Agama Mesir Kuno

  1. I.       PEMBAHASAN

Dalam Encyclopedia of World Religions ditulis: “country located in the north-eastern corner of Africa, divided into two enequal, extremely arid regions by the landscape’s dominant feature, the northward-flowing Nile River. It is one of the world’s oldest continuous civilizations, in ancient times ruled by a Pharaoh”.[1]

Mesir merupakan salah satu pusat peradaban tertua di dunia yang terletak di ujung Benua Afrika bagian utara. Peradaban Mesir tumbuh dan berkembang di sekitar aliran Sungai Nil yang membentang sepanjang 6.671 km. Orang-orang Mesir diperkirakan telah menempati wilayah tersebut sejak 6.000 tahun sebelum Masehi. Di tempat yang subur inilah nenek moyang bangsa Mesir membangun daerah-daerah pemukiman dan memanfaatkan daerah yang subur tersebut sebagai lahan pertanian. Kesuburan tersebut telah menciptakan kemakmuran penduduk. Selain itu, Mesir secara geografis memiliki perlindungan alam berupa gurun. Gurun Nubia dan Gurun Sahara menjadikan Mesir terlindungi dari ancaman serangan bangsa asing.

Berikut peta geografis Negara Mesir Kuno:

 

 

 

 

Wilayah terluas Mesir Kuno

(abad ke-15 SM).

 

 

Kondisi geografi yang mendukung dan tanah di tepi sungai Nil yang subur membuat bangsa Mesir mampu memproduksi banyak makanan, dan menghabiskan lebih banyak waktu dan sumber daya dalam pencapaian budaya, teknologi, dan artistik. Pengaturan tanah sangat penting di Mesir Kuno karena pajak dinilai berdasarkan jumlah tanah yang dimiliki seseorang. Pertanian di Mesir sangat bergantung kepada siklus sungai Nil. Bangsa Mesir mengenal tiga musim: Akhet (banjir), Peret (tanam), dan Shemu (panen). Bangsa Mesir menanam gandum emmer dan jelai, serta beberama gandum sereal lain, sebagai bahan roti dan bir. Tanaman-tanaman Flax ditanam dan diambil batangnya sebagai serat. Serat-serat tersebut dipisahkan dan dipintal menjadi benang, yang selanjutnya digunakan untuk menenun linen dan membuat pakaian. Papirus ditanam untuk pembuatan kertas. Sayur-sayuran dan buah-buahan dikembangkan di petak-petak perkebunan, dekat dengan permukiman, dan berada di permukaan tinggi. Tanaman sayur dan buah tersebut harus diairi dengan tangan. Sayur-sayuran meliputi bawang perai, bawang putih, squash, kacang, selada, dan tanaman-tanaman lain. Anggur juga ditanam untuk diolah menjadi arak.

Penduduk Mesir kuno mulai menempati kawasan lembah Nil sekitar tahun 5000-525 SM, yaitu sejak orang Mesir primitif periode perkembangan neolitik sampai pada perkembangan peradaban masa kekuasaan para Firaun absolute. Secara kronologis, sejarah Mesir dapat dibagi menjadi beberapa periode. Sejarah Mesir sebelum tahun 3400 SM disebut dengan periode prasejarah, periode kerajaan lama (3400-2475 SM), periode transisi feudalism (2475-2160), periode pertengahan (2160-1780 SM), ditambah dengan periode dominasi Hykso (1780-1580 SM) dan periode emperium (1580-525 SM).

Periode prasejarah Mesir ditandai dengan banyak ditemukan peralatanperalatan pada kuburan kuburan bangsa Mesir, diperkirakan dimulai sejak tahun 1500 SM. Dengan demikian, penduduk Mesir sudah menggunakan peralatan dimulai sejak masa paleolitik dan neolitik (zaman batu tua dan batu muda). Kemajuan bangsa Mesir lebih ditopang oleh hasil bumi yang subur, sejak pra dinasti sudah terjalin kerja sama dalam pembuatan kanal dan irigasi. Gambaran ini menunjukkan sudah adanya unit-unit politik meskipun masih kecil, yang secara gradual membentuk dua dua kerajaan, atas di bagian selatan, bawah di bagian utara sekitar tahun 5000 SM (Bogardus, 1995: 56).[2]

Sistem Sosial Kemasyarakatan

 

Gambar patung yang menggambarkan kegiatan masyarakat kecil Mesir Kuno.

 

Dilihat dari system social kemasyarakatan, Mesir Kuno ketika itu sangat terstratifikasi dan status sosial yang dimiliki seseorang ditampilkan secara terang-terangan. Sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani, namun demikian hasil pertanian dimiliki dan dikelolah oleh negara, kuil, atau keluarga ningrat yang memiliki tanah. Petani juga dikenai pajak tenaga kerja dan dipaksa bekerja membuat irigasi atau proyek konstruksi. Seniman dan pengrajin memunyai status yang lebih tinggi dari petani, namun mereka juga berada di bawah kendali negara, bekerja di toko-toko yang terletak di kuil dan dibayar langsung dari kas negara. Juru tulis dan pejabat menempati strata tertinggi di Mesir Kuno, dan biasa disebut “kelas kilt putih” karena menggunakan linen berwarna putih yang menandai status mereka. Perbudakan telah dikenal, namun bagaimana bentuknya belum jelas diketahui. Mesir Kuno memandang pria dan wanita, dari kelas sosial apapun kecuali budak, sama di mata hukum. Baik pria maupun wanita memiliki hak untuk memiliki dan menjual properti, membuat kontrak, menikah dan bercerai, serta melindungi diri mereka dari perceraian dengan menyetujui kontrak pernikahan, yang dapat menjatuhkan denda pada pasangannya bila terjadi perceraian. Dibandingkan bangsa lainnya di Yunani, Roma, dan bahkan tempat-tempat lainnya di dunia, wanita di Mesir Kuno memiliki kesempatan memilih dan meraih sukses yang lebih luas. Wanita seperti Hatshepsut dan Celopatra bahkan bisa menjadi firaun. Namun demikian, wanita di Mesir Kuno tidak dapat mengambil alih urusan administrasi dan jarang yang memiliki pendidikan dari rata-rata pria ketika itu. Juru tulis adalah golongan elit dan terdidik. Mereka menghitung pajak, mencatat, dan bertanggung jawab untuk urusan administrasi.

Masyarakat Mesir Kuno dibagi menjadi enam tingkatan sebagai berikut:

  1. Fir’aun dan keluarganya yang hidup mewah.
  2. Para Bangsawan yang juga hidup mewah.
  3. Para Pedagang dan pengusaha yang tinggal di kota-kota.
  4. Para petani yang tinggal di desa-desa.
  5. Para buruh yang tingal di kota-kota.
  6. Para budak yang dipekerjakan oleh para bangsawan dan fir’aun

 

Struktur sosial Mesir terdiri dari kelas atas yang didominasi oleh para penguasa dan pendeta, kelas menengah dan kelas rakyat yang sebagian besar sebagai budak. Seluruh sejarah kehidupan Mesir, basis ekonominya adalah pertanian dengan sistem sentralisasi irigasi memungkinkan hasil panen yang melimpah, sehingga industri sudah ada pada masa kerajaan lama. Setiap bulan Juli sungai Nil akan meluap, sedangkan bulan Nopember akan mengalami kekeringan. Hal ini sejak lama telah diantisipasi oleh bangsa Mesir dengan melakukan pertanian yang bervariasi. Pengembangan tembaga, penggunaan bahan kaca, penggalian batu secara terorganisir, serta teknik pemahatan relief sangat efisien dan maju yang tidak dijumpai di Eropa sampai periode revolusi industri.[3]

 

  1. A.    Perkembangan pemerintahan Mesir Kuno

Masa pemerintahannya dapat dikelompokkan menjadi tiga zaman, yaitu: Kerajaan Tua, Kerajaan Tengah dan Kerajaan Baru.

  1. a.      Zaman Kerajaan Tua (3000-2200 SM)

Pada masi ini, raja Menes berhasil menyatukan Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Dia kemudian digantikan oleh raja Chufu (Chefren) tahun 2200 SM-2150 SM. Setelah itu, yang berkuasa adalah raja Sesotris tahuan 2150-2000 SM. Pada masa ini, makam raja-raja berbentuk piramida dan di depannya terdapat Sphink.

Periode kerajaan lama, sudah memasuki zaman logam, perdagangan sudah mengalami kemajuan, kapal-kapal dagang telah dikirim ke kawasan pantai Syria untuk memperoleh kayu sebagai bahan pembuatan kapal, rumah dan perabotan lainnya. Industri sudah dimulai pada masa ini, manifaktur dari kaca, permata-permata yang indah banyak dihasilkan oleh para pengrajin. Indikasi kemajuan peradaban pada masa kerajaan lama adalah peninggalan piramida-piramida. Piramida pertama dibangun pada masa dinasti ketiga, merupakan kuburan batu besar pertama di

dunia. Dari enam dinasti kerajaan lama yang ada, dinasti keempat adalah yang paling kuat dengan membangun piramida besar sebagai kuburan pagi Firaun Khufu dan dikenal dengan Cheops. Pembangunan piramida ini membutuhkan 100.000 pekerja dikerjakan selama dua puluh tahun. Bangunan ini didesain untuk memprotek jasad Firaun setelah mati. Dari sini, menunjukkan bahwa pengetahuan geometri telah dikenal baik oleh  bangsa Mesir, mereka telah menggunakan perunggu untuk memotong batu Kerajaan Mesir mengalami pertumbuhan besar menuju fase baru dengan kekuasaan yang bersifat feodalistik.

Selama berada di bawah kekuasaan enam dinasti Firaun pada masa kerajaan lama, sentralisasi kekuasaan yang kuat menjadi berkurang yang memunculkan independensi dan ambisi para gubernur propinsi. Akibat terjadinya perang sipil, kekuatan para Firaun menjadi runtuh, sementara para gubernur saling berebut kekuasaan di antara mereka. Secara umum, masyarakat tidak dapat menahan kelaparan karena adanya tekanan dari tirani-tirani kecil, kerusakan yang disebabkan oleh peperangan, sehingga praktis masa ini kemajuan peradaban terhenti (Bogardus, 1995: 57).

Setelah selama 300 tahun berada dalam disintegrasi atau disunity, putra-putra mahkota dari Nil bagian atas telah berhasil membangun kembali sebuah negara kesatuan. Di masa kekuasaan satu Firaun terdapat dua belas dinasti selama dua abad, yang paling menonjol adalah Sesostris III and Amenemhet III dengan kemampuannya membawa kerajaan para Firaun

bersifat monarki yang kuat, dengan hukum, aturan, kemakmuran ekonomi dan kemajuan peradaban. Jika kerajaan lama terkenal dengan piramidanya, maka pada masa pertengahan ini lebih menonjol dalam bidang literatur dan kesenian (Bogardus: 1995: 57).

Sekitar tahun 1780 SM, seorang Asia dikenal oleh bangsa Mesir dengan Hykos, dengan pasukan berkuda dan kereta yang superior telah menaklukkan Mesir kawasan Delta secara keseluruhan dan bertahap sampai pada lembah Nil bagian atas. Selama dua abad sampai tahun 1580 SM di bawah kekuasaan orang asing, telah melahirkan nasionalisme bangsa Mesir.

Azhmes liberalis dari Thebes adalah seorang pahlawan nasional yang besar telah membebaskan bangsa Mesir menuju babak baru, yaitu masa emperium. Para penguasa emperium ini meyakini bahwa untuk menjaga keamanan negara Mesir dari serbuan bangsa asing adalah dengan mengontrol Palestina, Syria, Phoenisia, kawasan air di timur Mediterania serta mengontrol nite-nite perdagangan oleh pasukan infantri. Firaun yang paling besar peradaban pada periode ini adalah Mosis III (1479-1447 SM) biasa disebut sebagai Napoeleon oleh bangsa Mesir. Dia mampu menaklukkan Syuria, Phoenesia, Palestina, Nubia dan dilengkapi dengan kawasan Siprus. Kebesaran Mesir berada di bawah kekuasaan Firaun dinasti ke-18; peradaban dan kekuatan politik, politik hukum dan peraturan-peraturan di lembah Nil. Perkembangan perdagangan dan kemakmuran yang besar dari rampasan perang yang mengalir ke Mesir.

Thebes sebagai ibukota Mesir menjadi kota terkaya di dunia. Beberapa kuil taman yang indah dan rumah-rumah besar dan indah milik para pembesar membuat Thebes tampak lebih indah (Bogardus, 1995: 58). Di bawah kekuasaan Amenhotep III (1411-1375 SM), emperium Mesir mengalami kemunduran, yang ditandai dengan adanya kontoversi agama, dan kehilangan teritorial.[4]

 

  1. b.      Zaman Kerajaan Tengah (2000-1700 SM)

Sekitar tahun 2000 SM-1800 SM terjadi perang saudara, yaitu pada masa pemerintahan raja Hatshepsut. Tahun 1800-1700 SM, Kerajaan dalam keadaan genting. Pada masa genting inilah Raja Hatshepsut mengirimkan tentara ekspedisi ke Afrika Timur, sehingga saudagar-saudagar memperoleh pasaran baru. Kota Karnak yang penuh dengan kuil diperbaiki dan didirikan Obelsik yang besar. Di Derel Bakri dibangun kuil yang indah. Dia juga membuat pemakaman rahasia di gunung pasir (sebelah barat Sungai Nil).

  1. c.       Zaman Kerajaan Baru (1700-1100 SM)

Sekitar tahun 1700 SM, Mesir diserang oleh bangsa Hiksos dari Asia. Sekitar tahun 1600 SM, bangsa Hiksos berhasil diusir. Raja yang terkenal adalah Thutmosis III. Dia berhasil memperluas kekuasaan sampai ke Syiria dan pulau Kreta. Dia juga memindahkan pusat pemerintahan yang semula di Memphis ke Thebe. Pada masa raja Ramses II Agung, wilayahnya sampai ke Palestina, Sisilia dan Sardinia. Pada masa Raja Ramses II Mesir menjadi lumpuh. Akibatnya kerajaan ini tidak mampu menghadapi serangan-serangan dari luar. Selengkapnya sebagai berikut:

1.Pada abad ke-9 SM, Mesir ditundukkan bangsa Assiria.

2.Pada abad ke-6 SM, Mesir ditundukkan bangsa Persia.

3.Pada abad ke-4, Mesir ditundukkan oleh raja Iskandar Zulkarnaen dari Macedonia (Yunani). Akhirnya, diditemukan nama kota Iskandariah. Dia juga menggabungkan kebudayaan Timur (Asia-Afrika). Hal ini disebut Hellenisme.Hellen adalah sebutan bagi orang-orang Yunani.[5]

Ramses II (1292-1225 SM) dinasti ke-19, dikenal sebagai Firaun yang menindas bangsa Yahudi dan berusaha untuk merestorisasi, atau memulihkan kembali kejayaan emperium Mesir. Kekuatan bangsa Mesir dibangun kembali di Dyria selatan dan Palestina. Monumen-monumen besar telah dibangun disepanjang sungai Nil, sehingga dari luar emperium tampak makmur dan aman. Setelah periode ini seluruh kawasan Timur dekat muncul kekuatan, sementara Ramses III (1198-1167 SM) hanya mempertahankan emporium dari kehancuran. Setelah Ramses III tidak ada lagi pemimpin dari bangsa Mesir yang brilian. Akhirnya Mesir di bawah kekuasaan bangsa-bangsa asing, Afrika, Assyria dan Persia tahun 525 SM. Pada masa ini praktis bangsa mesir

telah kehilangan kemerdekaan politiknya. Setelah kedatangan Islam, Mesir telah banyak meninggalkan tradisi kuno mereka.

Sistem pemerintahan pada teritorial kerajaan Mesir lama adalah absolut secara ekstrim, seluruh kekuasaan berada di bawah tangan Firaun. Siapa yang dipanggil dengan Firaun berarti rumah besar (Great House). Para Firaun merupakan pemilik seluruh tanah, tidak ada pertanyaan bagi para penguasa ini. Rakyat Mesir percaya bahwa jika hal itu dilakukan, maka akan mendapat sangsi dari para dewa. Pemerintahan Mesir bersifat teokratik, dengan mengkombinasikan agama dan fungsi politik. Di samping sebagai raja, Firaun sebagai dewa penguasa tanah dan spiritual. Keberhasilan system administrasi kerajaan lama, memungkinkan adanya sentralisasi kekuasaan

yang absolut. Dalam mengatur negara, raja dibantu oleh seorang ketua bendahara dan dua orang perdana menteri. Sistem paternalisme tiada lain adalah untuk melanggengkan kekuasaan dan kemakmuran keluarga raja (Bogardus, 1995: 60).

Sejak kerajaan lama, komersial mengalami kemajuan sangat pesat sepanjang sungai Nil. Ekspedisi melaut di laut merah dengan memakai perahu telah dilakukan, sehingga bangsa Mesir dapat mengklaim bahwa merekalah bangsa pertama menggunakan perahu. Sejak 2750 SM, perahu-perahu Mesir berlayar menelusuri pantai Timur Mediterania sampai Phoenesia. Perdagangan emperium memiliki empat rute. Lewat kanal yang dikonstruksi sebagai penghubung antara laut Merah dengan daerah timur Delta. Sepanjang Sungai Nil perahu-perahu membawa barang-barang dari selatan, para kafilah menjalin kontak dagang dengan Mesopotamia dan Syria selatan; pelayaran dari Syria utara ke Yunani dan pulau-pulau lain. Hasil perdagangan Mesir banyak ditemukan di Yunani, agama dan bentuk seni pun mulai diadopsi oleh Yunani. Impor Mesir adalah kulit onta, senjata-senjata dari logam, rempah-rempah, emas, kayu dan permadani. Sementara ekspor Mesir adalah gandung, linan, dan barang-barang kerajinan sebagai hasil olahan (Bogardus, 1995: 62).[6]

 

  1. B.     Sistem Hukum Mesir Kuno

Sistem hukum di Mesir Kuno secara resmi dikepalai oleh firaun yang bertanggung jawab membuat peraturan, menciptakan keadilan, serta menjaga hukum dan ketentraman, sebuah konsep yang disebut masyarakat Mesir Kuno sebagai Ma’at. Meskipun belum ada undang-undang hukum yang ditemukan, dokumen pengadilan menunjukkan bahwa hukum di Mesir Kuno dibuat berdasarkan pandangan umum tentang apa yang benar dan apa yang salah, serta menekankan cara untuk membuat kesepakatan dan menyelesaikan konflik.

Dewan sesepuh lokal, yang dikenal dengan nama Kenbet di Kerajaan Baru, bertanggung jawab mengurus persidangan yang hanya berkaitan dengan permasalahan-permasalahan kecil. Kasus yang lebih besar termasuk di antaranya pembunuhan, transaksi tanah dalam jumlah besar, dan pencurian makam diserahkan kepada Kenbet Besar yang dipimpin oleh wazir atau firaun. Penggugat dan tergugat diharapkan mewakili diri mereka sendiri dan diminta untuk bersumpah bahwa mereka mengatakan yang sebenarnya.

Dalam beberapa kasus, negara berperan baik sebagai jaksa dan hakim, serta berhak menyiksa terdakwa dengan pemukulan untuk mendapatkan pengakuan dan nama-nama lain yang bersalah. Tidak peduli apakah tuduhan itu sepele atau serius, juru tulis pengadilan mendokumentasikan keluhan, kesaksian, dan putusan kasus untuk referensi pada masa mendatang. Hukuman untuk kejahatan ringan di antaranya pengenaan denda, pemukulan, mutilasi di bagian wajah, atau pengasingan, tergantung kepada beratnya pelanggaran. Kejahatan serius seperti pembunuhan dan perampokan makam dikenakan hukuman mati seperti pemenggalan leher, penenggelaman, atau penusukan. Hukuman juga bisa dikenakan kepada keluarga penjahat. Sejak pemerintahan Kerajaan Baru, oracle memiliki peran penting dalam sistem hukum, baik pidana maupun perdata. Prosedurnya adalah dengan memberikan pertanyaan “ya” atau “tidak” kepada dewa terkait sebuah isu. Sang dewa, diwakili oleh sejumlah imam, memberi keputusan dengan memilih salah satu jawaban, melakukan gerakan maju atau mundur, atau menunjuk pada selembar papirus atau ostracon.

 

  1. C.    Sistem Perekonomian Mesir Kuno

Sebagian besar perekonomian diatur secara ketat dari pusat. Bangsa Mesir Kuno belum mengenal uang koin hingga Periode Akhir sehingga mereka menggunakan sejenis uang barter berupa karung beras dan beberapa deben (satuan berat yang setara dengan 91 gram) tembaga atau perak sebagai denominatornya. Pekerja dibayar menggunakan biji-bijian; pekerja kasar biasanya hanya mendapat 5 karung (200kg) biji-bijian per bulan sementara mandor bisa mencapai 7 karung (250kg) per bulan. Harga tidak berubah di seluruh wilayah negara dan biasanya dicatat utuk membantu perdagangan; misalnya kaus dihargai 5 deben tembaga sementara sapi bernilai 140 deben. Pada abad ke 5 sebelum masehi, uang koin mulai dikenal di Mesir. Awalnya koin digunakan sebagai nilai standar dari logam mulia dibanding sebagai uang yang sebenarnya; baru beberapa abad kemudian uang koin mulai digunakan sebagai standar perdagangan.

 

  1. D.    Sistem Kesenian Mesir Kuno

 

Patung dada Nefertiti, karya Thutmose, adalah salah satu mahakarya terkenal bangsa Mesir Kuno.

 

 

Bangsa Mesir Kuno memproduksi seni untuk berbagai tujuan. Selama 3500 tahun, seniman mengikuti bentuk artistik dan ikonografi yang dikembangkan pada masa Kerajaan Lama. Aliran ini memiliki prinsip-prinsip ketat yang harus diikuti, mengakibatkan bentuk aliran ini tidak mudah berubah dan terpengaruh aliran lain. Standar artistik—garis-garis sederhana, bentuk, dan area warna yang datar dikombinasikan dengan karakteristik figure yang tidak memiliki kedalaman spasial—menciptakan rasa keteraturan dan keseimbangan dalam komposisinya. Perpaduan antara teks dan gambar terjalin dengan indah baik di tembok makam dan kuil, peti mati, maupun patung. Seniman Mesir Kuno dapat menggunakan batu dan kayu sebagai bahan dasar untuk memahat. Cat didapatkan dari mineral seperti bijih besi (merah dan kuning), bijih perunggu (biru dan hijau), jelaga atau arang (hitam), dan batu kapur (putih). Cat dapat dicampur dengan gum arab sebagai pengikat dan ditekan (press), disimpan untuk kemudian diberi air ketika hendak digunakan. Firaun menggunakan relief untuk mencatat kemenangan di pertempuran, dekrit kerajaan, atau peristiwa religius. Di masa Kerajaan Pertengahan, model kayu atau tanah liat yang menggambarkan kehidupan sehari-hari menjadi populer untuk ditambahkan di makam.Sebagai usaha menduplikasi aktivitas hidup di kehidupan setelah kematian, model ini diberi bentuk buruh, rumah, perahu, bahkan formasi militer.

 

  1. E.     Sistem Militer Mesir Kuno

 

 

Gambar Kereta Perang Mesir Kuno

 

 

Angkatan perang Mesir kuno bertanggung jawab untuk melindungi Mesir dari serangan asing, dan menjaga kekuasaan Mesir di Timur Dekat Kuno. Tentara Mesir kuno melindungi ekspedisi penambangan ke Sinai pada masa Kerajaan Lama, dan terlibat dalam perang saudara selama Periode Menengah Pertama dan Kedua. Angkatan perang Mesir juga bertanggung jawab untuk memberikan perlindungan terhadap jalur perdagangan penting, seperti kotaBuhen pada jalan menuju Nubia. Benteng-benteng juga didirikan, seperti benteng di Sile, yang merupakan basis operasi penting untuk melancarkan ekspedisi ke Levant.Pada masa Kerajaan Baru, firaun menggunakan angkatan perang Mesir untuk menyerang dan menaklukan Kerajaan Kush dan sebagian Levant. Peralatan militer yang digunakan pada masa itu adalah panah, tombak, dan perisai berbahan dasar kerangka kayu dan kulit binatang.Pada masa Kerajaan Baru, angkatan perang mulai menggunakan kereta perang yang awalnya diperkenalkan oleh penyerang dari Hyksos. Senjata dan baju zirah terus berkembang setelah penggunaan perunggu: perisai dibuat dari kayu padat dengan gesper perunggu, ujung tombak dibuat dari perunggu, dan Khopesh (berasal dari tentara Asiatik) mulai digunakan. Tentara direkrut dari penduduk biasa; namun, selama dan terutama sesudah masa Kerajaan Baru, tentara bayaran dari Nubia, Kush, dan Libya dibayar untuk membantu Mesir.

 

  1. F.     Sistem Teknologi Mesir Kuno

Bangsa Mesir kuno telah mampu mengembangkan sebuah material kilap yang dikenal sebagai tembikar glasir bening, yang dianggap sebagai bahan artifisial yang cukup berharga. Tembikar glasir bening adalah keramik yang terbuat dari silika, sedikit kapur dan soda, serta bahan pewarna, biasanya tembaga. Tembikar glasir bening digunakan untuk membuat manik-manik, ubin, arca, dan lainnya. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menciptakan tembikar glasir bening, namun yang sering digunakan adalah menaruh bahan baku yang telah diolah menjadi pasta di atas tanah liat, kemudian membakarnya. Dengan teknik yang sama, bangsa Mesir kuno juga dapat memproduksi sebuah pigmen yang dikenal sebagai Egyptian Blue, yang diproduksi dengan menggabungkan silika, tembaga, kapur dan sebuah alkali seperti natron. Bangsa mesir kuno juga mampu membuat berbagai macam objek dari kaca, namun tidak jelas apakah mereka mengembangkan teknik itu sendiri atau bukan. Tidak diketahui pula apakah mereka membuat bahan dasar kaca sendiri atau mengimpornya, untuk kemudian dilelehkan dan dibentuk, namun mereka dipastikan memiliki kemampuan teknis untuk membuat objek dan menambahkan elemen mikro untuk mengontrol warna dari kaca tersebut.Banyak warna yang dapat mereka ciptakan, termasuk di antaranya kuning, merah, hijau, biru, ungu, putih, dan transparan.

 

  1. G.   

     

     

    Kuil Edfu adalah salah satu hasil karya arsitektur bangsa Mesir Kuno.

     

    Arsitektur Mesir Kuno

 

Karya arsitektur bangsa Mesir Kuno yang paling terkenal antara lain: Piramida Giza dan kuil di Thebes. Proyek pembangunan dikelola dan didanai oleh pemerintah untuk tujuan religius, sebagai bentuk peringatan, maupun untuk menunjukkan kekuasaan firaun. Bangsa Mesir Kuno mampu membangun struktur batu dengan peralatan sederhana namun efektif, dengan tingkat akurasi dan presisi yang tinggi. Kediaman baik untuk kalangan elit maupun masyarakat biasa dibuat dari bahan yang mudah hancur seperti batu bata dan kayu, karenanya tidak ada satu pun yang terisa saat ini.Kaum tani tinggal di rumah sederhana, di sisi lain, rumah kaum elit memiliki struktur yang rumit.Beberapa istana Kerajaan Baru yang tersisa, seperti yang terletak di Malkata dan Amarna, menunjukkan tembok dan lantai yang dipenuhi hiasan dengan gambar pemandangan yang indah. Struktur penting seperti kuil atau makam dibuat dengan batu agar dapat bertahan lama.

Kuil-kuil tertua yang tersisa, seperti yang terletak di Giza, terdiri dari ruang tunggal tertutup dengan lembaran atap yang didukung oleh pilar. Pada Kerajaan Baru, arsitek menambahkan pilon, halaman terbuka, dan ruangan hypostyle; gaya ini bertahan hingga periode Yunani-Romawi. Arsitektur makam tertua yang berhasil ditemukan adalah mastaba, struktur persegi panjang dengan atap datar yang terbuat dari batu dan bata.Struktur ini biasanya dibangun untuk menutupi ruang bawah tanah untuk menyimpan mayat.

Salah satu kontribusi penting lain bangsa Mesir dalam peradaban adalah kemajuan dalam bidang seni tulisan, khususnya pengenalan terhadap alphabet Literatur tertua tercantum pada teks-teks piramida yang disebut dengan teks tertua tentang pemikiran manusia. Teks yang berkenaan dengan agama dapat dijumpai pada dinding-dinding makam raja ke-5 dan ke-6 yang berisi tentang mantra-mantra magis, mitos dan nyanyian religius. Sementara literatur pada masa pertengahan lebih kaya dan bervariasi serta bersifat sekuler (Wallbank, 1949: 64). Banyak ditemukan cerita-cerita romantis, tenggelamnya kapal dan sebagainya. Tetapi cerita yang penting adalah legenda tentang Yusuf dan saudaranya. Di samping itu juga ditemukan syair-syair bernuansa religious yang diekspresikan secara filosofis.

Sistem penanggalan sudah dikenal dengan baik, penetapan jumlah hari sebanyak tiga puluh dalam satu bulan dan jumlah bulan sebanyak dan belas dalam satu tahun setiap akhir tahun ditambah dengan lima hari. Dalam bidang ilmu pengetahuan, bangsa Mesir adalah pertama kali dalam matematika terapan, tetapi mereka sedikit kemajuan dalam bidang fisika dan astronomi. Bangsa Mesir dapat dikatakan sebagai arsitek yang luar biasa dengan menghasilkan bangunan batu berbentuk piramida. Secara umum struktur social Mesir tidak ada rumah yang megah, istana raja dibangun tidak cukup indah. Hal ini menunjukkan bahwa orientasi kehidupan bangsa Mesir lebih banyak diarahkan kepada tujuan hidup abadi. Bangunan piramida adalah ekspresi tunggal dari peradaban Mesir. Sementara kuil-kuil dengan struktur bangunan menunjukkan misteri agama bangsa Mesir (Wallbank, 1949: 65). Kuil terbesar adalah Karnak yang dibangun dengan batu-batu besar dengan pintu-pintu dan jendela terbuka, dan atap yang menghadap ke langit. Terdiri dari tiang-tiang besar, di dalamnya terdapat ruangan besar  Dalam bidang seni dekorasi, banyak ditemukan batu-batu kuburan dan istana yang dicat dengan warna-warna simbolik (Wallbank, 1949: 68-69).[7]

 

  1. H.    Sistem Pengobatan /Medis Mesir Kuno

 

 

 

Prasasti yang menggambarkan alat-alat pengobatan Mesir kuno.

 

 

Permasalahan medis di Mesir kuno kebanyakan berasal dari kondisi lingkungan di sana. Hidup dan bekerja di dekat sungai Nil mengakibatkan mereka terancam penyakit seperti malaria dan parasit schistosomiasis, yang dapat mengakibatkan kerusakan hati dan dan pencernaan.Binatang berbahaya seperti buaya dan kuda nil juga menjadi ancaman.Cidera akibat pekerjaan yang sangat berat, terutama dalam bidang konstruksi dan militer, juga sering terjadi.Kerikil dan pasir di tepung (muncul akibat proses pembuatan tepung yang belum canggih) merusak gigi, sehingga menyebabkan mereka mudah terserang abses.Hidangan yang dimakan orang kaya di Mesir kuno biasanya mengandung banyak gula, yang mengakibatkan banyaknya penyakit periodontitis. Meskipun di dinding-dinding makam kebanyakan orang kaya digambarkan memiliki tubuh yang kurus, berat badan mumi mereka menunjukkan bahwa mereka hidup secara berlebihan. Harapan hidup orang dewasa berkisar antara 35 tahun untuk laki-laki dan 30 tahun untuk wanita.

Tabib-tabib Mesir Kuno termasyhur dengan kemampuan pengobatan mereka dan beberapa, seperti Imhotep, tetap dikenang meskipun telah lama meninggal. Herodotus mengatakan bahwa terdapat pembagian spesialisasi yang tinggi di antara tabib-tabib Mesir; misalnya beberapa tabib hanya mengobati permasalahan pada kepala atau perut, sementara yang lain hanya mengobati masalah mata atau gigi. Pelatihan untuk tabib terletak di Per Ankh atau institusi “Rumah Kehidupan,” yang paling terkenal terletak di Per-Bastet semasa Kerajaan Baru dan di Abydos serta Saïs di Periode Akhir. Sebuah papirus medis menunjukkan bahwa bangsa Mesir memiliki pengetahuan empiris soal anatomi, luka, dan perawatannya. Luka-luka dirawat dengan cara membungkusnya dengan daging mentah, linen putih, jahitan, jaring, blok, dan kain yang dilumuri madu untuk mencegah infeksi. Mereka juga menggunakan opium untuk mengurangi rasa sakit.Bawang putih maupun merah dikonsumsi secara rutin untuk menjaga kesehatan dan dipercaya dapat mengurangi gejala asma.Ahli bedah mesir mampu menjahit luka, memperbaiki tulang yang patah, dan melakukan amputasi.Mereka juga mengetahui bahwa ada beberapa luka yang sangat serius sehingga yang dapat mereka lakukan hanyalah mebuat pasien merasa nyaman menjelang ajalnya.

 

  1. I.       Bahasa Mesir Kuno

Bahasa Mesir Kuno baru dapat dibaca di abad modern setelah ditemukannya sebuah prasasti perjanjian yang disebut dengan Batu Rosetta.Batu ini ditulis dengan bahasa Yunani Kuno, bahasa hieroglif, dan demotik.Bahasa demotik sendiri memiliki bentuk yang lebih sederhana dari hieroglif.Setelah Kerajaan Mesir Kuno runtuh, maka tidak ada yang dapat membaca huruf-huruf hieroglif, sehingga bahasa Mesir ini merupakan suatu “teka-teki” yang sulit dipecahkan.Sejak adanya batu Rosetta, sekarang bahasa Mesir kuno dapat dianalisa. Berikut para ahli membagi bahasa Mesir ke dalam enam tahap:

 

  1. J.      Sistem Ketuhanan/Dewa-Dewi Mesir Kuno

Perkembangan tradisi agama Mesir merupakan sebuah proses yang panjang terus menerus terganggu dan tidak terpengaruh oleh perkembangan peradaban lain. Sekitar 3000 SM agama resmi yang diakui Firaun sebagai sebagai dewa anak-inkarnasi dari dewa-anak. Itu tidak perlu, maka, untuk mencari kehendak atau mandat dari dewa matahari, perlu mandat yang diekspresikan melalui dewa/firaun. Keadilan tidak didasarkan pada kode hukum, tetapi pada keputusan Firaun sendiri, dibuat sesuai dengan adat. Mereka yang menolak firaun sebagai otoritas tertinggi  dalam hukum adalah pemberontak.[8]

Setiap wilayah di Mesir memiliki dewa sendiri, kota-kota atau desa di wilayah tersebut diakui eksistensinya secara lokal untuk kawasan Phanteons. Ciri yang paling mencolok dari tradisi keagamaan Mesir ialah tidak bersifat politeistik atau banyak dewa, tetapi agama Mesir dibedakan atas kemampuan yang luar biasa dari dewa nya. Dewa dan dewi Mesir diwakili baik sebagai hewan lengkap atau berbentuk manusia dan semi hewan atau semi manusia. Dengan demikian, Horus, adalah dewa wilayah Delta, diwakili dengan tubuh manusia dengan kepala elang. Dewi Hathor berkepala wanita, bertubuh sapi. Anubis menampilkan tubuh pria dan ibis. Dewi Sekhmet dibedakan oleh tubuh betina dan kepala singa betina. Tueris berkepala buaya, bertubuh kuda nil, berkaki singa, dan berlengan manusia. Dewa-dewa lain muncul sebagai hewan lengkap dalam bentuk buaya, kucing, katak, belut, kuda nil, dan sebagainya.[9]

Selain dewa matahari dan dewa yang dikaruniai dengan bentuk hewan, agama Mesir mengakui sejumlah dewa-dewa lainnya. Di antara mereka adalah dewa kosmik, seperti dewa bumi Geb, dewi langit Nut, dan dew udara Shu. Di antara dewa astral, dewa matahari Horus awalnya adalah yang paling menonjol. Bukan hanya dewa matahari, namun juga yang lain, termasuk Kheprer, Atum, dan Re (atau Ra), yang pada waktu itu dikalahkan Horus. Seperti halnya matahari yang terbit, Horus ini dilambangkan dengan sayap burung elang yang luas berpasangan. Setiap pagi muncul dari laut untuk melintasi langit, setiap malam ia turun melalui laut ke Dunia Bawah.[10]

Agama Mesir berkembang dengan baik. Mesir dianggap sebagai langit, bumi, sungai, dan sumber kehidupan matahari. Mereka dilambangkan sebagai manusia, hewan, dan gabungan antara manusia dan hewan. Simbol-simbol dari matahari, dewa tertinggi, memiliki nama yang berbeda untuk waktu yang berbeda pula. Isis dan Osiris adalah suami dan istri didewakan sebagai vitalitas diri yang memperbaharui di alam. Horus, anak Osiris dan Isis, yang dilambangkan oleh elang. Sebagai raja para dewa, ia berdiri untuk cahaya dan surga. Amon-Re, atau Ra, dikombinasikan dewa Thebes dengan dewa matahari siang. Ia dilambangkan oleh bentuk manusia dengan sebuah obelisk (sinar matahari). Aton, yang diperjuangkan oleh Firaun Akhenaton, adalah matahari, dilambangkan oleh disk. Akhenaton menyatakan bahwa dewa matahari, Aton adalah satu-satunya dewa yang ada.[11]

Berikut sedikit penjelasan tentang nama-nama dewa:

  1. Horus

In Egypt, the son of Isis and Osiris who opposed his uncle, Seth. Horus was also the sun, symbolized by a falcon.

  1. Amon-Re

A sun god of Egypt. His symbol was the obelisk, a ray of the sun. Amon, originally the god of Thebes, became highest god in 2000 BCE, when Thebes dominated all Egypt.

  1. Aton

In Egypt, this god’s symbol was a disk, representing the sun. After Akhenaton established his throne was the only god worshiped.

  1. Hathor

The Egyptian goddess who created the world. Her symbol was a woman’s body with the head of a cow

  1. Mayet

 (Maat) The Egyptian goddess of order and truth, who prompted the deceased at the time of judgement.[12]

 

Agama Mesir kuno menjadi agama rakyat, aturan-aturan didominasi oleh penguasa yang dianggap sebagai dewa (Bogardus, 1995: 28), ritual mereka lebih dikonsentrasikan pada dramitisasi kematian raja-raja (Bell, 1997: 5-6). Piramida-piramida merupakan manifestasi keyakinan mereka. Karya-karya seni yang mengakar dari simbol-simbol agama, tulisan-tulisan dalam dekorasi makammakam bernuansakan religius, kuil-kuil dijadikan sentral ilmu pengetahuan, kemakmuran dan energi dimanfaatkan untuk melanggengkan jasad setelah mati. Bagi rakyat jelata yang tidak dapat mengabadikan jasadnya dengan mumi, orientasi mereka diabdikan bukan untuk polilik, tetapi untuk keagamaan (Trever, 1963: 50). Perhatian mereka tentang keabadian jasad dipengaruhi oleh Osiris, orang pertama diabadikan jasadnya dengan mumi. Dia dianggap dewa Nil. Naik turunnya sungai Nil merupakan symbol kematian dan kebangkitan dewa ini dan diperingati setiap tahun. Mitologi tentang Osiris terus berkembang. Osiris yang dibunuh oleh dewa Seth dengan memotong-motong tubuh Osiris, kemudian disebar ke seluruh dataran lembah Nil. Isis yang merasa kehilangan, mengumpulkan kembali potongan-potongan jasad Osiris, akhirnya bangkit kembali dan menjadi abadi. Akhirnya Horus putra Osiris menuntut balas dengan menyerang Seth (Wallbank, 1949: 63).

Bangsa Mesir kuno mengambil banyak Tuhan. Di antaranya adalah Ra, yaitu dewa matahari. Osiris dewa air, Isis ibu yang agung. Di antara dewa-dewa tersebut Ra-lah yang paling penting. Akan tetapi setelah berada di kekuasaan Thebes, posisinya digantikan oleh dewa Anum atau dewa yang agung (supreme god) kemudian digabung menjadi Anum-Ra, Bangsa Mesir juga sudah mengenal nyanyian-nyanyian untuk memuja para dewa, seperti Hymn to the sun (Wallbank, 1949: 64).[13]

 

  1. K.    Rituals Mesir Kuno

Ritual yang berkembang pada saat itu disebut sebagai ritual Ozres yang meyakini bahwa setiap manusia baik raja atau rakyat biasa akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatannya selama hidup di dunia. Adapun yang memiliki wewenang untuk menjatuhkan putusan adalah Ozres yang di bantu oleh Dewa kebijaksanaan dan Ilmu yang bernama Taut, Onbez (Dewa pengubur mayat sekaligus penunjuk jalan di akhirat), Horez (anak Ozres), Ma’at (Dewa kebenaran dan keadilan) serta 42 hakim lainnya.

Dalam kepercayaan mesir kuno, jenazah orang mati akan diserahkan kepada Onbez untuk diambil hatinya kemudian diletakkan diatas piring neraca dan di sisi lainnya diletakkan miniatur dewa Ma’at. Kemudian dewa Taut berdiri disamping neraca melihat dan mencatat hasil timbangannya. Setelah itu diserahkan kepada Ozres yang berdiri didekat Dewa Amayit (dewa berkepala buaya dan berbadan singa, yang bertugas menerkam mayat yang memiliki catatan amal perbuatan buruk). Gambar hati yang ditimbang melambangkan amal dan perbuatan si mayyit selama hidup. Mereka menggunakan gambar hati karena menurut keyakinan mereka, hatilah yang menyaksikan semua perbuatan manusia selama hidup di dunia. [14]

 

 

 

  1. L.     Kesimpulan

Munculnya peradaban sangat terkait dengan eksistensi manusia dan kondisi lingkungan melalui interaksi aktif dan imaginatif. Secara umum Mesir adalah kawasan subur yang sangat mendukung terbentuknya masyarakat yang berbudaya dan berperadaban. Struktur social Mesir adalah konkrit, spesifik dan praktis. Peradaban di lembah Mesopotamia dan kawasan bulan sabit bersifat lebih non fisik jika dibanding dengan Mesir. Mesir lebih menonjolkan aspek religius. Sistem politik di kawasan Mesir, yaitu absolutism dan menganggap raja sebagai dewa, Efektivitas terbentuknya peradaban besar sangat ditentukan oleh kekuatan politik dan ekonomi. Para raja periode awal di Mesir adalah contoh lain yang menghasilkan banyak bangunan pyramid. Dalam bidang ilmu pengetahuan dan kesenian, Mesir bersifat aplikatif. Di Mesir doktrin agama lebih menonjol. Aspek ekonomi Mesir didasarkan pada pertanian dan perdagangan.

 

  1. M.   Daftar Pustaka

 

Umar, Mustofa, Mesopotamia dan Mesir Kuno; Awal Peradaban Dunia, El-Harakah: 2009. No. 3, Vol. 11,

 

sejarahnasionaldandunia.blogspot.com/2012/10/sejarah-mesir-kuno.html

 

Nigosian, S. A.  World Faiths, New York: St. Martin’s Press, 1990

 

Matthews, Warren, World Religions, Canada: Wadsworth Publishing Company, 1999

 

dewasastra.wordpress.com


[1] Johannes P. Schade (Editor), Encyclopedia of World Religions, Concord Publishing-Foreign Media Book, 2006, h. 289

[2] Mustofa Umar, Mesopotamia dan Mesir Kuno; Awal Peradaban Dunia, (El-Harakah: 2009)  Vol. 11, No. 3, h. 208

[3] Ibid; h. 211

[4] Ibid; h. 208-210

[6] Mustofa Umar, Mesopotamia dan Mesir Kuno; Awal Peradaban Dunia, (El-Harakah: 2009)  Vol. 11, No. 3, h. 210-211

[7] Ibid; h. 212-213

[8] S. A. Nigosian, World Faiths (New York: St. Martin’s Press, 1990), h. 25

[9] Ibid., h. 26

[10] Ibid., h. 26

[11] Warren Matthews, World Religions, (Canada: Wadsworth Publishing Company, 1999), h. 56

[12] Ibid., h. 56

[13]Mustofa Umar, Mesopotamia dan Mesir Kuno; Awal Peradaban Dunia, (El-Harakah: 2009)  Vol. 11, No. 3, h. 211-212

Iklan