huzna Zikra. Jakarta, cet. Ke-3 1996

http://hmjperbandinganagama.blogspot.com/2011/03/agama-shinto.html diakses pada Maret 2013, pukul 15:45

 

 

 

 

 

 

 

 


[1]  Joesoef Sou’yb, Agama-agama Besar di Dunia (Jakarta: Al Husna Zikra, 1996), h. 207.

[2] Prof. H.M. Arifin. M.Fd. Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar, h. 47.

[4]Ibid ., h. 53.

[5] Joesoef Sou’yb. Agama-agama Besar di Dunia, h. 213.

[6] Joesoef Sou’yb. Agama-agama Besar di Dunia, hal. 212

Agama Sikh

PENDAHULUAN

 

Sejak awal kehidupan manusia selama berabad-abad tahun lamanya merupakan bukti nyata sejarah peradaban manusia masa lalu yang bernilai tinggi. Peradaban kuno dalam pembahasan materi sebelumnya, banyak sekali peninggalan yang sangat luar biasa, seperti kebudayaan, bangunan, ataupun dalam bidang sosial serta agamanya yang mungkin peninggalan-peninggalan tersebut merupakan bentuk dari implementasi ritual kepercayaan mereka pada saat itu yang telah punah ataupun masih ada yang bertahan meskipun dalam golongan yang minoritas sebagai suatu studi yang masih diteliti hingga saat ini.

Terkait masalah agama, makalah ini akan membahas mengenai agama Sikh. Sebagaimana kita ketahui, bahwa agama ini muncul di daratan India, tepatnya di Punjab, yang merupakan negara yang banyak memunculkan agama-agama, khususnya sebagai reaksi mereka teradap sosial kultural masyarakat India pada masa itu, seperti Hindu, Buddha, Jain, dan sebagainya termasuk yang akan dibahas dalam makalah ini. Agama Sikh ini muncul tidak seperti kemunculan agama-agama kuno sebelumnya. Agama ini ada setelah hadirnya agama Hindu dan Islam, lahir dan mulai berkembang bersamaan waktunya dengan kelahiran agama Protestan di Eropa, tepatnya yaitu pada akhir abad ke-19 M. Sehingga konsep ajaran agamnya sudah sangat sistematis baik mengenai Ketuhananya, ritualnya, dan sebagainya.

Dalam makalah ini akan dijelaskan bagaimana sejarah awal kemunculannya serta perkembangan mengenai eksistensi agama Sikh  itu sendiri. Selain itu, dibahas pula mengenai ajaran dan praktek keagamaannya sebagai bagian esensi yang tak terpisahkan di dalam suatu agama tersebut.

 

 

PEMBAHASAN

 

  1. 1.      Sejarah dan Perkembangan Agama Sikh

Anak benua Indo-Pakistan tercatat sebagai tempat kelahiran berbagai agama besar. Salah satu diantaranya ialah agama Sikh, tepatnya wilayah bagian Punjab, yang dalam literatur-literatur Barat disebut The Sikh Religion atau The Religion of Sikh atau Sikhism yang bisa diterjemahkan menjadi Sikhisme. Agama-agama lainnya adalah Hinduisme, Jainisme, Buddhisme dan sejumlah besar aliran atau sekte keagamaan lainnya.[1]

Di tempat ini pula Ahmadiyah muncul pada pertengahan abad ke-19. Hingga sekarang daerah Punjab merupakan wilayah kediaman sebagian besar pengikut agama Sikh atau Sikha, yang menurut catatan paling akhir berjumlah sekitar 16 juta jiwa atau sekitar 2% dari seluruh penduduk India saat ini.[2]

Orang-orang Sikh adalah suatu ras yang luar biasa. Jumlah seluruhnya di dunia ini kurang lebih ada 10 juta orang. Segala sesuatu tentang mereka ini luar biasa, pakaian mereka, sejarah mereka, dan terutama sekali adalah kelahiran mereka.

Sebelum diadakan pemisahan India, kebanyakan orang Sikh hidup di daerah Punjab (daerah yang mempunyai lima sungai), suatu propinsi yang luas, terletak di bagian utara India. Sejak pemisahan India di tahun 1974, lebih dari 2 juta orang Sikh harus meninggalkan rumah dan kampung halaman dan kekayaan mereka di daerah yang diserahkan kepada Pakistan. Mayoritas orang Sikh sekarang berada di Punjab Timur yang menjadi milik India.

Agama Sikh bermula di Sultanpur, berhampiran Amritsar di wilayah Punjab, India. Pengasas agama ini ialah Guru Nanak (1469-1539), Selepas beliau meninggal dunia, penggantinya juga diberi pangkat guru. Sebanyak sepuluh guru telah mengambil alih tempat beliau dan secara perlahan-lahan. Rangkaian ini berakhir pada tahun 1708 selepas kematian Gobind Singh yang tidak meninggalkan pengganti manusia tetapi meninggalkan satu himpunan skrip suci yang dipanggil Adi Granth. Skrip ini kemudian diberi nama Guru Granth Sahib. Gobind Singh juga telah menumbuhkan sebuah persatuan “Persaudaraan Khalsa Sikh” dan memulakan pemakaian seragam untuk lelaki Sikh yang taat kepada agamanya yang diberi gelaran “Lima K”. Agama Sikhisme adalah agama keenam terbesar di dunia, dengan lebih daripada 23 juta penganut.[3]

Kepercayaan Sikh, atau lebih dikenal dengan nama “Khlasa” atau “yang murni” berasal dari agama Hindu, muncul dalam tahun 1699 M dan dianggap sebagai kepercayaan yang paling kontemporer di dunia ini.[4]

Agama Sikh lahir dan mulai berkembang bersamaan waktunya dengan kelahiran agama Protestan di Eropa, yaitu di akhir abad ke-19 M. Guru Nanak sendiri hanya empat belas tahun lebih tua dari pada Martin Luther, pendiri Agama Protestan itu. motivasi kelahirannya juga senada dengan kelahiran Protestan. Kalau Protestan lahir sebagai reaksi terhadap eksistensi dan kekuasaan gereja Katolik Roma di daratan Eropa, maka Agama Sikh lahir sebagai reaksi terhadap Agama Brahma atau Hinduisme.

Agama Sikh semenjak kelahirannya sekitar lima abad yang lalu, sampai sekarang masih tetap menarik perhatian para peminat penelitian agama. Hal ini bukan saja karena keunikan tokoh pendirinya, perjalanan sejarah perkembangannya dan seluk-beluk hubungannya dengan berbagai agama lain, tetapi juga karena peristiwa-peristiwa sejarah, baik yang bersifat keagamaan maupun politik, yang langsung diperankannya.

Agama Sikh itu bermakna: para Murid. Agama Sikh bermakna Agama para Murid. Dimaksudkan ialah para Murid dari pembangun agama Sikh itu. Oleh karena sang Guru itu pada masa belakangan dikultuskan sebagai penjelmaan Tuhan di bumi maka pengertian para Murid itu dimaknakan dengan Murid Tuhan.[5]

Sikh berarti murid, dan Sikha berarti murid atau pengikut Sikh. Ada juga yang mengartikan Sikh sebagai “suatu masyarakat agama di India dan Pakistan” atau suatu sekte keagamaan yang berasal dari penyelewengan terhadap “Bramanis-Hinduisme.” Agama Sikh dikatakan juga sebagai agama “sinkretis” karena ia didirikan dengan maksud “memperdamaikan antara Islam dan Hinduisme.” Di India Islam menggabungkan diri dengan agama Hindu dengan menciptakan agama Sikh.[6]

Agama Sikh bersifat sinkronisasi antara agama Hindu dengan agama Islam. Dewasa ini, anak benua India berada di bawah kekuasaan imperium Moghul (1526-1858 M), imperium Islam yang berkedudukan di ibukota Delhi. Sebelum kedatangan Guru Nanak itu maka ikhtiar ke arah sinkronisasi antara agama Hindu dengan agama Islam itu telah dimulai lebih dahulu oleh Kabir (1488-1512 M), seorang penyair India, hingga himpunan sajaknya dimasukkan menjadi bagian di dalam Kitab Suci agama Sikh itu. [7]

Lambang khusus para penganut agama Sikh itu adalah Lima Kukka, yaitu: Kes (rambut- panjang tak dicukur, yang dililit dengan kain), Kunga (sisir-kayu, bagi keperluan rambut tersebut), Kach (celana-dalam berwarna putih, celana panjang lutut yang khusus untuk kelincahan), Kara (gelang besi di tangan untuk pengekangan diri), dan Khanda (pisau belati bermata dua untuk pertahanan diri). Lambang khusus itu ditaati oleh setiap penganut agama Sikh.[8]

Memang, baik dari segi sosial dan politik, maupun dari sudut pandangan agama, agama Sikh sungguh-sungguh menentang pengaruh Brahmana dan sistem kasta yang diajarkannya. Mungkin pendapat yang mengatakan bahwa ia lebih dekat kepada Islam daripada Hinduisme ada benarnya.

Pengikut Guru Nanak, pendiri agama Sikh, yang beragama Hindu tidak dianggap sebagai penganut politeisme, karena mereka mengatakan bahwa mereka adalah penganut kepercayaan yang monoteis. Kenyataan ini dapat dianggap sebagai pertanda bahwa agama Sikh lebih merupakan agama yang mencoba menyatukan ajaran monoteis Islam dengan politeis Hinduisme. Oleh sebab itu, dari satu segi, adalah menarik juga kalau banyak di antara penulis biografi Guru Nanak menganggap Sikh sebagai suatu agama damai atau agama kedamaian, sementara, dari segi lain, orang dapat menyangkal pandangan ini.

Sejarah mencatat bagaimana getolnya kaum Sikh melakukan berbagai peperangan dan betapa militannya mereka melakukan gerakan-gerakan kekerasan. Mereka menimbulkan benturan-benturan yang menodai sejarah dan menggoyahkan haluan hidupnya semenjak aspirasi politik mulai mempengaruhi mereka di bawah pembinaan guru yang ke lima, Guru Arjun.

Adalah aneh, hubungan rohaninya dengan Islam dan Hindu banyak jalinkelindannya, akan tetapi dengan Buddhisme dan Kristen jarang terdengar komentar. Hanya Guru Govind Singh yang terlihat berusaha menarik minat umat Buddha dan pengikut Kristen. Dia sendiri, melalui pernyataan dan perbuatannya, tampak agak terpengaruh oleh kedua agama tersebut. Hal ini mungkin dapat dianggap memperkokoh kedudukan Sikh sebagai agama sinkritis.

Memang, agama Sikh bukan Hinduisme dan bukan pula Islam. agama tersebut adalah “Agama Guru dan Murid.” Pada waktu Nanak pergi naik haji ke Mekah, pakaian umrah yang dikenakannya berwarna biru, menyalahi pakaian umrah yang biasa berlaku, yaitu putih. Nanak sendiri pada waktu umrah berlagak seperti seorang darwis atau fakir yang minta-minta. Ketika ia pergi ke Ceylon, raja Ceylon saat itu ingin mendapatkan kepastian tentang agama Nanak : apakah Muslim atau Hindu. Ketika hal tersebut ditanyakan kepadanya, ia menjawab: “The True Guru has solved the problem of two ways. It is he, who fixed attention on one God, and whose mind wave-reth not, who can understand it.” Nanak mengaggap dirinya sungguh-sungguh telah menjadi seorang guru yang mengajarkan suatu agama atau kepercayaan baru, yaitu “Tidak ada Hindu dan Tidah ada Muslim.[9]

 

  1. A.    Pendiri Agama Sikh

Pendiri Agama Sikh adalah Guru Nanak. Riwayat hidupnya yang lengkap termuat dalam sebuah buku yang dikenal dengan nama Janam Sakhis, Kisah-kisah Kehidupan. Max Arthur Macauliffe menulis sebuah buku yang berjudul The Sikh Religion: It’s Gurus, Sacred Writings and Authors, 6 jilid (London: Oxford University Press, 1909), yang memuat terjemahan lengkap Janam Sakhis tersebut.

Guru Nanak dilahirkan di Talwandi Rai Bhoe, sebuah desa kecil di tepi sungai Ravi, sekitar empat kilometer sebelah barat Lahore, ibu kota wilayah Punjab, pada tanggal 15 April 1469. Desa tersebut sekarang dikenal dengan nama Nankana Sahib, yang berarti “desa tempat kelahiran Nanak.” Dari sudut kacamata Hindu, orang tuanya memiliki kasta Ksatria. Ayahnya, Mehta Kalu, adalah seorang Patwari, atau Akuntan desa, yang bekerja pada perusahaan milik Rai Bular, seorang Muslim, pemilik tanah yang luas di desa itu. Ibunya, Tripta, adalah seorang Hindu yang fanatik. Mereka adalah keturunan suku Khattri yang termasuk bangsa Arya. Oleh sebab itu agama Sikh dikategorikan sebagai agama yang lahir atau berasal dari bangsa Arya, sebagaimana halnya agama Hindu, Jain dan Zoroaster.

Seperti halnya cerita atau riwayat hidup para pendiri agama-agama lain, khususnya pendiri-pendiri agama bukan wahyu, riwayat hidup Guru Nanak juga diwarnai oleh cerita-cerita yang penuh dengan keajaiban.

Diceritakan, bahwa Nanak adalah seorang yang cerdas. Pada umur yang sangat muda yaitu 5 tahun ia sudah mulai berbicara tentang Tuhan dan bicaranya yang lancar ini dikagumi oleh semua orang.[10] Pada usia tujuh tahun ia diserahkan kepada seorang guru desa untuk belajar membaca dan berhitung. Karena kepintarannya, dalam waktu singkat ia berhasil menguasai kedua dasar pengatahuan pokok itu. Selanjutnya ia diserahkan kepada seorang Maulavi desa untuk belajar bahasa Persia dan Arab. Di samping itu, menurut cerita, ia juga belajar al-Qur’an dan Sastra Arab atau sastra Islam pada Sayyid Hasan, seorang guru sufi pada waktu itu.[11]

Kemudian ia dikirim  kepada seorang Brahmin untuk mempelajari buku-buku Veda dan Sastra, tetapi di sini juga ia tidak belajar lama. Setelah sudah agak mahir dalam bahasa Parsi, ia meninggalkan sekolah dan menggabungkan diri dengan orang-orang suci. Ia diajarkan bahasa Persia dan kesusastraan Islam oleh Rukn ud-Din, guru bahasa Persia. Dari pengetahuan bahasa Persia ini sejumlah Syair ditulisnya dalam bahasa tersebut dan terdapat dalam Adi Granth yaitu Kitab Suci Agama Sikh.

Bebarapa tahun kemudian, ketika Nanak mencapai usia yang menurut tradisi Hindu harus mengikuti upacara Upayanama (inisiasi) untuk menerima tanda pensucian, ia menolak segala upacara itu, termasuk memakai tanda pensucian bagi dirinya. Karena sikapnya yang menentang itu, para pendeta merasa tersinggung dan memperingatkan Nanak agar bersedia mengikuti upacara inisiasi atas dirinya. Akan tetapi Nanak tetap menolak dan para pendeta tidak berhasil memaksanya.

Nanak selalu melawan adat-istiadat kolot agama Hindu sehingga pada umur 9 tahun ketika ia hendak dikalungi benang keagamaan di lehernya pada upacara Yajnopayitam, ia menolak dengan tegas dan meminta penjelasan akan guna benang tersebut. Setelah dijelaskan oleh pendita keluarganya bahwa benang tersebut adalah lambang agama Hindu dan bahwa tanpa benang tersebut seorang Hindu dari kasta tinggi bisa kehilangan hak-hak kekastaannya, ia makin keras menolak dianugrahi benang tersebut.[12]

Sejak semula Nanak sudah kelihatan sebagai orang yang nantinya akan tumbuh menjadi seorang perenung, senang bermeditasi, menjalani hidup dan kehidupan mistik. Ayahnya berusaha menjauhkannya dari kesenangan merenung tersebut dengan memberinya kesibukan dan mencarinya pekerjaan, karena ayahnya bercita-cita agar Nanak menjadi seorang pengusaha yang berhasil nantinya. Akan tetapi semua usaha ayahnya gagal.

Nanak bahkan bertambah lari ke kehidupan  meditatif. Ia makin lama makin tenggelam dalam kehidupan menyendiri dan berkontempalasi, dan ayahnya gagal mengalihkan perhatiannya kepada dunia usaha dan kesibukan duniawi.[13] Tindakan ini sangat menusuk hati ayahnya yang berusaha keras agar anaknya merubah pendirinya dan menjadi seorang pedagang.[14]

Jiwa Nanak memang sudah mencari Tuhan, sebab ia sama sekali tidak tertarik pada bermacam-macam pekerjaan yang diberikan oleh ayahnya –mencangkul di ladang, bekerja di toko kecil, dan sebagainya. Ia menggunakan setiap kesempatan untuk menyelinap pergi ke tempat-tempat sunyi di mana ia dapat merasakan kesatuan dan keindahan alam dan mencari Tuhan, yang berkat cintaNya telah menganyam pola indah yang tiada taranya ini.

 Kemudian pada umur yang masih belia yaitu 16 tahun, ia dikawinkan oleh orang tuanya dengan maksud mengalihkan pikirannya dari hal-hal yang khayali. Tetapi usaha orang tuanya ini pun nyatanya tidak berhasil. Sebab, pada waktu ibunya dengan putus asa meminta agar ia menghentikan meditasinya, ia tidur selama empat hari berturut-turut dengan ancaman bahwa ia akan mati bila nama Tuhan dilarang mengucapkannya. 

Guru Nanak menghabiskan sisa-sisa hidupnya di Kartarpur, tempat jamaah-jamaah besarnya selalu hadir mendengarkan dia berkhotbah. Setiap orang yang melihat dan mendengar khitbahnya selalu terpesona oleh kesalehan dan kepribadiannya yang luar biasa, juga kesucian jiwanya yang sangat kentara dalam setiap tingkah lakunya. Dikatakan, bahwa ia benar-benar merupakan hamba Tuhan dan kemanusiaan.

Pada hari wafatnya, yang bertepatan dengan tanggal 22 September 1539, pada usia 70 tahun. Suatu perselisihan dan pertengkaran diceritakan terjadi antara kaum Hindu dan umat Islam. masing-masing pihak menuntut bahwa pihaknyalah yang berhak merawat jenazahnya sesuai dengan ajaran yang dianutnya.

Kaum Hindu mengatakan, bahwa Nanak adalah orang Hindu, sebab dilahirkan di rumah dan kelurga Hindu; sementara umat Islam mengatakan, bahwa Nanak adalah seorang Muslim karena percaya pada syahadat Islam dan sudah melaksanakan rukun Islam yang kelima, yaitu haji. Pertengkaran itu berakhir dengan sendirinya, karena sewaktu mereka membuka penutup jenazah Nanak, mereka hanya menemukan setumpuk kembang dan tidak mendapati jasadnya.[15]

 

  1. B.     Sejarah dan Guru-guru Agama Sikh

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Guru Nanak oleh para pengikut dan penganut agama Sikh diakui sebagai Guru Agung, Guru Utama Yang Suci, yang telah melahirkan dan mengajarkan satu agama yang sangat berbeda dengan agama Hindu atau Hinduisme.

Malahan, ide-ide keagamaannya hampir sama dengan ide-ide keislaman, terutama dari segi mistik. Itulah sebabnya Guru Nanak juga dikatakan sebagai seorang sufi.

Akan tetapi, agama Sikh mengalami perjalanan sejarah yang ironis. Bersamaan dengan perjalanan waktu yang dilalui orang-orang Sikh yang menyebut diri mereka sebagai pengikut setia Guru Nanak, mulai semakin dekat kepada Hinduisme dan sebaliknya semakin asing dari Islam. Hal ini dimungkinkan oleh adanya tiga faktor utama:

  1. Setelah Nanak meninggal dunia banyak pengikut Nanak menghimpun diri dalam satu golongan atau sekte tersendiri, meskipun Guru Nanak tidak secara terang-terangan menyatakan telah membawa agama baru dan tidak membentuk satu masyarakat terpisah dari penganut-penganut agama lain.
  2. Kebanyakan dari pengikut agama Sikh berasal dari penganut agama Hindu yang masih mengikuti ajaran dan praktek keagamaan yang lama. Mereka juga lebih dekat dengan hubungannya dengan agama lainnya daripada Islam.
  3. Konflik-konflik politik antara kaum Sikh dengan penguasa kerajaan Mongol membuat mereka benci kepada Islam dan umat Islam pada umumnya. Oleh karena itu mereka lebih dekat dengan orang-orang Hindu dan menjadikannya satu sekte dari Hinduisme. Hal ini terlihat setelah Sikh berada di bawah kepemimpinan guru ke lima mereka.

 

Sampai dewasa ini, pengikut agama Sikh mempercayai dan mengikuti sepuluh orang guru yang sangat besar peranannya dalam sejarah agama Sikh. Mereka terdiri dari Guru Nanak, sebagai pelopor dan Guru Agung yang suci itu, beserta sembilan orang guru penggantinya secara berturut-turut. Kesembilan guru tersebut masing-masing berkuasa penuh selama masa jabatannya untuk mengemdalikan ke mana agama dan umat Sikh akan dibawa.

Berikut adalah sepuluh urutan masing-masing guru Sikh beserta peranan masing-masing dalam perjalanan sejarah agama Sikh:

  1. Guru Nanak.
  2. Guru Angarh (1539-1552).
  3. Amar Das (1552-1574).
  4. Ram Das (1574-1581).
  5. Arjun (1581-1606)
  6. Har Gobind (1606-1645)
  7. Har Rai (1645-1661)
  8. Hari Krishen (1661-1664)
  9. Tegh Bahadur (1664-1675)
  10. Govind Singh (1675-1708)

 

  1. C.    Perang Sikh
    1. Perang Sikh Pertama (1845-1846)

Menjelang pertengahan abad ke-19, pengikut agama Sikh sudah semakin besar jumlahnya dan kekuatannya juga sudah semakin teratur. Dibawah Govind Singh dan Ranjit Singh mereka berhasil menaklukan dan perluasan wilayah sampai ke bagian selatan India, wilayah Asam. Perjanjian persahabatan dengan penjajah Inggris tahun 1809 merupakan hal yang paling menguntungkan Sikh. Eksistensinya semakin kokoh dan mulai diperhitungkan oleh Inggris. Dalam perjanjian tersebut, kaum Sikh mengakui sungai Sutlej sebagai batas paling selatan daerah kekuasaan mereka yang memisahkannya dari daerah kekuasaan Inggris.

Kaum Sikh mulai melupakan perjanjian mereka dengan Inggris dan mulai merasa ketakutan. Pada tahun 1845, mereka mendahului menyerang Inggris dengan menyebrangi sungai Sultej dan berusaha merampas wilayah pinggiran sungai yang dikuasai Inggris itu. dalam penyebrangan ini mereka mengalami kekalahan besar, dan pada tahun 1846 mereka terpaksa menerima semacam perlindungan dari Inggri, setelah dipaksa menyerahkan Kasymir kepada Inggris.

 

  1. Perang Sikh Kedua (1848-1849)

Kekalahan yang diderita kaum Sikh yang pertama menimbulkan dendam kepada Inggris.  Maka pada tahun 1848 mereka kembali mengarahkan kekuatan untuk berperang terhadap Inggris.

Perang ini tidak sedahsyat perang yang pertama, sehingga peperangan ini dengan mudah dimenangkan oleh Inggris, dan akibatnya kaum Sikh terpaksa menyerahkan seluruh daerah mereka untuk digabungkan ke dalam wilayah Inggris.

Sehingga  Maha Raja Duplih Singh, raja terakhir kerajaan Sikh, menyatakan tunduk di bawah kekuasaan Inggris. Duplih Singh pernah menghadiahkan Koh-i-Nur, permata terbesar kepada Ratu Inggris dan kemudian dijadikan hiasan mahkota Ratu Inggris, Ratu Victoria (1837-1901). Ratu ini dijuluki sebagai Ratu Penakluk India, karena di bawah pemerintahannya Inggris berhasil secara tuntas menumbangkan kekuasaan kekaisaran Mughal dan merampas ibukotanya, Delhi, tahun 1858 dari tangan Sultan Bahadur II (1838-1858).

Semenjak kekalahan kaum Sikh dalam perang kedua ini, mereka tidak pernah lagi tampil sebagai kekuatan yang menantang kekuasaan Inggris di India. Sebaliknya, banyak di antara kaum Sikh militan, pengikut Govind Singh, memihak kepada Inggris dan membantunya berbagai peperangan. Bahkan kelompok militer Sikh militan terhadap inti pasukan Inggris di India.

Hubungan antara Sikh dan Inggris yang bersejarah ini menyebabkan kaum Sikh mendapat tempat juga di daratan Inggris. Banyak orang Sikh yang hidup di Inggris. Mereka tinggal baik sebagai pedagang, pengusaha dan buruh, maupun sebagai anggota militer Inggris. Banyak pula diantara mereka yang sudah menjadi warga negara Inggris. Bahkan rumah suci atau kuil kebanggaan mereka yang terbesar kedua di luar India setelah Amritsar, kul emas di Punjab yang berada di London, yang baru-baru ini diresmikan pemakaiannya setelah direnovasi.

Menjelang akhir abad ke-20 ini, kaum Sikh terlibat dalam konflik besar-besaran dengan orang-orang Hindu. Konflik agama da politik ini telah menimbulkan korban yang sangat besar di kedua belah pihak dan memakan waktu yang lama. Motifnya yang pokok adalah karena kaum Sikh yang minoritas merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah India semenjak negara tersebut merdeka dari Inggris. Mereka menuntut mendirikan negara sendiri yang terpisah dari Inida. Tuntutan ini tidak mendapat persetujuan dari pemerintah India.

Pada Tahun 1948, kaum Sikh memproklamirkan negara Sikh yang berdiri sendiri dengan nama Republik Khalistan. Markas besarnya berada di London. Dr. Ragjit Singh, menjadi presiden republik itu.[16]

 

  1. D.    Adat Istiadat Penganut Sikh

Adat istiadat bermula sejak kelahiran sehingga kematian penganut Sikh. Pemberian hadiah merupakan amalan biasa untuk menyambut kelahiran bayi. Pemberian nama merupakan upacara penting dan ia dikenali sebagai Naamkaran. Disini bayi yang baru lahir itu akan diberikan nama selepas Granthi membaca Ardas. Kemudian kitab mereka Sri Guru Granth Sahib akan dibuka secara rambang. Bayi itu akan dinamakan mengikut huruf pertama dalam mukasurat itu. Nama akhir untuk penganut Sikh adalah sama dan berbeda hanya mengikut jenis kelaminnya yaitu Singh bagi lelaki, manakala perempuan dipanggil Kaur. Singh bermaksud “Singa” dan Kaur pula bermaksud “Puteri”.

Apabila seseorang remaja lelaki mencapai umur sebelas hingga enam belas tahun dia akan melalui satu upacara – pemakaian serban. Upacara yang dipanggil Dastar Bandhni biasanya dilakukan oleh para agama Sikh dipanggil Granthi atau ketua masyarakat. Bagi seorang Sikh, perkawinan adalah suci dan mereka percaya pada sistem monogami. Dalam agama mereka, penceraian adalah mustahil dan tidak dibenarkan. Walaupun begitu, perceraian masih boleh dilakukan di mahkamah sivil.[17]

 

  1. 2.      Ajaran, Kitab Suci dan Praktek Keagamaan Sikh
  2. A.    Ajaran Agama Sikh
    1. Tentang Tuhan Yang Maha Esa
    2. Tentang Sabda adalah Kata Tuhan
    3. Tentang Guru sebagai Penuntun Hidup Abadi
    4. Tentang Praktek Spirituil (Sadhana)[18]

 

Dasasila Ajaran Guru Nanak:

  1. Engkau harus percaya pada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Engkau harus menghormati manusia sesamamu, baik laki-laki maupun wanita, dengan respek yang sejajar.
  3. Engkau harus mempunyai rasa peri-kemanusiaan yang luas dan mendalam.
  4. Engkau harus memajukan watak pribadimu dengan perbuatan kebajikan yang mulia dan luhur.
  5. Engkau harus selalu ingat kepada Tuhan.
  6. Engkau tidak boleh buta akan kepercayaan.
  7. Engkau harus menolak perbedaan kasta.
  8. Engkau tidak boleh berjanji dengan mempergunakan bentuk dan adat istiadat agama.
  9. Engkau tidak boleh menyangkal kenyataan dunia ini.
  10. Engkau tidak boleh percaya dengan peraturan seorang pemimpin rohani akan penyelamatan dirimu atas hukuman Tuhan.[19]

 

  1. Konsep Ketuhanan Dalam Agama Sikh

Berkaitan dengan konsep ketuhanan, definisi terbaik yang dapat diberikan oleh orang-orang Sikh adalah konsep ‘Mul Mantra’. Konsep ini menjadi landasan fundamental agama Sikh yang termuat di dalam bagian permulaan kitab suci agama Sikh yaitu Sri Guru Granth Shahib. Dalam kitab Sri Guru Granth Shahib volume 1, pasal 1 ayat 1 disebutkan istilah ‘Japoji Mul Mantra’. Ayat tersebut berbunyi “Hanya ada Allah Tuhan Yang Esa”. Tuhan itu disebut Dadru, ‘Sang Pencipta’, atau ‘Dia yang terbebas dari rasa takut dan rasa kebencian’, ‘Dia Yang Kekal’, ‘Dia yang tidak dilahirkan’. Agama Sikh ini secara tegas menyatakan diri sebagai agama monotheisme. Dan Tuhan Yang Maha Kuasa yang tidak tampak wujudnya itu disebut ‘Ek Omkara’, sedangkan Tuhan yang tampak wujudnya disebut ‘Omkara’. 

Guru Granth Shahib memberikan nama-nama yang beragam kepada bentuk penampakan Tuhan ini (Omkara), atau yang disebut dengan ‘Kartar’ (Sang Pencipta), ‘Akal’ (Yang Abadi), ‘Satyanama’ (Yang Maha Suci), ‘Shahib’ (Tuhan), ‘Parvadigar’ (Sang Pemelihara), ‘Rahim’ (Sang Pengasih), ‘Karim’ (Yang Mulia). Tuhan juga mempunyai gelar lain yang disebut dengan ‘Wahe Guru’, yang berarti satu Tuhan yang sejati.

Disamping itu, agama Sikh juga menentang ajaran Avtarvada, yakni konsep titisan (inkarnasi) Tuhan. Orang-orang Sikh ini meyakini bahwa Tuhan tidak bisa mengambil wujud berupa manusia. Mereka tidak percaya bahwa Tuhan bisa melakukan inkarnasi, dan mereka juga melarang pe-nyembahan-penyembahan terhadap berhala-berhala. Guru Nanak sangat dipengaruhi oleh ajaran Kabir. Tidak mengherankan, bila Anda membaca ‘Sri Guru Granth Sha-hib’, terdapat beberapa bab yang mengandung untaian ‘Do has’ dari Sant Kabir. ‘Dukh mein sumren sab kare, Sukh mein kare na koi. Joi sukh mein sumren kare, to dukh kahe hoi’. Artinya, setiap orang akan ingat kepada Tuhannya tatkala ia berada dalam lilitan masalah, tetapi tidak seorangpun yang mengingat-Nya tatkala berada dalam keadaan senang dan bahagia. Seseorang yang bisa mengingat Tuhan tatkala berada dalam keadaan senang dan bahagia, bagaimana mungkin ia akan terjatuh ke dalam masalah .

Pesan yang sama disampaikan dalam kitab suci Al-Qur’an yang berbunyi., yakni di dalam surat Az-Zumar, surat ke-39, ayat 8, disebutkan 

 

“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya. Kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya, lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu bagi Allah untuk menyesatkan manusia dari jalan-Nya”.[20] 

 

  1. Ajaran Nanak tentang Manusia

Guru Nanak mengajarkan bahwa seluruh umat manusia adalah satu. Orang dimuliakan bukan karena ia anggota kasta ini atau itu, kepercayaan ini atau itu, melainkan karena ia adalah “manusia”. Oleh sebab itu Nanak sangat menentang ajaran tentang kasta, lebih-lebih ajaran tentang adanya manusia “najis” yang haram di sentuh.

Nanak meletakkan dasar bagi pengengkatan martabat manusia di kalangan masyarakat Hindu bukan atas dasar kasta, upacara-upacara singkat seperti mantra-mantra, keajaiban-keajaiban, misteri-misteri, tetapi atas dasar kodrat dan kecenderungan manusia itu sendiri. “Tidak ada gunanya itu kasta dan kelahiran: pergilah dan tanyakan pada mereka yang mengetahui kebenaran. Derajat seseorang ditentukan oleh amal kebajikannya,” demikian katanya.

Nanak sangat mementingkan segi moral manusia. Menurut dia, manusia harus hidup dengan mengutamakan kesempurnaan moral, karena nilai manusia terletak pada tinggi rendahnya moral itu.

 

  1. Ajaran Nanak tentang Alam

Nanak mengajarkan bahwa alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan, dan tidak abadi. Yang kekal dah abadi hanya Tuhan, karena Tuhan adalah Realitas Mutlak. Nanak, juga manusia lain, adalah hamba Tuhan. Tuhan adalah Yang Maha Kuasa, menguasai segala-galanya. Kalau manusia beranggapan bahwa ia bebas melakukan kehendaknya, maka ia tidak akan dapat menikmati kebahagiaan yang sejati. Dengan kodrat dan iradat Tuhan seluruh alam ini terjadi, dan melalui Hukum Tuhan alam ini menjalani kehidupannya. Tidak ada sesautu yang bisa berjalan di luar Kehendak dan Hukum Tuhan.

Apapun yang dikendaki Tuhan semuanya pasti terjadi. Tidak ada yang berada di bawah kuasa makhluk. Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Tahu dan Maha Kasih Sayang. Ajaran-ajaran yang berasal langsung dari Nanak ini dilengkapi terus oleh guru penggantinya. Guru Angarh mulai mencetuskan tentang perlunya kaum Sikh memiliki kitab suci dan rumah ibadahnya sendiri. Ia mempelopori pengadaan dua hal tersebut. Ia berusaha membersihkan unsur-unsur Hindu dari dalam Sikh seperti larangan pemujaan Sakti. Larangan membakar janda yang ditinggal mati suaminya dipelopori oleh Amar Das, guru ketiga. Ram Das menetapkan ajaran tentang kewajiban menyumbangkan sebgaian harta untuk menegakkan agama dan kepentingan umat. Juga pengangkatan seseorang menjadi iman atau pemimpin upacara ditetapkan olehnya. Realisasi ide adanya tempat suci dilaksanakan oleh Ram Das ini. Ia membangun kuil emas Amritsar, yang sampai sekarang dianggap sebagai kuil yang paling suci oleh orang-orang Sikh.

Guru Govind Singh memperdekat Sikh dengan Hindu. Ia memasukkan kembali unsur-unsur Hindu yang sebelumnya telah dibersihkan dari Sikh. Berkat jasanya, syair-syair Ramayana dan Mahabharata dipadukan pembacanya sebagai Adi Granth di kuil-kuil Sikh. Begitu juga ajaran-ajaran tambahan lainnya, seperti penyucian atau sakramen yang mereka sebut Khandadi-Paul dan Karah Parshad. Perjamuan dan simbol-simbol kesucian yang terdiri dari 5K juga merupakan hasil tambahan dari guru.[21]

 

  1. Tentang Ibadah Dan Tempat Yang Disucikan

Gurdwara adalah sebuah kuil peribadatan pemeluk Sikh. Gurdwara di Amritsar, nama resminya Harmandir Sahib, berwarna emas, bersinar gemilang. Kuil ini terletak di tengah danau berbentuk persegi. Tanah di sekitarnya berupa lantai pualam. Amritsar semula adalah nama danau. Amrit Sarovar berarti danau air suci. Kemudian menjadi nama kompleks kuil ini. Sampai akhirnya, seluruh kota ini dinamai Amritsar. Danau ini begitu suci. Ratusan umat Sikh mencelupkan diri ke dalam airnya yang sejuk. Ritual mandi ini bukan sekadar membasuh diri secara badani, tetapi punya juga pembasuhan dan penyucian jiwa spiritual. 

Ada sedikitnya 15 juta penganut agama Sikh di India. Pria Sikh dikenali dengan mudah dari turban mereka yang membumbung tinggi. Mereka selalu menutup rambut panjang mereka dengan turban. Dalam agama Sikh, kesh atau rambut yang terpotong, adalah salah satu simbol terpenting. Sepanjang apa pun, rambut, jenggot, dan semua bulu yang tumbuh di sekujur tubuh tak boleh dipotong. Kaum pria menyembunyikan rambut panjangnya dengan rapi di bawah surban mereka. Kaum wanita selain berambut panjang juga tidak boleh mencukur alis. Rambut punya arti yang penting dalam agama ini. Memasuki tempat suci ini, semua orang diharuskan untuk menutup rambutnya, boleh dengan surban, topi, kerudung, atau kain. 

Di dalam ajaran agama Sikh “Rambut adalah lambang kesucian yang dianugerahkan Tuhan kepada umat manusia. Tidak memotong rambut berarti menerima dan mensyukuri apa yang dianugerahkan oleh Tuhan.” Kuil emas ini terbuka bagi semua orang. Umat dari pelbagai agama, bahkan yang tidak beragama pun, disambut dengan ramah di sini. Di tempat sucinyalah dia merasa, hati dipenuhi rasa berserah diri yang sepenuhnya. 

 

  1. Tentang Aspek Eskatologi (Hidup Setelah Mati)

Kepercayaan dalam agama Sikh tentang hidup setelah mati rupanya ajarannya sama dengan Islam. Adapun perbedaan yang mendasar di dalam ajaran agama Sikh dengan agama Islam adalah tidak adanya kepercayaan di dalam agama Sikh tentang hari akhir. Mereka masih mempercayai nirwana yang diajarkan oleh agama Hindu Brahmana. 

 

  1. B.     Kitab Suci Agama Sikh
    1. Adi Granth

Adi Granth bermakna Kitab Asli (Original Books) dan bisa pula dipanggilkan dengan Kitab Pertama (Firs Books).[22] Kitab suci ini disebut juga Guru Granth Sahib, dan merupakan kitab yang disusun oleh guru yang kelima, Arjun, di Amritsar. Adi Granth mempunyai tiga versi, yaitu Kartar Vali Bir, Bhai Banno Vali Bir, dan Dam Dama Vali Bir. Kitab tersebut merupakan buku kecil, hasil revisi Guru Govind Singh yang melengkapi dan menyisipi isi kitab yang disusun ayahnya, Tegh Bahadur, yang terdiri dari nyanyian-nyanyian suci yang disusun oleh lima orang yang pertama, dan disusun oleh Govind Singh sendiri, serta syair-syair yang diambilkan dari Mahabatrata dan Ramayana Hindu.[23]

Tulisan-tulisan dalam Adi Granth dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu:

1)      Nyanyian-nyanyian suci yang disusun oleh guru-guru Sikh. Merupakan bagian terbesar, terdiri dari 2218 syair oleh Arjun; 974 syair oleh Guru Nanak; 907 susunan Amar Das; 679 susunan  Ram Das; 115 karangan Tegh Bahadhur dan 62 syair.

2)      Nyanyian yang berasal dari kaum mistik, baik yang beragama Hindu maupun kaum sufi. Sebagian besar berasal dari sufi besar, Kabir dan Farid.

3)      Pujian-pujian yang ditujukan terhadap guru-guru Sikh, disusun oleh para penyair pengembara Sikh.

 

  1. Dasam Granth

Dasam Granth bermakna Kitab guru Kesepuluh (The Granth of the Tenth Guru). Di dalam himpunan itupun termasuk karya tokoh-tokoh Hindu dan karya tokoh-tokoh Islam, termasuk himpunan sajak Kabir (1488-1512 M) dan himpunan sajak Ramananda (abad ke-15 M), seorang tokoh reformasi dalam agama Hindu.[24] Kitab ini disebut juga dengan Dasvin Padshah ka Granth dan merupakan tulisan Guru Govind Singh sendiri. Isinya terdiri dari empat bagian, yaitu:

1)      Mitologi, berisi dongeng-dongeng yang diceritakan oleh Guru Govind Singh mengenai dewa-dewa dan dewi-dewi agama Hindu.

2)      Filosofis, bagian yang terdiri dari karya-karya terkenal seperti Jap Shahib, Akal Ustat, Gyan Probodh, dan Sabad Hazare.

3)      Otobiografi, bagian yang berkenaan dengan riwayat hidup atau biografi termasuk ke dalam Bichitra Natak dan Zafar Nama.

4)      Bagian yang berkenaan dengan masalah hawa nafsu atau erotik, diantaranya cerita-cerita yang diceritakan Guru Govind Singh mengenai godaan-godaan kaum wanita serta penuh cerita-cerita yang sangat cabul.

 

Kitab ini sebagai tambahan atau pelengkap Adi Granth, terdapat Janam Sakhis atau riwayat hidup Guru Nanak secara tradisional. Berisi dongeng-dongeng dan penuh dengan cerita-cerita Mukjizat dan keajaiban-keajaiban.

 

  1. C.    Praktek Keagamaan Sikh

Agama Sikh tidak banyak merumuskan upacara ibadat. Ibadat yang paling pokok adalah semadi dalam rangka mengingat Tuhan untuk menyucikan rohani dari pengaruh-pengaruh yang menjauhkan manusia dari Tuhan.

Di samping itu, mereka mengenal sujud dan menyanyi di kuil. Tetapi semuanya itu inti pokoknya adalah zikir. Menurut mereka, kewajiban tertinggi adalah menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa secara terus menerus. Nama Tuhan Yang Murni itu adalah kekuatan yang akan membantu manusia, sehingga harus selalu diingat dan diucapkan. Hilangkan segala sesuatu dari ingatan selain nama Yang Murni itu. Sebut nama itu berulang kali, dengar nama itu, tumpahkan ingatan akan nama itu, ulang dan ulangi terus menyebut nama Tuhan setiap saat sampai jiwa terserap ke dalam cahaya ketuhanan.

Nama Tuhan yang Murni diwujudkan dalam bentuk jamaah yang oleh mereka disebut dengan Khalsa Panth (Jalan Yang Murni). Orang yang sudah menempuh jalan ini, artinya sudah menjadi anggotanya melalui sakramen atau baptis, akan memperoleh status sebagai “orang yang suci murni.”

Tidak semua kaum Sikh mengakui dan mau menerima upacara sakramen dalam bentuk pembaptisan ini. Mereka menganggap bahwa baptis atau sakramen bukan ajaran Nanak. Mereka tetap mengutamakan semadi dan ketentraman jiwa dalam ibadat. Mereka disebut Sahajdharis atau “orang yang hidup tentram.”

Selain itu, kaum Sikh juga menjadikan tradisi menyikat rambut dua kali sehari dan membaca serta menyanyikan syair-syair yang terdapat dalam kitab suci mereka setiap hari sebagai ibadat. Bagi mereka yang tergabung dalam golongan Khalsa Panth, berperang adalah juga ibadat. Sebab itu, tidak aneh bila setiap mereka melakukan aksi-aksi kekerasan, kekuatan terakhir, yang terdiri dari basis kaum militernya, selalu dipusatkan di kuil, termasuk kuil emas Amritsar.

Akhirnya perlu dilihat kembali keyakinan dan kecenderungan Nanak sendiri selama dia bersentuhan dengan berbagai ajaran agama yang dianut oleh masyarakat India, terutama agama Hindu dan Islam.

Ibadat-ibadat Hindu jelas ditolak semuanya oleh Nanak, tapi ibadat-ibadat Islam juga tidak ada yang ditetapkannya sebagai ibadat kaum Sikh. Jalan semadi dan zikir yang diutamakannya untuk menyembah Tuhan adalah merupakan jalan mistik yang paling populer dalam semua agama. Melalui jalan mistik semua agama bertemu, sehingga benar kiranya bila dikatakan bahwa agama Sikh yang didirikan oleh Nanak merupakan agama mistik sinkretis.[25]

 

 

 

KESIMPULAN

 

Dari pembahasan di atas mengenai Agama Sikh dapat disimpulkan bahwa Agama Sikh didirikan oleh Guru Nanak (1469-1539). Kepercayaan Sikh, atau lebih dikenal dengan nama “Khlasa” atau “yang murni” berasal dari agama Hindu, muncul dalam tahun 1699 M. Sikh berarti murid, dan Sikha berarti murid atau pengikut Sikh. Agama Sikh merupakani agama “sinkretis” karena ia didirikan dengan maksud “memperdamaikan antara Islam dan Hinduisme.”

Dalam agama ini ada sepuluh guru Sikh yang sangat berpengaruh dan berperan penting serta berbagai peperangan yang dalam sejarah perkembangan agama Sikh. Selain itu mereka pun diwajibkan mengamalkan 5K yang dicetuskan oleh Guru kesepuluh, Gobind Singh, sebagai lambang dari Sikh serta adat istiadat mereka yang unik yang membedakan bangsa India lainnya.

Konsep kepercayaan Agama Sikh monoteis serta tidak mempercayai kehidupan akhirat, yakni percaya terhadap reinkarnasi. Kitab suci Sikh yaitu Adi Granth  atau disebut juga “Sri Granth Sahib” dan Dasam Granth. Ritual yang dilakukan melalui jalan mistik yakni zikir atau semadi. Menurut mereka, kewajiban tertinggi adalah menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa secara terus menerus. Praktek ini cenderung dengan agama Islam dan Hindu. Sehingga bisa dikatakan bahwa agama Sikh merupakan agama mistik sinkretis.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ali, Mukti (Pengantar), Agama-Agama Dunia, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press,1988

Pendit, Nyoman S., Guru Nanak dan Agama Sikh, Jakarta: Yayasan Sikh Gurdwara Mission: 1988

Naik, Zakir, Concept of God in Major Religions, New Delhi: Adam Publishers & Distributors, 2007

Carmody, Denise L. dan John T. Carmody,  Ways to The Center An Introduction to World Religions, California: Wadsworth Publishing Company, 1984

Sou’yb, Joesoef, Agama-Agama Besar Di Dunia, Jakarta: Al Husna Zikra, 1996

Pamungkas, Sagita Catur, http://pengetahuan-mengenai-agama-sikh.html, diakses pada Minggu, 5 Mei 2013

 


[1]Mukti Ali (pengantar), Agama-Agama Dunia, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press,1988 Cet.I, h. 183

[2] Ibid, h. 185

[3] Sagita Catur Pamungkas, http://pengetahuan-mengenai-agama-sikh.html, diakses pada Minggu, 5 Mei 2013

[4] Nyoman S. Pendit, Guru Nanak dan Agama Sikh, Jakarta: Yayasan Sikh Gurdwara Mission: 1988, Cet.II, h.26

[5] Joesoef Sou’yb, Agama-agama Besar di Dunia, Jakarta: Al Husna Zikra, 1996, h.144

[6] Denise L. Carmody dan John T. Carmody,  Ways to The Center An Introduction to World Religions, California: Wadsworth Publishing Company, 1984, h.333

[7] Joesoef Sou’yb, Agama-agama Besar di Dunia, Jakarta: Al Husna Zikra, 1996, h. 145

[8] Naik, Zakir, Concept of God in Major Religions, New Delhi: Adam Publishers & Distributors, 2007 h. 15

 

[9] Ibid, h.185

[10] Nyoman S. Pendit, Guru Nanak dan Agama Sikh, Jakarta: Yayasan Sikh Gurdwara Mission: 1988, Cet.II, h. 27

[11] Ibid, h.186

[12] Nyoman S. Pendit, Guru Nanak dan Agama Sikh, h.18

[13] Ibid, h.186

[14] Nyoman S. Pendit, Guru Nanak dan Agama Sikh, h.17

[15] Ibid, h. 191

[16] Ibid, h. 191-201

[17]Sagita Catur Pamungkas, http://pengetahuan-mengenai-agama-sikh.html, diakses pada Minggu, 5 Mei 2013

[18] Nyoman S. Pendit, Guru Nanak dan Agama Sikh, h. 87

[19] Nyoman S. Pendit, Guru Nanak dan Agama Sikh, h.94

[20] Naik, Zakir, Concept of God in Major Religions, New Delhi: Adam Publishers & Distributors, 2007 h. 16-17

[21] Ibid h. 206

[22] Joesoef Sou’yb, Agama-agama Besar di Dunia, Jakarta: Al Husna Zikra, 1996, h. 145

[23] Ibid, h. 207

[24] Joesoef Sou’yb, Agama-agama Besar di Dunia, Jakarta: Al Husna Zikra, 1996, h.146

[25] Ibid, h. 206-207

Agama Jain

AGAMA JAIN

 

  1. 1.      Sejarah dan Perkembangan Agama Jain

Jain bermakna penaklukan. Dimaksud penaklukan kodrat-kodrat syahwati di dalam tata hidup manusiawi.[1] Salah satu filsuf berkata “ Jain adalah gerakan rasionalisme yang bebas dari kekuasaan Weda kitab suci umat Hindu dan terbentuk dari karakter umum masyarakat Hindu. Paham ini terbentuk karena rasa takut terhadap reinkarnasi dan pelarian dari kesialan hidup. Berawal dari asketisisme dalam hidup karena khawatir bahaya mengancam. Jainisme berpegang pada latihan rohani yang melelahkan dan kontrol yang sulit. Poinnya adalah tidak peduli pada kenikmatan dan penderitaan. Caranya dengan menjalani hidup dalam kesengsaraan dan kekerasan. Selain itu, dengan menjadi seorang rahib (pendeta) tetapi bukan Brahma.[2] Jainisme dibuat sebagai gerakan protes terhadap upacara Veda dan juga penerapannya.[3]

Jain muncul sebagai reaksi atas sikap eksrem hindu dalam hal diskriminasi lapisan sosial (kasta). Akibat sebagian ajaran hindu, masyarakat digeser kedalam medan konflik antarlapisan sosial. Mereka terjebak diantara api kedengkian dan kebencian. Jainisme menyangkal sebagian ajaran hindu, terutama dalam hal kasta yang dinilai berbahaya bagi masyarakat. Seruan baru ini mendapat dukungan penuh dari banyak pihak. Namun, meski sikap jainisme tanpa seperti gerakan reformasi, pengaruhnya tidak banyak menyentu masyarakat. Mayoritas penduduk India masih berpegang pada doktrin hindu. Jumlah pengikut Jainismepun terbilang sedikit yang menurut perkiraan hanya berjumlah sejuta orang.

 

  1. 2.      Ajaran dan Praktek Keagamaan Jain

Menurut Jainisme, jagat raya tidak diciptakan atau tidak berasal dari Tuhan. Jagat raya itu tidak berawal (anadi) dan tidak berakhir (ananta) dan berjalan sesuai dengan hukum alam. Kenyataan itu memiliki dua kategori yang mandiri dan tidak sama, Jiva (jiwa) dan Ajiva. Jiva merupakan kesadaran dimana Ajiva adalah tidak hidup, tanpa kesadaran atau hidup. Jiva tidak berada dalam tahap yang bebas dan tahap yang tidak bebas. Jiva memiliki tubuh dan berhubungan dengan kekuatan karma, yaitu partikel yang paling halus dan menyerap ke dalam jiwa. Karena hubungannya dengan kekuatan karma, asal kejayaan dari jiwa menjadai ternoda, seperti emas yang cemerlang yang dikotori oleh karat atau terangnya lampu yang diburamkam oleh lapisan jelaga. Tujuan dari ajaran Jain adalah untuk menghilangkan Jiva dengan Karma an mengembalikan jiwa pada kejayaan yang sebenarnya.

Ajiva adalah komponen yang kedua dari kenyataan, yang terdiri dari lima hal yaitu: zat (pudgala), ruang (akasa), waktu (kala), dharma dan adharma. Lima sifat ini mengatur peristiwa objek materi. Zat membentuk tubuh manusia dan fenomena di jagat raya. Waktu dan ruang dibutuhkan untuk keberadaan objek material. Dharma dan adharma adalah prinsip dari yang bergerak dan tidak bergerak; mereka bertanggung jawab pada keberadaan objek dalam ruang dan waktu.

 

            Ajaran utama dari Jainisme dapat diringkas sebagai berikut:[4]

  1. Ahimsa adalah pemikiran atau doktrin yang tidak membunuh, tidak melakukan kekerasan, dan tidak menyakiti. Ini adalah doktrin yang jainisme dan satu dari sumpah yang kelima yang diajarkan oleh Mahavira, Tirthankara. Dalam Jainisme doktrin ahimsa meluas dalam hidup manusia, binatang dan tumbuhan yang hidup.
  2. Jainisme percaya pada hukum karma, yang merupakan hukum dari sebab dan akibat. Menurut hukum ini, setiap manusia memilikitanggung jawab moral bagi setiap tindakannya, dan ia harus menikmatinya dalam kehidupannya sekarang atau kehidupannya di masa mendatang. Tidak ada orang yang dapat selamat dari hukum karma atau orang yang bisa selamat dari akibat tindakan yang dilakukannya. Perbuatan yang baik membebaskan seseorang dari karma dan perbuatan yang buruk akan menyeret seseorang pada cengkraman karma.
  3. Jainisme mengajarkan bahwa himsa (kekerasan), nirdaya (kurangnya welas asih), krodha (kemarahan), mada (harga diri), moha (mabuk), lobha (ketamakan), dvesa (benci), dan trsna (penderitaan) yang merupakan penyebab utama dari penderitaan dan ketidakadilan yang ada di dunia. Nafsu dan keinginan ini juga merupakan musuh dari Jiwa dan menyebabkan ikatan dengan dunia. Jainisme mangajarkan bahwa pengetahuan yang benar, keyakinan yang benar, dan perbuatan yang benar secara terus menerus dapat menaklukkan musuh-musuh ini.
  4. Keterikatan pada objek materi adalah penyebab utama dari keterikatan dan akan mengarahkan kita pada ketamakan dan kecemburuan, yang lebih jauh lagi akan mengarahkan kita pada objek materi adalah syarat yang diperlukan untuk mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian dalam dunia dan kehidupan setelah itu.
  5. Jainisme dengan kuat menekankan bahwa penerapan kedisiplinan sepanjang hidup. Ini adalah alat untuk menyucikan mental dan fisik, dan akan mengarahkan kita pada kedamaian bathin. Kedisiplinan akan menghilangkan kecenderungan untuk bersifat posesif, menghancurkan kejayaan dan keagungan yang sebenarnya.
  6. Jainisme mengajarkan penerapan dari Lima sumpah dan dan Tiga permata untuk menyembuhkan penyakit dunia dan untuk mencapai Kevala (pembebasan). Lima sumpah itu adalah ahimsa (tidak melakukan kekerasan), satya (melakukan kebenaran), asteya (tidak melakukan pencurian), brahmacarya (kesucian), dan aparigraha (tidak terikat atau mengasingkan diri dari benda meteri). Tiga permata itu adalah: keyakina yang benar, pengetahuan yang benar, dan perbuatan yang benar.  

 

Mahavira menyimpulkan seluruh pokok ajarannya pada Tiga Ratna Jiwa (The Three Jewels of Soul), yaitu :

  1. Pengetahuan yang benar
  2. Kepercayaan yang benar
  3. Tindakan yang benar

Tindakan yang benar itu mestilah berazaskan Lima Sumpah Terbesar (Five Great Vows), yaitu : [5]

  1. Jangan membunuh sesuatu yang hidup
  2. Jangan mencuri
  3. Jangan berdusta
  4. Jangan hidup bejat
  5. Jangan menghasratkan apapun

 

  1. 3.      Kitab Suci Agama Jain

Kitab suci di dalam agama Jain (Siddhanta) itu bermakna : pembahasan. Dan  kitab suci Jain bisa disebut dengan nama Agamas yang bermakna : perintah, ajaran, dan bimbingan.

Kitab suci Jain  hanyalah sekumpulan 55 khotbah mahavira, beberapa pidato dan wasiat yang berhubungan dengan para murid, pendeta, dan ahli ibadah aliran tersebut. Warisan ini turun-temurun berpindah secara lisan yang baru terkumpul pada abad ke-4. Pada waktu itu, para pemuka agama Jain berkumpul di kota Paleopatra. Mereka berdiskusi perihal kodifikasi warisan mahavira tersebut karena khawatir hilang dan tercampur dengan sesuatu yang lain. Mereka mengumpulkan sebagian isi kitab dalam beberapa buku dan berselisih tentang sebagian sumbernya. Namun, mereka belum berhasil menyatukan suara masyarakat guna menyepakati rencana kodifikasi tersebut.

Oleh karena itu, penulisan undang-undang Jainisme ditunda sampai tahun 57 M. akhirnya, mereka membukukan sebagian naskah yang didapatkan setelah cukup banyak kehilangan warisan tersebut. Pada abad ke-5 M, mereka menyelenggarakan pertemuan lain di kota Welapehi yang menyepakati pendapat terakhir tentang warisan Jainisme yang mereka anggap suci. Kali pertama, buku tersebut ditulis dalam bahasa Ardaha Majdi,(bahasa kepustakaan sebelum masehi)  kemudian ditulis dengan bahasa Sanskerta pada abad-abad Masehi. Selain itu orang Jain juga percaya dengan permata yakut yang tiga atau bisa disebut tiga ratna jiwa diantaranya yaitu,

  1. Permata atau mutiara yang pertama adalah itikad yang sah, dialah puncak penyelamatan. Maksud mereka adalah percaya kepada para pemimpin Jain yang dua puluh empat itu. Itulah aturan yang dipuja dan jalan yang lurus. Itikad yang sah tidak ada kecuali setelah diri terlepas dari kotoran-kotoran dosa yang melekat padanya dan yang menghalangi sampainya ruh kepada itikad ini.
  2. Permata atau mutiara yang ke dua adalah ilmu yang benar, maksudnya adalah pengetahuan mengenai alam dari kedua segi rohaninya dan kebendaan serta membedakan diantara keduanya. Martabat pengetahuan ini berlainan menurut kekuatan penglihatan hati dan kejernihan ruh. Seseorang yang memisahkan pengaruh dari kekuatan rohani serta sinarnya dapat melihat alam dalam bentuk yang sebenarnya, segala hakikat terbentang di depannya, tabir-tabir tebal tersingkap darinya yang menyebabkannya dapat membedakan antara kebenaran dan kesalahan, antara sangkaan dan keyakinan. Dia tidak diraguhkan oleh apapun . Ilmu pengetahuan yang benar ada sesudah itikad yang sah.    
  3. Permata atau mutiara yang ketiga adalah akhlak yang benar, maksudnya adalah bersifat dengan akhlak Jain seperti melakukan kebaikan meninggalkan keburukan, tidak membunuh, tidak berbohong, tidak melakukan pencurian, tidak melakukan kecurangan dan berzuhud dengan barang-barang kepunyaan sendiri. 

 

  1. 4.      Sekte dalam Agama Jain

Sekitar tahun 310 SM. Terjadilah perpecahan paham dan pendirian dalam kalangan agama Jain itu, yakni lebih kurang 3 abad sepeninggalan Mahavira (599-527 SM). Perpecahan itu disebabkan musim paceklik di India utara. Sejumlah 12.000 orang dari jemaat Jain itu, di bawah pimpinan Bhadrabahu, melakukan perpindahan menuju belahan selatan India, berdiam dan menetap dalam wilayah Mysore. Dengan begitu jemaat Jain itu telah terpecah dua, yaitu belahan utara dan belahan selatan. Belahan utara itu beriklim dingin dan belahan selatan beriklim panas. Di dalam wilayah yang beriklim panas itu pakaian tidaklah diperlukan. Sedangkan jemaat Jain bagian belahan utara lebih mengutamakan bertarak dan bertapa, yakni hidup secara asketik.

Sekitar tahun 82 M baharulah perpecahan itu menjadi resmi disebabkan masalah pakaian. Jemaat Jain yang mendiami wilayah pada belahan utara pegunungan Vindaya, yang bersuhu sejuk itu, selalu mengenakan pakain putih. Jemaat Jain itulah yang dipanggilkan dengan sekta Svetambara, yakni jemaat berpakain putih.

Tetapi jemaat Jain yang mendiami wilayah pada belahan selatan pegunungan Vindhya itu, yang sepanjang tahun beriklim panas, tidak mengenakan pakaian agak sehelai benangpun. Jemaat Jain itulah yang dipanggilkan dengan sekta Digambara, yakni jemaat bertelanjang bugil bagaikan langit.

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Joesoef Sou’yb. Agama-agama Besar di Dunia. Jakarta: Al Husna Zikra, 1996.

al-Maghlaut, Sami bin Abdullah, Atlas Agama-agama. Jakarta: Almahira, 2010.

Pandit, Bansi. Pemikiran Hindu. Surabaya: Paramita, 2003.

 

 

 

 

 

 


[1] Joesoef Sou’yb, Agama-agama Besar di Dunia (Jakarta: Al Husna Zikra, 1996), h. 128.

[2] Sami bin Abdullah al-Maghlaut, Atlas Agama-agama (Jakarta: Almahira, 2010),h. 563 .

[3] Bansi Pandit, Pemikiran Hindu (Surabaya: Paramita, 2003), h. 101.

[4] Ibid., h. 102.

[5] Joesoef Sou’yb, Agama-agama Besar di Dunia (Jakarta: Al Husna Zikra, 1996), h 136.

Agama Zoroaster

AGAMA ZOROASTER

 

  1. 1.      Sejarah dan Perkembangan Agama Zoroaster

Agama Zoroaster adalah ajaran filosofi yang dibawa oleh seorang nabi Persia kuno bernama Zarathustra yang hidup sekitar tahun 1100-550 SM, beberapa ahli sejarawan berpendapat nabi ini hidup sekitar 1600-600 SM. Inti ajaran Zoroaster adalah kepercayaan dan penyembahan kepada Ahura Mazda (Tuhan yang bijaksana), karena itu Zoroaster sering di sebut “Mazdayasna”.

Sebelum ajaran Zoroaster muncul, penduduk di Persia menganut kepercayaan paganism, politheisme, dinamisme dan animism, untuk itulah Zarathustra berusaha mengadakan pembaruan kepercayaan diantara orang-orang Persia. Banyak ahli teolog menganggap agama Zoroaster adalah bagian dari agama-agama Monotheisme, karena banyak ajaran-ajaran Zoroaster mirip dengan agama Arbramik Yahudi, Kristen dan Islam seperti masa 6 hari penciptaan, manusia pertama, kisah air bah, penyampaian nazar, tentang penyucian dan lain-lain.

Namun anggapan ini sering di bantah karena pada dasarnya Zoroaster juga masih mengakui dewa-dewa pagan yang diantaranya adalah, Dewa vahista, Dewa Vohu manah (dewa sapi), Dewa kesharta vairya, Dewa Spenta armaity, dan Dewa haurvatat, kelima Dewa ini di definisikan dengan hakikatnya masing-masing.

Dahulu Agama Zoroaster adalah agama resmi kerajaan Persia, namun seiring masuknya agama Islam di Iran, penganut Zoroaster makin sedikit. Hanya beberapa komunitas Zoroaster saja yang masih bertahan sampai sekarang, di tambah karena Agama Zoroaster tidak menekankan missionarisasi dan ajakan konversi, tetapi mereka terbuka jika seorang ingin konversi ke Zoroaster.

Saat ini mayoritas penganut Zoroaster berada di Negara Iran dan sebagian di India, bahkan masih terdapat bangunan-bangunan kuil Zoroaster di Iran baik di kota Teheran maupun di Yazd. Ciri khas bangunan itu adalah mirip bangunan kuno dan terdapat lambang Faravahar (ferohar) yaitu symbol roh penjaga.

Beberapa imigran Iran yang menetap di New York, London, Los angeles adalah beragama Zoroaster, dan mereka telah berbaur dengan penduduk sekitar yang beragama lain. Semakin sedikitnya penganut Zoroaster apalagi setelah Revolusi Islam di Iran, hanya segelintir yang masih mempertahankan kepercayaan dan agama asli Persia kuno ini.

 

Riwayat Hidup Pendiri Zoroaster

Agama Zoroaster dibawakan oleh seorang nabi bernama Zarathustra. Zarathustra lahir di sebelah Utara tanah Iran, tepatnya di kota Azarbaijan. Ayahnya bernama Porushop Spitama, dari suku spitam dan Ibunya, Dughdova. Menurut sejarah, Zarathustra lahir dari ibunya yang masih dalam keadaan perawan, belum tersemtuh ayahnya. Pada saat kelahirannya, kepala kaum majus di tanah Iran bernama Durashan mendadak ketakutan karena ia memiliki firasat bahwa bayi tersebut akan menghancurkan agama Majusi beserta pemujaan berhala dan akan memusnahkan kaum Majusi dari permukaan bumi.

Pada usia tujuh tahun, ia mulai memperoleh pelajaran keagamaan kependetaan secara lisan karena pada saat itu belum ada pengetahuan menulis. Pada usia 15 tahun, ia sudah mulai menjadi pendeta. Menjelang usia 20 tahun, ia gemar mengembara serta membantu orang-orang yang melarat dan kesusahan. Dan pada usia itu ia dikawinkan oleh ibunya dengan seorang gadis bernama Havivi.

Pada usia 30 tahun, ia mendapat wahyu yang pertama. Diceritakan pada waktu ia sedang merayakan musim semi dalam suatu perkumpulan, ia pergi saat fajar ke sungai untuk mencari air untuk keperluan upacara Haoma. Ia menyebrang ke tengah sungai untuk mengambil air, ketika hendak mengembil ke pinggir, ia menemukan dirinya dalam keadaan kesucian ibadat (ritual), muncul dari unsur yang murni, air, dalam kesegaran fajar musim semi. Ia melihat bayang-bayang di tepian sungai suatu zat yang berkilauan yang menyebut diri sebagai Vohu Manah (itikad baik), yang kemudian membawanya kehadapan Tuhan Ahura Mazda serta lima bentuk badan yang bersinar. Dan saat itulah ia menerima wahyu.

Raja Vishtaspa menerima baik ajaran Zarathustra, sebab filsafat Zoroaster sejalan dengan risalah pemikirannya mengenai Tuhan bahwa inti dari gagasan ketuhanan tidak akan dicapai lantaran adanya perubahan bangsa dan bahasa. Yang berubah-ubah hanya nama Tuhan yang tunggal untuk seluruh alam. setiap bangsa menyebutnya dengan nama yang diinginkan.

Setelah 47 tahun dengan usahanya menegakkan kebenaran, nabi besar Iran ini wafat pada usia 77 tahun. Zarathustra meninggalkan 3 istri, 3 putri, dan 3 putra. Keyakinan tentang Ahura Mazda, Pengakuan keimanan (Credo/Syahadat) yang harus diucaokan setiap orang yang beriman dalam agama Zarathustra. Keimanan yang paling pokok adalah pengakuan terhadap Ahura Mazda. Menurut Zarathustra, alam semesta ini dikuasai oleh kodrat Maha Bijaksana (Ahura Mazda) serta kodrat angkara murka (Angro Mainyu). Agar manusia memperoleh keselamatan haruslah menundukkan diri sepenuhnya kepada Ahura Mazda.

 

  1. 2.      Ajaran-ajaran Agama Zoroaster

Ada 4 kitab suci agama Zoroaster yaitu Kitab Yashna (berisi doa-doa dan aturan ibadah), Kitab Visparat (pujian kepada Tuhan), Kitab Vivedat (peraturan ritual keagamaan), dan kitab Khode Avesta(berisi tulisan doa sehari-hari, puisi kepahlawanan dan lain-lain).

Kitab suci agama Zoroaster adalah Zend Avesta. Kitab ini terbagi dalam tiga bagian, yaitu:

  1. Gathas, kitab yang berisi tentang “nyanyian” atau “ode” yang secara umum dan tepat dinisbahkan kepada Zoroaster sendiri;
  2. Yashts atau hymne korban yang ditujukan kepada berbagai macam dewa; dan
  3. Vendidat/ Vindevdat, “aturan melawan syetan”,berupa sebuah risalah yang terutama menyangkut ketidakmurnian ibadah dan prinsip dualisme yang diperkenalkan oleh Zoroasternisme dan diuraikan sangat panjang dalam bidang kehidupan praktis.

Gathas memuat ajaran-ajaran yang dikemukakan sendiri oleh Zarathustra. Isi bagia kitab ini bertentangan dengan Yashts, yang merupakan langkah mundur pada paganisme. Dalam Yashts, ditemukan suatu konsep politeisme yang mirip dengan konsep yang terdapat dalam kitab suci agama Hindu, Rig-Veda. Konsep politeisme inilah yang ditentang dengan oleh Zoroaster. Baik dalam Yashts maupun dalam Rig-Veda dijumpai sejumlan besar dewa dan setengah dewa.

Ajaran pokok dalam agama Zoroaster yang terdapat dalam kitab-kitabnya mencakup:

  1. Manusia

Dalam teks yang berjudul “Nasihat Pilihan dari Para Bijak Bestari Zaman Dulu” atau dikenal juga sebagai “Kitab Nasihat Zartusht” ditemukan konsep tentang manusia. Manusia pada asalnya adalah wujud gaib dan rohnya dalam bentuk Fravashi atau Fravahr, ada sebelum jasmaninya. Baik jasad maupun roh adalah ciptaan Ohrmazd (Ahura Mazda), dan roh tidak bersifat abadi. Manusia adalah milik Tuhan dan akan kembali kepada-Nya.

Syetan atau Ahriman adalah penentang Tuhan. Manusia dibebaskan memilih baik dan buruk. Menurut As-Syahrastani mengatakan bahwa manusia bertugas untuk senantiasa membantu kebaikan dan cahaya di tengah pergulatah Ahura Mazda dengan kejahatan dan kegelapan (Ahriman), yang dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dengan berlandaskan atas kebebasan memilih antara kebaikan dan keburukan.

  1. Tuhan dan Penciptaan

Zarathustra menyerukan ajaran monoteisme untuk menyembah Tuhan yang tunggal, pencipta segala sesuatu dan seluruh alam, baik yang berupa esensi (ruh) maupun materi (maddah).

Ahura Mazda adalah esensi murni yang suci dari segala bentuk materi, yang tidak dapat dilihat oleh pandangan mata dan tidak dapat ditangkap oleh akal manusia. Dzat Ahura Mazda dibagi dalam dua rumusan penting. Pertama, bersifat transenden (Samawi) yang disimbolkan dengan matahari, dan yang kedua bersifat imanen (Ardhi) yang disimbolkan dengan api. Keduanya adalah unsur yang memancarkan cahaya, menerangi semesta, suci, serta tidak terkontaminasi dengan hal-hal yang buruk.

  1. Etika

Moralitas Zoroaster diungkapkan dengan tiga kata, yaitu humat, huklit dan huvarsht, yang artinya pikiran baik, perkataan baik dan perbuatan baik.

  1. Kematian

Zoroaster tidak mengizinkan penguburan dan pembakaran tubuh orang yang telah meninggal, karena dianggap akan menodai air, udara, bumi dan api. Mereka menyelenggarakan ritus kematian dengan menempatkan mayat di atas. Mayat di biarkan selama tiga hari di sebuah ruangan lalu dibawa ke Dakhma atau Menara Ketenangan (Tower of Silence), di tempat itu mayat akan di telanjangi lalu ditidurkan dan dibiarkan hingga burung-burung memakannya, kemudian sisa-sisa tulangnya dibuang dalam sumur.

  1. Pengadilan Saat Kematian

Setiap roh manusia setelah kehidupan dunia ini akan bergentayangan selama tiga hari di dekat jasadnya. Pada hari keempat, roh menghadapi pengadilan di atas “Jembatan Pembalasan” yang dijaga oleh Dewa Rashu yang bertindak sebagai hakim dan bertugas menimbang perbuatan baik buruk manusia. Apabila baik roh tersebut langsung menuju surga. Apabila buruk akan dimasukkan ke neraka. Apabila timbangannya seimbang maka roh tersebut di bawa ke tempat yang bernama Hamestagan atau tempat campuran.

  1. Hari Kebangkitan (Eskatologi)

Konsep surga adalah keadaan yang kembali kepada kehidupan dunia sebelum Ahriman. Surga seperti tempat reuni keluarga besar dan kehidupan di dalamnya merupakan penyempurnaan alami dari kehidupan di dunia serta kenikmatan yang abadi dengan tidak lagi memiliki nafsu makan dan merupakan tempat roh memuji Ahura Mazda. 

 

  1. 3.      Praktek Keagamaan Zoroaster

Tempat ibadah agama Zoroaster adalah kuil (kuil api) yang umumnya berbentuk kotak, di dalam kuil api di biarkan terus menyala sebagai perlambang kehadiran dewa-dewa juga sebagai lambang kesucian. Tidak harus pergi ke kuil jika ingin melakukan ritual ibadah, terkadang mereka berdoa di tempat luar seperti sungai-sungai, gunung, ladang dan rumah masing-masing.

Melakukan upacara-upacara khusus, seperti upacara penandaan atau Navjot (Kelahiran Baru), upacara berkhitan dengan perkawinan serta upacara yang unik berkenaan dengan kematian. Mayat yang dianggap badannya tidak suci harus dihancurkan secepat mungkin, ia tidak boleh disentuh oleh 4 elemen suci, kemudian diletakkan pada suatu tempat yang disebut Menara Kesunyian yang menghadap matahari. Puncak menara dibiarkan terbuka agar burung-burung dapat memakannya. Kejadian ini dapat berlangsung sekitar setengah jam, dan kerangka mayat memutih dalam waktu beberapa hari. Kemudian dikumpulkan dan disimpan di terowongan di pusat menara, dan di sana mereka remuk menjadi debu.

 

  1. 4.      Aliran Agama Zoroaster
    1. Aliran Manu

1)      Tentang baik dan buruk (Dualisme)

2)      Ajaran menghentikan perkawinan

3)      Zuhud

4)      ‘Ibadat

  1. Mazdak,

Aliran yang mempercayai dua tuhan, yakni tuhan kebaikan dan tuhan keburukan. Selain itu, ajaran sosialismenya menyatakan bahwa semua manusia itu sama, tidak memiliki strata sosial.

1)      Tsanawiyah, selain mengakui dualisme tuhan, mereka juga mengajarkan untuk menyembah api, selain mereka menyambah berhala.

2)      Disahniyah, ajarannya mirip dengan ajaran Manu yang menyatukan dua ajaran, Nasrani dan Majusi. Perbedaannya adalah menurut mereka bahwa Isa Al Masih merupakan Allah yang diserupakan dengan manusia. Selain itu, mereka juga mempercayai adanya hari akhirat.

 

  1. 5.      Sekte-sekte dalam Zoroastrianism

1)      Kelompok Shenshahi, merayakan Tahun Baru pada musim gugur sekitar bulan Agustus atau September.

2)      Kelompok Qadimi, merayakan Tahun Baru pada musim panas sekitar bulan Juli atau Agustus.

3)      Kelompok Fasli, merayakan Tahun Baru pada musim semi yaitu setiap tanggal 21 Maret.

 

 

 

 

 

 

Agama Persia Kuno

AGAMA PERSIA KUNO

 

  1. 1.      Sejarah Perkembangan Persia Kuno

Iran dan Persia adalah dua nama yang kerap digunakan untuk menunjukkan satu wilayah. Salah satu rumpun bangsa Arya, yaitu Bangsa Media, mendiami wilayah Iran bagian barat. Sementara Bangsa Persia mendiami bagia selatan wilayah tersebut. Bangsa Media dan Bangsa Persia tunduk pada kekuasaan Bangsa Assyiria. Namun, sejak 1000 SM., Bangsa Persia berhasil menaklukan Bangsa Media bahkan menaklukan imperium Assyria. Sejak saat itu, wilayah Iran dikenal dengan nama Persia.

Kekaisaran Arkhmeniyah (Persia), imperium ini didirikan oleh Cyrus atau Koresh yang Agung pada tahun 5550 SM. yang merupakan imperium pertama di kala itu. Pada tahun 486 SM., Raja Darius I naik tahta, dan pada tahun 521 SM. menguasai Iran. Pada tahun 334 SM., Alexander Agung, Kaisar Macedonia, Yunani, menaklukkan dan menguasai imperium Persia, bahakan membakar ibukotanya Parsepolis. Tindakan ini sengaja dilakukan sebagai balasan atas pembakaran kota Athena yang dilakukan oleh pasukan Persia. Alexander sendiri mengikrarkan bahwa ia adalah pewaris tahta raja-raja Arkhmeniyah serta memadukan kebudayaan Persia dan Yunani (Helenistik).

Setelah kematian Alexander pada tahun 323 SM., terjadi perpecahan di antara panglima militernya. Mereka pun membagi wilayah kekuasaan yang telah ditaklukkan Alexander. Wilayah Persia menjadi milik panglima Seleukus, salah seorang jenderal Alexander. Persia dikuasai oleh pemerintahan Kekaisaran Seleukus yang berlangsung hingga 141 SM.

Setelah itu muncul Kekaisaran Parthia atau disebut juga Dinasti Arsacia yang menguasai Persia pada tahun 247 SM- 224 M. Nama Arsacia dinisbahkan kepada raja pertamanya, yaitu Arsacia I. Tapi kemudian nama ini dipakai sebagai gelar untuk kekaisaran Parthia, seperti gelar pada raja-raja Romawi.

Kekaisaran Sasanid: didirikan oleh Ardhashir I (w.240) yang berkuasa paa tahun 224 M. Dinasti ini dianggap sebagai pembangun dan penghidup kembali peradaban Persia dan Zoroaster, sekaligus berupaya membangun kembali tradisi Persia peninggalan Dinasti Arkhmeniyah sekaligus pendiri Imperium Pahlavi. Ardhasir wafat dan digantikan oleh putranya, Shapur yang kembali memerangi Imperium Byzantium dan berhasil menaklukkan Kekaisaran Romawi Valerian pada tahun 260 M. Beberapa waktu kemudian, Shapur mendirikan akademi Gundishapur di Gundeshapur. Dia pun kembali membangun tata kerajaan dan Imperium Persia, seperti mebangun banyak kota-kota utama, salah satunya Nishapur.

Pada periode berikutnya, muncul Raja Anusherwan (531-579 M). Pada awal pemerintahannya, ia telah mampu menghilangkan fitnah pengikut Mazdak dan memulihkan stabilitas situasi di Iran. Pada tahun 642 M, pasukan Muslim mengalahkan Bangsa Persia pada dua pertempuran. Perang Qadisiyah dan perang Nahawan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Setelah itu, kaum Muslimin tersebar di negara Persia hingga pemerintahan Dinasti Sasanid berakhir.

 

  1. 2.      Peradaban Persia

Persia merupakan rumah dari salah satu peradaban tertua didunia. Dari tulisan-tulisan sejarah, peradaban Iran yang pertama ialah Proto-Iran[1], diikuti dengan peradaban Elam. Yang dihasilkan oleh peradaban Persia diantaranya, yang sangat terkenal karena kesusatraannya. Sehingga hampir seluruh Negara di dunia pasti mengenal budaya tersebut. Dalam bidang kesusastraan, budaya Persia terkenal dengan bahasa Parsinya. Yang merupakan bahasa penulisan setelah sebelumnya menggunakan bahasa avista. Bahasa Parsi sendiri termasuk dalam rumpun bahasa indo-Europa, yakni rumpun bahasa yang berasal dari dataran tinggi Iran. Bahasa lain yang masuk ke dalam rumpun tersebut adalah bahasa yang sudah tidak asing lagi di Negara Indonesia, yakni bahasa sangsekerta atau bahasa sangskrit. Sementara itu bahasa yang digunakan oleh bahasa Eropa dan termasuk ke dalam rumpun ini antara lain adalah bahasa Latin, Jerman dan Belanda.

Kemudian hasil peradaban yang lainnya yakni dalam bidang arsitektur yakni kincir angin Persia kuno yang merupakan salah satu kincir angin tertua yang pernah dibuat oleh manusia. Kincir angin ini dibuat oleh peradaban Persia sekitar 3000 tahun yang lalu. Kincir angin ini digunakan untuk menggiling gandum dan memompa air. Selain kincir angin ada juga menara angin atau wind tower ini digunakan oleh masyarakat Persia untuk sistem ventilasi udara di rumah – rumah mereka. Sistem ventilasi mereka jauh lebih rumit dari sistem ventilasi rumah pada saat ini.

 

  1. 3.      Ajaran dan Praktek Keagamaan Agama Persia Kuno

Di bidang keagamaan, bangsa Persia mengikuti ajaran seorang nabi Persia yang bernama Zarathustra, dalam bahasa Yunani disebut Zoroaster. Zoroaster menjalankan agama suku Persia kuno yang dibawa orang Persia dari Asia tengah. Mereka menyembah satu dewa, Ahura Mazda, yang dikenal ikut dalam peperangan suci melawan Ahriman (mewakili sikap diam) dan setan (mewakili kejahatan). Menurut penganut Zoroaster, dzat Ahura Mazda adalah esensi murni yang suci dari segala bentuk materi, yang tidak dapat dilihat oleh pandangan mata dan tidak dapat ditangkap kedzatannya oleh akal manusia. Banyak dari manusia yang tidak mampu mengimani dzat dengan sifat seperti ini. Sehingga Zoroastrianisme membuat rumusan tentang hakikat ketuhanan Ahura Mazda dengan rumus[2]:

a)      Rumus pertama bersifat transenden (samawi) yang disimbolkan dengan matahari

b)      Rumus kedua bersifat imanen (ardhi) yang disimbolkan dengan api.

Keduanya adalah unsur yang memancarkan cahaya, menerangi semesta, suci, serta tidak dapat terkontaminasi oleh hal-hal yang buruk dan segala bentuk kerusakan. Kepada cahayalah kehidupan semesta raya ini bergantung. Sifat inilah yang paling mendekati untuk digambarkan oleh akal manusia akan sifat Maha Pencipta.

Zoroastrianisme adalah suatu agama yang bersifat “keduaan” atau dualistis. Disebutkan bersifat keduaan karena para penganutnya percaya bahwa ada dua kekuatan yang saling berperang terus menerus, yakni kekuatan yang baik dan kekuatan yang jahat.

Kekuatan yang baik diwakili oleh Ormadz, sang dewa tertinggi, bersama dengan para pembantunya yang adalah para malaikat. Sedangkan kekuatan yang jahat diwakili oleh Ahriman, si dewa kejahatan, bersama dengan kumpulan setan-setan yang membantunya.[3]

Meskipun ajaran Zarathustra mengajarkan monoteisme dengan Ahura Mazda sebagai satu-satunya dewa yang harus disembah namun keberadaan dewa-dewa lain pun tetap diakui. Dewa-dewa yang turut diakui keberadaanya ada lima yaitu:

  1. Asha Vahista, dewa tata tertib dan kebenaran yang berkuasa atas api.
  2. Vohu Manah, dewa yang digambarkan sebagai sapi jantan ini dikenal sebagai dewa hati nurani yang baik.
  3. Keshatra Vairya, yaitu dewa yang berkuasa atas segala logam.
  4. Spenta Armaity, yaitu dewa yang berkuasa atas bumi dan tanah.
  5. Haurvatat dan Amertat, yaitu dewa-dewa yang berkuasa atas air dan tumbuh-tumbuhan.

Kitab suci agama zoroaster dikenal dengan nama Avesta. Avesta berasal dari akar kata avistak, bermakna Bacaan.[4] Ada tiga bagian di dalam kitab ini[5]:

  1. Gathas, Nyanyian” atau “ode” atau yang secara umum dan tepat dinisbahkan pada Zoroaster sendiri
  2. Yashts atau himne korban yang ditujukan kepada berbagai macam dewa
  3. Vendidat atau Videvdat, “aturan melawan syetan”, berupa sebuah risalah yang terutama menyangkut ketidakmurnian ibadah dan prinsip dualisme yang diperkenalkan oleh Zoroaster dan diuraikan sangat panjang dalam bidang kehidupan praktis.

 

  1. a.      Konsep Mengenai Etika Hidup

Etika hidup yang ideal, ada tiga hal utama yang ditekankan dalam Zoroastrianisme yaitu pikiran yang baik, perkataan yang baik dan perbuatan yang baik. Zoroastrianisme sangat menekankan tanggung jawab moral dari masing-masing orang untuk melakukan kebaikan. Dosa bagi penganut Zoroastrianisme adalah penolakan untuk bersekutu dengan aspek kebaikan dari Ahura Mazda. Mereka meyakini bahwa tidak ada yang ditakdirkan atau dikodratkan sebelumnya. Apa yang dilakukan, dikatakan dan dipikirkan selama hidup akan menentukan apa yang akan terjadi setelah meninggal. Mereka pun menolak konsep pertapaan karena mereka memahami bahwa dunia itu baik. Tidak ada ruang untuk penyangkalan diri dan bertapa karena menolak dunia berarti menolak ciptaan dan menolak ciptaan berarti menolak Sang Pencipta.

 

  1. b.      Konsep Kematian

Agama Zoroaster meyakini bahwa tubuh manusia adalah tidak suci sehingga menurut mereka jasad manusia tidak boleh mengotori bumi dan api, atas dasar alasan tersebut jasad manusia tidak boleh di kubur atau di kremasi. Oleh sebab itu orang yang telah meninggal jenazahnya akan di bawa ke kuil Towers of Silence agar di makan oleh burung pemakan bangkai, burung Nasar. Setelah daging dimakan habis oleh burung Nasar dan tinggal tersisa tulang belulang, maka tulang-tulang tersebut akan di buang ke tengah bangunan.

 

  1. c.       Konsep Kehidupan Setelah Mati (Eskatologi)

Para pengikut Zoroaster percaya bahwa ada suatu peperangan sorgawi yang berlangsung diantara dua kekuatan itu dan akhirnya (yakni pada akhir zaman) Ormadz-lah yang akan menang. Para pengikut ini yakin bahwa kematian bukanlah akhir dari segala sesuatu, melainkan akan ada suatu kehidupan baru bagi orang-orang yang benar ketika Ormadz menang.[6] Manusia diberikan kebebasan untuk memilih kebaikan dan kebenaran. Apabila kebaikan akan menuai hasilnya di kehidupan akhirat yang abadi kelak. Adapun orang yang membela kejahatan dan kedustaan, dia akan mendapatkan siksa di neraka yang abadi.

 

  1. d.      Praktek Keagamaan

Zoroaster menganjurkan pengikutnya untuk senantiasa menyalakan api suci di tungku-tungku api yang terdapat di setiap kuil peribadatan. Api tersebut harus selalu menyala dan memancarkan cahaya. Tungku api itu dijaga dan diurus oleh Magi[7], rohaniawan muda, juga oleh para pendeta kuil. Setiap hari, mereka selalu memasukkan kayu cendana ke dalam tungku api sebanyak lima kali, atau kayu lain yang mengeluarkan aroma wewangian khas, juga menaburkan serbuk-serbuk dan cairan wewangian sehingga udara di dalam kuil selalu terasa segar dan harum semerbak. Mereka juga merapalkan doa dan melaksanakan ritual keagamaan disekitar api tersebut.[8]

Dalam tradisi Zoroastrianisme, ketika akan mendirikan sebuah kuil api baru, mereka diharuskan menyalakan api terlebih dahulu pada sembilan buah lilin atau obor. Nyala api di obor pertama kemudian disalurkan untuk nyala api obor kedua, dan seterusnya hingga pada obor yang ke sembilan. Pengikut Zoroaster meyakini, api yang menyala pada obor terakhir itulah yang telah sampai pada derajat kesucian api. Dan dari api kesembilan itu mereka menyalakan api pada tungku kuil baru tersebut.

Praktek penyembahan para dewa dengan cara melakukan pengorbanan untuk menyenangkan hati para dewa. Api dinyalakan di atas altar yang dibangun khusus dan ke dalamnya dilemparkan daging binatang, biji-bijian, dan susu perah, sementara itu para pendeta mengalunkan pujian suci kepada para dewa tersebut. Apa yang dianggap khusus menyenangkan para dewa adalah persembahan berupa sari tanaman yang memabukkan, yang disebut soma dalam hymne Weda dan homa dalam Avesta.

Sementara, untuk penyembahan kepada nenek moyang di lakukan dengan cara sesajen untuk arwah para nenek moyang berupa suatu kue yang disebut darun (Iran) atau purodasha (Indo-Arya).[9]

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hinson, Dafid F. Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab diterjemahkan Pdt. M. Th. Mawene MTh. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991.

Ali, Mukti. Agama-Agama Di Dunia. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988.

al-Maghlouth, Sami bin Abdullah. Atlas Agama-Agama. Jakarta: Almahira, 2010.

Soi’yb, Joesoef. Agama-Agama Besar Di Dunia. Jakarta: Al Husna Zikra, 1996.

PDF. Ulfat Aziz Us-Samad, Agama Besar Dunia. Peshawar, 1975.

 

 


[1] Suku purba Proto-Indo-Eropa Arya

[2] Sami bin Abdullah al-Maghlouth, Atlas Agama-Agama ( Jakarta : Almahira, 2010), h. 469.

[3] Dafid F. Hinson, Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab diterjemahkan Pdt. M. Th. Mawene MTh. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991), h. 210.

[4] Joesoef Soi’yb, Agama-Agama Besar di Dunia (Jakarta: Al Husna Zikra, 1996), h. 223.

[5] H. A. Mukti Ali, Agama-Agama di Dunia (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988), h. 270-271.

[6] Dafid F. Hinson, Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab diterjemahkan Pdt. M. Th. Mawene MTh (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991), h. 210.

[7] Magi adalah para pemimpin agama.

[8] Sami bin Abdullah al-Maghlouth, Atlas Agama-Agama (Jakarta : Almahira, 2010), h. 469.

[9] PDF. Ulfat Aziz Us-Samad, Agama Besar Dunia, (Peshawar, 1975), hal.71.

Agama Mesir Kuno

AGAMA MESIR KUNO

 

  1. 1.      Sejarah dan Perkembangan Mesir Kuno

Mesir merupakan salah satu peradaban tertua di dunia yang terletak di ujung Benua Afrika bagian utara. Peradaban Mesir tumbuh dan berkembang di sekitar aliran Sungai Nil yang membentang sepanjang 6.671 km.

Sungai Nil bersumber dari mata air di dataran tinggi Pegunungan Kilimanjaro di Afrika Timur. Ada empat Negara yang dilewati sungai Nil yaitu Uganda, Sudan, Ethiopia dan Mesir. Peradaban Mesir Kuno bertahan lebih dari 3000 tahun sehingga peradaban Mesir Kuno disebut sebagai peradaban kuno terlama di dunia, sekitar tahun 3300 SM sampai 30 SM.

Selain itu, wilayah Mesir juga memiliki gurun di sebelah barat dan timur, laut di sebelah utara, dan bagian sungai Nil yang deras atau air terjun di sebelah selatan dapat mempersulit serangan musuh. Menurut para arkeolog, orang Mesir menyebut negeri mereka Kemet, yang berarti “Daratan Hitam” yang mengacu pada tanah gelap yang merupakan lahan subut yang tersisa setelah luapan sungai Nil. Mereka juga menggunakan istilah lain, Deshret, yaitu “Daratan Merah”, yang mengacu pada gurun yang terbakar di bawah terik matahari.

Orang-orang Mesir diperkirakan telah menempati wilayah tersebut sejak 6.000 tahun SM. Wilayah mesir merupakan daratan subur yang dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Secara Geografis, Mesir memiliki perlindungan alam berupa dua gurun, yakni Nubia dan Sahara yang menjadikan Mesir terlindungi dari ancaman serangan bangsa asing. Bangsa Mesir mengenal tiga musim: Akhet (banjir), Peret (tanam), dan Shemu (panen). Bangsa ini menanam gandum emmer dan jelai, serta beberapa gandum sereal lain sebagai bahan roti dan bir. Tanaman sayur dan buah dikembangkan di petak-petak perkebunan dekat dengan pemukiman yang tinggi dan harus diairi dengan tangan, seperti bawang perai, bawang putih, squash, kacang, selada, anggur dan tanaman lain.

Penduduk Mesir mulai menempati lembah Sungai Nil sekitar tahun 5000-525 SM, yaitu pada masa neolitik sampai pada kekuasaan absolut para firaun. Secara kronologis, sejarah Mesir dapat dibagi menjadi beberapa periode, yakni

a)      Periode prasejarah sebelum tahun 3400 SM,

b)      Periode kerajaan lama (3400-2475 SM),

c)      Periode transisi feudalism (2475-2160 SM),

d)     Periode pertengahan (2160-1780 SM),

e)      Periode dominasi Hykso (1780-1580 SM), dan

f)       Periode emperium (1580-525 SM).

 

Periode prasejarah Mesir ditandai dengan banyak ditemukan peralatan pada kuburan bangsa Mesir, diperkirakan dimulai sejak tahun 1500 SM.

Jika dilihat time line Mesir Kuno, maka daratan yang dikenal sebagai wilayah yang subur ini memiliki pola peradaban yang sangat panjang.

Waktu

Peradaban

6000 SM

Pertanian dimulai di Lembah Sungai Nil

3300-3100 SM

Berkembang kota pertama

3000 SM

Mesir Atas dan Mesir Bawah disatukan menjadi satu kerajaan

2630 SM

Zaman Piramida, piramida didirikan untuk pertama kalinya

Kerajaan Tua (2649-2134 SM)

2575-2465 SM

 

 

2134-2040 SM

 

 

Selama pemerintahan dinasti keempat, kekuasaan Mesir meningkat dramatis

 

Periode Pertengahan Pertama

Mesir terbagi menjadi dua kerajaan

Kerajaan Tengah (2040-1640 SM)

2040 SM

1640-1532 SM

 

 

 

 Sesotris III menyatukan Mesir kembali

Periode Pertengahan Kedua

Bangsa Hyksos menduduki Mesir Bawah

Kerajaan Baru (1532-1070 SM)

1504-1492 SM

 

1285 SM

 

1070-712 SM

 

 

Kekaisaran Mesir mencapai puncak kejayaannya di bawah Tuthmosis I

Ramses menyatakan kemenangan di Qadesh melawan bangsa Hittites

Periode Pertengahan Ketiga

Kekuatan Mesir menurun drastis

924 SM

Shosenq I menyerang Israel dan Yudah

828-712 SM

Mesir dibagi menjadi lima kerajaan

Periode Akhir 712-332 SM

712 SM

671 SM

525 SM

332 SM

 

Mesir diperintah oleh raja dari Nubia

Bangsa Assyria menaklukkan Mesir

Bangsa Persia menaklukkan Mesir

Mesir dikalahkan oleh Alexander Agung

 

Dari time line di atas dapat dilihat, bahwa Mesir terbagi dalam dua bagian, yaitu Mesir Bawah (Lower Egypt), merupakan hilir Sungai Nil, yang terletak di Utara dekat Laut Tengah, dan Mesir Atas (Upper Egypt), yang terletak di Selatan lebih dekat hulu Sungai Nil.

Sistem sosial kemasyarakatan, Mesir Kuno sangat terstratifikasi dan status sosial yang dimiliki seseorang ditampilkan secara terang-terangan. Sebagian masyarakat bekerja sebagai petani, namun hasil pertanian dimiliki dan dikelola oleh negara, kuil, atau keluarga ningrat yang memiliki tanah. Petani juga dikenai pajak tenaga kerja dan dipaksa bekerja membuat irigasi atau proyek konstruksi. Seniman dan pengrajin mempunyai status yang lebih tinggi dari petani, namun mereka dibawah kendali negara, bekerja di toko-toko yang terletak di kuil dan dibayar langsung dari kas negara. Mesir Kuno memandang pria dan wanita dari kelas sosial apapun, kecuali budak, sama di mata hukum. Bahkan wanita seperti Hatshepsut dan Cleopatra bisa menjadi firaun.

Masyarakat Mesir Kuno dibagi menjadi enam tingkatan sebagai berikut:

1)      Firaun dan keluarganya yang hidup mewah

2)      Para bangsawan yang juga hidup mewah

3)      Para pedagang dan pengusaha yang tinggal di kota-kota

4)      Para petani yang tinggal di desa-desa

5)      Para buruh yang tinggal di kota

6)      Para budak yang dipekerjakan oleh para bangsawan dan firaun.

 

Struktur sosial, terdiri dari kelas atas yang didominasi oleh para penguasa dan pendeta, kelas menengah dan kelas rakyat yang sebagain besar sebagai budak.[1]

 

  1. A.    Perkembangan Pemerintahan Mesir Kuno
    1. a.      Zaman Kerajaan Tua (3000-2200 SM)

Pada masa ini, Raja Menes berhasil menyatukan Mesir Hulu dan Hilir. Dia kemudian digantikan oleh Raja Chufu (Chefren) tahun 2200-2150 SM. Setelah itu, Raja Sesotris tahun 2150-2000 SM. Pada masa ini, makam raja-raja berbentuk piramida dan di depannya terdapat Sphink.

Periode kerajaan lama, sudah memasuku zaman logam. Selama berada di bawah enam kekuasaan dinasti firaun pada masa kerajaan lama, sentralisasi kekuasaan yang kuat menjadi berkurang dan memunculkan independensi dan ambisi para gubernur propinsi. Akibat terjadinya perang sipil, kekuatan firaun menjadi runtuh, sementara para gubernur saling berebut kekuasaan di antara mereka.

Pada masa pertengahan, Sensoris II dan Amenemhet III telah berhsil membuat sistem kerajaan firaun bersifat monarkhi yang kuat, dengan hukum, aturan, kemakmuran ekonomi dan kemajuan peradaban. Selain tiu, peradaban yang paling menonjol dalam bidang literatur dan kesenian.

Sekitar tahun 1780 SM, Bangsa Hyksos dari Asia berhasil menaklukan Mesir kawasan Delta sampai lembah sungai Nil bagian atas. Azhmes dari Thebes berhasil menjadikan Mesir masuk ke babak baru, yaitu masa emperium. Para penguasa di masa ini meyakini bahwa Mesir dapat aman dari serbuan asing dengan mengontrol Palestina, Syuria, Phoenesia, kawasan air di Timur Mediterania serta mengontrol nite-nite perdagangan oleh pasukan infantri.

Peradaban paling besar pada periode ini adalah Mosis III (1479-1447 SM) biasa disebut Napoleon oleh bangsa Mesir. Dia berhasil menaklukan Syuria, Phoenesia, Palestina, Nubia dan kawasan Siprus.

Thebes sebagai ibukota Mesir menjadi kota terkaya di dunia, dengan beberapa kuil tanaman yang indah dan rumah-rumah besar dan indah milik para pembesar. Di bawah kekuasaan Amenhotep II (1411-1375 SM), masa emperium mengalami kemunduran yang ditandai dengan adanya kontroversi agama dan kehilangan teritorial.[2]

 

  1. b.      Zaman Kerajaan Tengah (2000-1700 SM)

Sekitar tahun 2000-1800 SM, terjadi perang saudara, yaitu pada masa pemerintahan Raja Hatshepsut. Tahun 1800-1700 SM, kerajaan dalam keadaan genting sehingga Raja Hatshepsut mengirimkan tentara ekspedisi ke Afrika Timur. Kota Karnak yang penuh dengan Kuil diperbaiki dan didirikan Obelisk.

 

  1. c.       Zaman Kerajaan Baru (1700-1100 SM)

Sekitar tahun 1700 SM, Mesir diserang oleh bangsa Hyksos. Sekitar tahun 1600 SM, bangsa ini berhasil diusir. Raja Thutmosis II, berhasil memperluas kekuasaan sampai ke Syirua dan pulau Kreta. Pada Masa Ramses II, wilayah Mesir sampai ke Palestina, Sisilia dan Sardinia. Pada masa Ramses, Mesir lumpuh. Akibatnya kerajaan ini tidak mampu menghadapi serangan-serangan dari luar, seperti:

1)      Abad ke-9 SM, Mesir ditundukkan bangsa Assiria

2)      Abad ke-6 SM, Mesir ditundukkan bangsa Persia

3)      Abad ke-4 SM, Mesir ditundukkan oleh Raja Iskandar Zulkarnaen dari Macedonia (Yunani).[3]

 

 

 

  1. B.     Peradaban Mesir Kuno

Sistem Hukum Mesir Kuno secara resmi dikepalai oleh firaun yang bertanggung jawab membuat peraturan, menciptakan keadilan, serta menjaga hukum dan ketentraman, sebuah konsep yang disebut masyarakat Mesir Kuno sebagai Ma’at.

Dewan sesepuh lokal, dikenal dengan nama Kenbet di Kerajaan Baru, bertanggung jawab mengurus persidangan yang hanya berkaitan dengan permasalahan-permasalahan kecil. Sedangkan untuk kasus yang lebih besar diserahkan kepada Kenbet Besar yang dipimpin oleh Wazir atau firaun.

Dalam bidang perekonomian, secara besar perekonomian diatur secara ketat dari pusat. Bangsa Mesir Kuno malakukan transaksi dengan cara barter berupa karung beras dan beberapa deben (satuan berat yang setara dengan 91 gram), tembaga atau perak sebagai denominatornya. Pekerja dibayar dengan biji-bijian; pekerja kasar hanya mendapat 5 karung (200 kg)/bulan, sementara mandor mendapat 7 karung (250 kg)/bulan. Pada abad ke-5 SM, uang koin mulai digunakan di Mesir.

Dalam bidang Arsitektur dan Seni, Selama 3500 tahun, seniman mengikuti bentuk artistik dan ikonografi yang dikembangkan pada masa Kerajaan Lama. Perpaduan antara teks dan gambar biasa diukir di tembok makam dan kuil, peti mati, maupun patung. Bahan dasar yang digunakan dengan batu dan kayu untuk memahat. Firaun menggunakan relief untuk mencatat kemenangan dipertempuran, dekrit kerajaan atau peristiwa religius. Salah satu kota pertama di Mesir bernama Hierakonpolis. Di Hierakonpolis, orang Mesir kuno juga sudah membuat lembaran seperti kertas dari daun papirus. Setelah daun papirus dikeringkan, di atasnya mereka dapat menggambar dan menulis huruf hieroglif.

Karya arsiterktur yang paling terkenal adalah Piramida Giza dan kuil di Thebes. Proyek pembangunan dikelola dan didanai oleh pemerintah untuk tujuan religius, sebagai bentuk peringatan, atau untuk menunjukkan kekuasaan firaun. Salah satu kontribusi penting lain bangsa Mesir adalah kemajuan dalam bidang seni tulis, khususnya terhadap alphabet literatur tertua yang terdapat pada teks-teks Piramida yang dapat dijumpai pada dinding makam raja ke-5 dan ke-6 yang berisi mantra-mantra magis, mitos dan nyanyian religius. Sedangkan dalam ilmu pengetahuan, bangsa Mesir adalah pertama kali dalam matematika terapan, dan sedikit dalam bidang fisika dan astronomi.

 

  1. 2.      Ajaran dan Kepercayaan Agama Mesir Kuno
    1. a.      Bangsa Mesir Kuno menyembah banyak dewa

Ketika Mesir terdiri dari 42 wilayah sebelum disatukan Mina, setiap wilayah memiliki dewa khusus yang disembah. Mereka mendirikan beberapa kuil dan membuat patung para dewa. Pada hari-hari besar, mereka berkerumun mengitari patung-patung itu. Ada daerah yang menyembah elang sebagai simbol kekuatan, ada juga yang memuja sapi sebagai simbol kebenaran dan kasih sayang.

 

1)      Jenis-jenis dewa bangsa Mesir Kuno

Dewa yang paling tinggi ialah Ra (matahari waktu tengah hari). Dewa Ra dipandang sebagai dewa yang melahirkan dewa-dewa lainnya sehigga terdapat 9 orang dewa pokok, sebagai berikut:

  1. Dewa Ra: dewa matahari
  2. Dewa Nut : dewa langit
  3. Dewa Geb : dewa bumi
  4. Dewa Su : dewa hawa
  5. Dewa Tefnit : dewa udara panas
  6. Dewa Osiris : dewa sungai nil
  7. Dewa Isis : dewa kesuburan
  8. Dewa Sit : dewa padang pasir
  9. Dewa Nefus : dewa kekeringan

 

2)      Hewan yang Dipandang Suci

Selain diatas, mereka juga menunjukkan dewa-dewa kecil yang bersifat individual atau bersifat lokal (setempat). Dewa-dewa kecil dipuja oleh kelompok suku-suku, dinasti dari raja-raja/Farao tertentu. Dengan kepercayaan kepada adanya dewa-dewa kecil itu, maka muncullah 42 dewa-dewa yang terdiri dari 9 dewa besar, dan 33 dewa kecil lainnya yang\ mendapat pemujaan sepanjang masa.

Dewa-dewa kecil itu melambangkan kekuatan alam dan juga terdiri dari binatang-binatang  yang dipandang suci dan dipuja oleh mereka seperti:

  1. Dewa Aton : dewa matahari diufuk timur (pagi hari)
  2. Dewa Horus : dewa dimusim semi
  3. Dewa Funix : dewa burung bangau
  4. Dewa Ibis : dewa burung air
  5. Dewa Hator : dewa sapi
  6. Dewa Apis : dewa lembu jantan yang sangat disucikan oleh pendeta-pendeta

Binatang yang dipandang suci adalah kucing, anjing, buaya, dan sebagainya. Dan itu disebut dengan Totemisme, yang merupakan jenis binatang suci dari para dewa. Pembatasan-pembatasan moral yang dalam, dilarang membunuh, serta menyakiti orang lain adalah berasal dari faham totemisme ini. Jadi jika bangsa Mesir memuja binatang baik secara simbolis maupun langsung, maka hal tersebut disebabkan karena watak dan jalan pikirannya terpengaruh oleh kesederhanaan dalam memahami gejala alam sekitar.

 

  1. b.      Keyakinan tentang Penghitungan Setelah Kematian

Pengadilan orang mati dalam naskah Papyrus yang berasal dari Thebes yang mengacu pada tahun 1025 SM termaktub, dewa Anobis menimbang jantung si mayat dengan timbangan keadilan. Sementara Osiris sebagai dewa kematian berada disebelah kanan Anobis mengikuti persidangan. Karena itulah bangsa Mesir Kuno percaya bahwa arwah setelah mati akan dipersidangkan sesuai perbuatna yang dilakukan di dunia.

Persidangan tersebut terdiri dari 42 hakim yang mewakili beberapa wilayah Mesir yang dipimpin oleh dewa Osiris sebagai dewa kematian. Sementara itu, jantung si mayat diletakkan disalah satu sisi timbangan dan di sisi lainnya diletakkan di sehelai bulu mewakili dewi Maat, dewi kejujuran dan keadilan, sekaligus putri dewa Ra. Karena itu bila timbangannya ringan berarti seseorang itu suci yang akan ditempatkan surga, dan bila timbangannya berat berarti dia adalah pendosa yang akan digiring ke neraka.

Kepercayaan bangsa Mesir Kuno terhadap pahala dan siksa di akhirat adalah buah diutusnya sejumlah para nabi mereka, seperti nabi Ibrahim, Yusuf, Musa dan Harun. Dengan begitu, pengaruh tersebut yang mendorong mereka mencatat perbuatan yang baik dan meninggalkan perbuatan yang buruk.

 

  1. c.       Keluhuran Monotheisme

Hal ini nampak dalam hal kepercayaan keagamaan hasil ajaran Farao Achnaton esensi ajarannya merupakan kekuatan reaksi terhadap kepercayaan agama masyarakat dan raja yang telah berakar serta berkembang berabad-abad lamanya yakni pemujaan terhadap banyak dewa. Farao Achnaton memaksakan kepada rakyatnya untuk mengikuti ajaran monotheisme yaitu kepercayaan kepada satu dewa saja; dewa Aton; dewa matahari  terbit di ufuk timur.

Dari segi politik ajaran Achnaton berarti mematahkan kekuasaan pendeta dalam pemerintah sebab Achnaton adalah seorang raja yang membenci dewa Amon ikut serta dalam pemerintah. Bahkan kuil Amon di Memphis dan kuil-kuil lainnya dihilangkan, diganti dengan kuil Aton di Thebe, kota Achet. Kuil Aton ini terletak ditengah-tengah padang pasir dikelilingi dinding persegi panjang  tanpa atap di atasnya, di tengah-tengahnya dibangun suatu obelisk lambang pemujaan dewa Aton.

Demikianlah gambaran umum kepercayaan Mesir Kuno terhadap dewa serta pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan hidup kegamaan mereka. Agar mereka tidak berlarut-larut dalam jurang kesesatan, tahayul-tahayul serta hurafat-hurafat, maka Allah segera mengutus Nabi Musa pada masa Farao Ramses II pada abad ke-13 SM. untuk meluruskan sistem kepercayaan mereka yang tidak benar itu.

Walaupun Farao Ramses II saat itu tidak mau mengikuti ajaran Nabi Musa, namun akhirnya ajaran Nabi Musa berdasarkan monotheisme mutlak dengan 10 perintahnya (Ten Commendements) dapat mendobrak polytheisme bangsa tersebut termasuk tradisi-tradisi kepercayaan paganistis (keberhalaan) mereka.

Akhirnya riwayat agama paganisme dan polytheisme Mesir Kuno mengalami kehancuran total bersama dengan runtuhnya kerajaan Farao pada abad ke-6 SM.

 

  1. d.      Kepercayaan tentang Jiwa dan Ruh

Menurut Mesir Kuno, bahwa ruh adalah seperti angin atau hawa yang tidak nampak bentuk dan rupanya, tetapi dapat dirasakan kekuatannya. Ruh disebut “BA” yakni ruh yang benar-benar dan kekuatan lain yang disebut “KA” yaitu jiwa atau tubuh halus.

Dari kedua unsur tersebut ada hubungannya yaitu kekuatan yang disebut “KA”. Apabila manusia meninggal dunia maka “KA” selalu mendatangi tubuh jamaninya dan memberi nasihat kepada keluarganya. Itulah sebabnya timbul pemikiran untuk membuat mummi agar tubuh mayat itu tidak rusak, sehingga “KA” senang mendatangi tubuhnya itu.

Mayat Farao atau raja-raja, selain diawetkan dengan mummi juga dibalut dengan emas yang sama bentuk dan rupanya. Setelah itu dikuburkan dalam piramida-piramida atau kuburan batu lembah raja-raja. Piramida tertinggi di Mesir adalah piramida Raja Cheops 137 meter tingginya; sedang mummi yang paling terkenal karena seninya serta mutu emasnya ialah mummi Tut Ank Amon yang telah terbaring dalam suatu pemakaman kuburan batu selama 33 abad lamanya.

 

 

 

  1. 3.      Praktek Keagamaan Mesir Kuno

Ritual yang dilakukan Bangsa Mesir Kuno adalah ritual Ozres yang diyakini bahwa setiap manusia baik raja maupun rakyat akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya.

Bangsa Mesir Kuno percaya bahwa manusia akan dibangkitkan kembali setelah kematian untuk hidup abadi. Ketika kematian menjemput, arwah seseorang akan naik ke langit berbentuk seperti burung. Jika jasadnya tetap utuh setelah dimakamkan, maka arwahnya akan kembali kepadanya. Keyakinan inilah yang membuat mereka memumikan jenazah seseorang. Demi menjaga keutuhannya, maka mereka membangun Piramida besar untuk menjaga keutuhan jasad tersebut.[4]

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Umar, Mustofa. Mesopotamia dan Mesir Kuno: Awal Peradaban Dunia, vol. 11, El-Harakah, 2009.

http://dewasastra.wordpress.com

http://sejarahnasionaldandunia.blogspot.com/2012/10/sejarahmesirkuno.htm

 

 


[1] Mustofa Umar, Mesopotamia dan Mesir Kuno: Awal Peradaban Dunia, vol. 11 (El-Harakah, 2009), h. 211

[2] Ibid., h. 208-210

[3] http://sejarahnasionaldandunia.blogspot.com/2012/10/sejarahmesirkuno.htm