Agama Sikh

PENDAHULUAN

 

Sejak awal kehidupan manusia selama berabad-abad tahun lamanya merupakan bukti nyata sejarah peradaban manusia masa lalu yang bernilai tinggi. Peradaban kuno dalam pembahasan materi sebelumnya, banyak sekali peninggalan yang sangat luar biasa, seperti kebudayaan, bangunan, ataupun dalam bidang sosial serta agamanya yang mungkin peninggalan-peninggalan tersebut merupakan bentuk dari implementasi ritual kepercayaan mereka pada saat itu yang telah punah ataupun masih ada yang bertahan meskipun dalam golongan yang minoritas sebagai suatu studi yang masih diteliti hingga saat ini.

Terkait masalah agama, makalah ini akan membahas mengenai agama Sikh. Sebagaimana kita ketahui, bahwa agama ini muncul di daratan India, tepatnya di Punjab, yang merupakan negara yang banyak memunculkan agama-agama, khususnya sebagai reaksi mereka teradap sosial kultural masyarakat India pada masa itu, seperti Hindu, Buddha, Jain, dan sebagainya termasuk yang akan dibahas dalam makalah ini. Agama Sikh ini muncul tidak seperti kemunculan agama-agama kuno sebelumnya. Agama ini ada setelah hadirnya agama Hindu dan Islam, lahir dan mulai berkembang bersamaan waktunya dengan kelahiran agama Protestan di Eropa, tepatnya yaitu pada akhir abad ke-19 M. Sehingga konsep ajaran agamnya sudah sangat sistematis baik mengenai Ketuhananya, ritualnya, dan sebagainya.

Dalam makalah ini akan dijelaskan bagaimana sejarah awal kemunculannya serta perkembangan mengenai eksistensi agama Sikh  itu sendiri. Selain itu, dibahas pula mengenai ajaran dan praktek keagamaannya sebagai bagian esensi yang tak terpisahkan di dalam suatu agama tersebut.

 

 

PEMBAHASAN

 

  1. 1.      Sejarah dan Perkembangan Agama Sikh

Anak benua Indo-Pakistan tercatat sebagai tempat kelahiran berbagai agama besar. Salah satu diantaranya ialah agama Sikh, tepatnya wilayah bagian Punjab, yang dalam literatur-literatur Barat disebut The Sikh Religion atau The Religion of Sikh atau Sikhism yang bisa diterjemahkan menjadi Sikhisme. Agama-agama lainnya adalah Hinduisme, Jainisme, Buddhisme dan sejumlah besar aliran atau sekte keagamaan lainnya.[1]

Di tempat ini pula Ahmadiyah muncul pada pertengahan abad ke-19. Hingga sekarang daerah Punjab merupakan wilayah kediaman sebagian besar pengikut agama Sikh atau Sikha, yang menurut catatan paling akhir berjumlah sekitar 16 juta jiwa atau sekitar 2% dari seluruh penduduk India saat ini.[2]

Orang-orang Sikh adalah suatu ras yang luar biasa. Jumlah seluruhnya di dunia ini kurang lebih ada 10 juta orang. Segala sesuatu tentang mereka ini luar biasa, pakaian mereka, sejarah mereka, dan terutama sekali adalah kelahiran mereka.

Sebelum diadakan pemisahan India, kebanyakan orang Sikh hidup di daerah Punjab (daerah yang mempunyai lima sungai), suatu propinsi yang luas, terletak di bagian utara India. Sejak pemisahan India di tahun 1974, lebih dari 2 juta orang Sikh harus meninggalkan rumah dan kampung halaman dan kekayaan mereka di daerah yang diserahkan kepada Pakistan. Mayoritas orang Sikh sekarang berada di Punjab Timur yang menjadi milik India.

Agama Sikh bermula di Sultanpur, berhampiran Amritsar di wilayah Punjab, India. Pengasas agama ini ialah Guru Nanak (1469-1539), Selepas beliau meninggal dunia, penggantinya juga diberi pangkat guru. Sebanyak sepuluh guru telah mengambil alih tempat beliau dan secara perlahan-lahan. Rangkaian ini berakhir pada tahun 1708 selepas kematian Gobind Singh yang tidak meninggalkan pengganti manusia tetapi meninggalkan satu himpunan skrip suci yang dipanggil Adi Granth. Skrip ini kemudian diberi nama Guru Granth Sahib. Gobind Singh juga telah menumbuhkan sebuah persatuan “Persaudaraan Khalsa Sikh” dan memulakan pemakaian seragam untuk lelaki Sikh yang taat kepada agamanya yang diberi gelaran “Lima K”. Agama Sikhisme adalah agama keenam terbesar di dunia, dengan lebih daripada 23 juta penganut.[3]

Kepercayaan Sikh, atau lebih dikenal dengan nama “Khlasa” atau “yang murni” berasal dari agama Hindu, muncul dalam tahun 1699 M dan dianggap sebagai kepercayaan yang paling kontemporer di dunia ini.[4]

Agama Sikh lahir dan mulai berkembang bersamaan waktunya dengan kelahiran agama Protestan di Eropa, yaitu di akhir abad ke-19 M. Guru Nanak sendiri hanya empat belas tahun lebih tua dari pada Martin Luther, pendiri Agama Protestan itu. motivasi kelahirannya juga senada dengan kelahiran Protestan. Kalau Protestan lahir sebagai reaksi terhadap eksistensi dan kekuasaan gereja Katolik Roma di daratan Eropa, maka Agama Sikh lahir sebagai reaksi terhadap Agama Brahma atau Hinduisme.

Agama Sikh semenjak kelahirannya sekitar lima abad yang lalu, sampai sekarang masih tetap menarik perhatian para peminat penelitian agama. Hal ini bukan saja karena keunikan tokoh pendirinya, perjalanan sejarah perkembangannya dan seluk-beluk hubungannya dengan berbagai agama lain, tetapi juga karena peristiwa-peristiwa sejarah, baik yang bersifat keagamaan maupun politik, yang langsung diperankannya.

Agama Sikh itu bermakna: para Murid. Agama Sikh bermakna Agama para Murid. Dimaksudkan ialah para Murid dari pembangun agama Sikh itu. Oleh karena sang Guru itu pada masa belakangan dikultuskan sebagai penjelmaan Tuhan di bumi maka pengertian para Murid itu dimaknakan dengan Murid Tuhan.[5]

Sikh berarti murid, dan Sikha berarti murid atau pengikut Sikh. Ada juga yang mengartikan Sikh sebagai “suatu masyarakat agama di India dan Pakistan” atau suatu sekte keagamaan yang berasal dari penyelewengan terhadap “Bramanis-Hinduisme.” Agama Sikh dikatakan juga sebagai agama “sinkretis” karena ia didirikan dengan maksud “memperdamaikan antara Islam dan Hinduisme.” Di India Islam menggabungkan diri dengan agama Hindu dengan menciptakan agama Sikh.[6]

Agama Sikh bersifat sinkronisasi antara agama Hindu dengan agama Islam. Dewasa ini, anak benua India berada di bawah kekuasaan imperium Moghul (1526-1858 M), imperium Islam yang berkedudukan di ibukota Delhi. Sebelum kedatangan Guru Nanak itu maka ikhtiar ke arah sinkronisasi antara agama Hindu dengan agama Islam itu telah dimulai lebih dahulu oleh Kabir (1488-1512 M), seorang penyair India, hingga himpunan sajaknya dimasukkan menjadi bagian di dalam Kitab Suci agama Sikh itu. [7]

Lambang khusus para penganut agama Sikh itu adalah Lima Kukka, yaitu: Kes (rambut- panjang tak dicukur, yang dililit dengan kain), Kunga (sisir-kayu, bagi keperluan rambut tersebut), Kach (celana-dalam berwarna putih, celana panjang lutut yang khusus untuk kelincahan), Kara (gelang besi di tangan untuk pengekangan diri), dan Khanda (pisau belati bermata dua untuk pertahanan diri). Lambang khusus itu ditaati oleh setiap penganut agama Sikh.[8]

Memang, baik dari segi sosial dan politik, maupun dari sudut pandangan agama, agama Sikh sungguh-sungguh menentang pengaruh Brahmana dan sistem kasta yang diajarkannya. Mungkin pendapat yang mengatakan bahwa ia lebih dekat kepada Islam daripada Hinduisme ada benarnya.

Pengikut Guru Nanak, pendiri agama Sikh, yang beragama Hindu tidak dianggap sebagai penganut politeisme, karena mereka mengatakan bahwa mereka adalah penganut kepercayaan yang monoteis. Kenyataan ini dapat dianggap sebagai pertanda bahwa agama Sikh lebih merupakan agama yang mencoba menyatukan ajaran monoteis Islam dengan politeis Hinduisme. Oleh sebab itu, dari satu segi, adalah menarik juga kalau banyak di antara penulis biografi Guru Nanak menganggap Sikh sebagai suatu agama damai atau agama kedamaian, sementara, dari segi lain, orang dapat menyangkal pandangan ini.

Sejarah mencatat bagaimana getolnya kaum Sikh melakukan berbagai peperangan dan betapa militannya mereka melakukan gerakan-gerakan kekerasan. Mereka menimbulkan benturan-benturan yang menodai sejarah dan menggoyahkan haluan hidupnya semenjak aspirasi politik mulai mempengaruhi mereka di bawah pembinaan guru yang ke lima, Guru Arjun.

Adalah aneh, hubungan rohaninya dengan Islam dan Hindu banyak jalinkelindannya, akan tetapi dengan Buddhisme dan Kristen jarang terdengar komentar. Hanya Guru Govind Singh yang terlihat berusaha menarik minat umat Buddha dan pengikut Kristen. Dia sendiri, melalui pernyataan dan perbuatannya, tampak agak terpengaruh oleh kedua agama tersebut. Hal ini mungkin dapat dianggap memperkokoh kedudukan Sikh sebagai agama sinkritis.

Memang, agama Sikh bukan Hinduisme dan bukan pula Islam. agama tersebut adalah “Agama Guru dan Murid.” Pada waktu Nanak pergi naik haji ke Mekah, pakaian umrah yang dikenakannya berwarna biru, menyalahi pakaian umrah yang biasa berlaku, yaitu putih. Nanak sendiri pada waktu umrah berlagak seperti seorang darwis atau fakir yang minta-minta. Ketika ia pergi ke Ceylon, raja Ceylon saat itu ingin mendapatkan kepastian tentang agama Nanak : apakah Muslim atau Hindu. Ketika hal tersebut ditanyakan kepadanya, ia menjawab: “The True Guru has solved the problem of two ways. It is he, who fixed attention on one God, and whose mind wave-reth not, who can understand it.” Nanak mengaggap dirinya sungguh-sungguh telah menjadi seorang guru yang mengajarkan suatu agama atau kepercayaan baru, yaitu “Tidak ada Hindu dan Tidah ada Muslim.[9]

 

  1. A.    Pendiri Agama Sikh

Pendiri Agama Sikh adalah Guru Nanak. Riwayat hidupnya yang lengkap termuat dalam sebuah buku yang dikenal dengan nama Janam Sakhis, Kisah-kisah Kehidupan. Max Arthur Macauliffe menulis sebuah buku yang berjudul The Sikh Religion: It’s Gurus, Sacred Writings and Authors, 6 jilid (London: Oxford University Press, 1909), yang memuat terjemahan lengkap Janam Sakhis tersebut.

Guru Nanak dilahirkan di Talwandi Rai Bhoe, sebuah desa kecil di tepi sungai Ravi, sekitar empat kilometer sebelah barat Lahore, ibu kota wilayah Punjab, pada tanggal 15 April 1469. Desa tersebut sekarang dikenal dengan nama Nankana Sahib, yang berarti “desa tempat kelahiran Nanak.” Dari sudut kacamata Hindu, orang tuanya memiliki kasta Ksatria. Ayahnya, Mehta Kalu, adalah seorang Patwari, atau Akuntan desa, yang bekerja pada perusahaan milik Rai Bular, seorang Muslim, pemilik tanah yang luas di desa itu. Ibunya, Tripta, adalah seorang Hindu yang fanatik. Mereka adalah keturunan suku Khattri yang termasuk bangsa Arya. Oleh sebab itu agama Sikh dikategorikan sebagai agama yang lahir atau berasal dari bangsa Arya, sebagaimana halnya agama Hindu, Jain dan Zoroaster.

Seperti halnya cerita atau riwayat hidup para pendiri agama-agama lain, khususnya pendiri-pendiri agama bukan wahyu, riwayat hidup Guru Nanak juga diwarnai oleh cerita-cerita yang penuh dengan keajaiban.

Diceritakan, bahwa Nanak adalah seorang yang cerdas. Pada umur yang sangat muda yaitu 5 tahun ia sudah mulai berbicara tentang Tuhan dan bicaranya yang lancar ini dikagumi oleh semua orang.[10] Pada usia tujuh tahun ia diserahkan kepada seorang guru desa untuk belajar membaca dan berhitung. Karena kepintarannya, dalam waktu singkat ia berhasil menguasai kedua dasar pengatahuan pokok itu. Selanjutnya ia diserahkan kepada seorang Maulavi desa untuk belajar bahasa Persia dan Arab. Di samping itu, menurut cerita, ia juga belajar al-Qur’an dan Sastra Arab atau sastra Islam pada Sayyid Hasan, seorang guru sufi pada waktu itu.[11]

Kemudian ia dikirim  kepada seorang Brahmin untuk mempelajari buku-buku Veda dan Sastra, tetapi di sini juga ia tidak belajar lama. Setelah sudah agak mahir dalam bahasa Parsi, ia meninggalkan sekolah dan menggabungkan diri dengan orang-orang suci. Ia diajarkan bahasa Persia dan kesusastraan Islam oleh Rukn ud-Din, guru bahasa Persia. Dari pengetahuan bahasa Persia ini sejumlah Syair ditulisnya dalam bahasa tersebut dan terdapat dalam Adi Granth yaitu Kitab Suci Agama Sikh.

Bebarapa tahun kemudian, ketika Nanak mencapai usia yang menurut tradisi Hindu harus mengikuti upacara Upayanama (inisiasi) untuk menerima tanda pensucian, ia menolak segala upacara itu, termasuk memakai tanda pensucian bagi dirinya. Karena sikapnya yang menentang itu, para pendeta merasa tersinggung dan memperingatkan Nanak agar bersedia mengikuti upacara inisiasi atas dirinya. Akan tetapi Nanak tetap menolak dan para pendeta tidak berhasil memaksanya.

Nanak selalu melawan adat-istiadat kolot agama Hindu sehingga pada umur 9 tahun ketika ia hendak dikalungi benang keagamaan di lehernya pada upacara Yajnopayitam, ia menolak dengan tegas dan meminta penjelasan akan guna benang tersebut. Setelah dijelaskan oleh pendita keluarganya bahwa benang tersebut adalah lambang agama Hindu dan bahwa tanpa benang tersebut seorang Hindu dari kasta tinggi bisa kehilangan hak-hak kekastaannya, ia makin keras menolak dianugrahi benang tersebut.[12]

Sejak semula Nanak sudah kelihatan sebagai orang yang nantinya akan tumbuh menjadi seorang perenung, senang bermeditasi, menjalani hidup dan kehidupan mistik. Ayahnya berusaha menjauhkannya dari kesenangan merenung tersebut dengan memberinya kesibukan dan mencarinya pekerjaan, karena ayahnya bercita-cita agar Nanak menjadi seorang pengusaha yang berhasil nantinya. Akan tetapi semua usaha ayahnya gagal.

Nanak bahkan bertambah lari ke kehidupan  meditatif. Ia makin lama makin tenggelam dalam kehidupan menyendiri dan berkontempalasi, dan ayahnya gagal mengalihkan perhatiannya kepada dunia usaha dan kesibukan duniawi.[13] Tindakan ini sangat menusuk hati ayahnya yang berusaha keras agar anaknya merubah pendirinya dan menjadi seorang pedagang.[14]

Jiwa Nanak memang sudah mencari Tuhan, sebab ia sama sekali tidak tertarik pada bermacam-macam pekerjaan yang diberikan oleh ayahnya –mencangkul di ladang, bekerja di toko kecil, dan sebagainya. Ia menggunakan setiap kesempatan untuk menyelinap pergi ke tempat-tempat sunyi di mana ia dapat merasakan kesatuan dan keindahan alam dan mencari Tuhan, yang berkat cintaNya telah menganyam pola indah yang tiada taranya ini.

 Kemudian pada umur yang masih belia yaitu 16 tahun, ia dikawinkan oleh orang tuanya dengan maksud mengalihkan pikirannya dari hal-hal yang khayali. Tetapi usaha orang tuanya ini pun nyatanya tidak berhasil. Sebab, pada waktu ibunya dengan putus asa meminta agar ia menghentikan meditasinya, ia tidur selama empat hari berturut-turut dengan ancaman bahwa ia akan mati bila nama Tuhan dilarang mengucapkannya. 

Guru Nanak menghabiskan sisa-sisa hidupnya di Kartarpur, tempat jamaah-jamaah besarnya selalu hadir mendengarkan dia berkhotbah. Setiap orang yang melihat dan mendengar khitbahnya selalu terpesona oleh kesalehan dan kepribadiannya yang luar biasa, juga kesucian jiwanya yang sangat kentara dalam setiap tingkah lakunya. Dikatakan, bahwa ia benar-benar merupakan hamba Tuhan dan kemanusiaan.

Pada hari wafatnya, yang bertepatan dengan tanggal 22 September 1539, pada usia 70 tahun. Suatu perselisihan dan pertengkaran diceritakan terjadi antara kaum Hindu dan umat Islam. masing-masing pihak menuntut bahwa pihaknyalah yang berhak merawat jenazahnya sesuai dengan ajaran yang dianutnya.

Kaum Hindu mengatakan, bahwa Nanak adalah orang Hindu, sebab dilahirkan di rumah dan kelurga Hindu; sementara umat Islam mengatakan, bahwa Nanak adalah seorang Muslim karena percaya pada syahadat Islam dan sudah melaksanakan rukun Islam yang kelima, yaitu haji. Pertengkaran itu berakhir dengan sendirinya, karena sewaktu mereka membuka penutup jenazah Nanak, mereka hanya menemukan setumpuk kembang dan tidak mendapati jasadnya.[15]

 

  1. B.     Sejarah dan Guru-guru Agama Sikh

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Guru Nanak oleh para pengikut dan penganut agama Sikh diakui sebagai Guru Agung, Guru Utama Yang Suci, yang telah melahirkan dan mengajarkan satu agama yang sangat berbeda dengan agama Hindu atau Hinduisme.

Malahan, ide-ide keagamaannya hampir sama dengan ide-ide keislaman, terutama dari segi mistik. Itulah sebabnya Guru Nanak juga dikatakan sebagai seorang sufi.

Akan tetapi, agama Sikh mengalami perjalanan sejarah yang ironis. Bersamaan dengan perjalanan waktu yang dilalui orang-orang Sikh yang menyebut diri mereka sebagai pengikut setia Guru Nanak, mulai semakin dekat kepada Hinduisme dan sebaliknya semakin asing dari Islam. Hal ini dimungkinkan oleh adanya tiga faktor utama:

  1. Setelah Nanak meninggal dunia banyak pengikut Nanak menghimpun diri dalam satu golongan atau sekte tersendiri, meskipun Guru Nanak tidak secara terang-terangan menyatakan telah membawa agama baru dan tidak membentuk satu masyarakat terpisah dari penganut-penganut agama lain.
  2. Kebanyakan dari pengikut agama Sikh berasal dari penganut agama Hindu yang masih mengikuti ajaran dan praktek keagamaan yang lama. Mereka juga lebih dekat dengan hubungannya dengan agama lainnya daripada Islam.
  3. Konflik-konflik politik antara kaum Sikh dengan penguasa kerajaan Mongol membuat mereka benci kepada Islam dan umat Islam pada umumnya. Oleh karena itu mereka lebih dekat dengan orang-orang Hindu dan menjadikannya satu sekte dari Hinduisme. Hal ini terlihat setelah Sikh berada di bawah kepemimpinan guru ke lima mereka.

 

Sampai dewasa ini, pengikut agama Sikh mempercayai dan mengikuti sepuluh orang guru yang sangat besar peranannya dalam sejarah agama Sikh. Mereka terdiri dari Guru Nanak, sebagai pelopor dan Guru Agung yang suci itu, beserta sembilan orang guru penggantinya secara berturut-turut. Kesembilan guru tersebut masing-masing berkuasa penuh selama masa jabatannya untuk mengemdalikan ke mana agama dan umat Sikh akan dibawa.

Berikut adalah sepuluh urutan masing-masing guru Sikh beserta peranan masing-masing dalam perjalanan sejarah agama Sikh:

  1. Guru Nanak.
  2. Guru Angarh (1539-1552).
  3. Amar Das (1552-1574).
  4. Ram Das (1574-1581).
  5. Arjun (1581-1606)
  6. Har Gobind (1606-1645)
  7. Har Rai (1645-1661)
  8. Hari Krishen (1661-1664)
  9. Tegh Bahadur (1664-1675)
  10. Govind Singh (1675-1708)

 

  1. C.    Perang Sikh
    1. Perang Sikh Pertama (1845-1846)

Menjelang pertengahan abad ke-19, pengikut agama Sikh sudah semakin besar jumlahnya dan kekuatannya juga sudah semakin teratur. Dibawah Govind Singh dan Ranjit Singh mereka berhasil menaklukan dan perluasan wilayah sampai ke bagian selatan India, wilayah Asam. Perjanjian persahabatan dengan penjajah Inggris tahun 1809 merupakan hal yang paling menguntungkan Sikh. Eksistensinya semakin kokoh dan mulai diperhitungkan oleh Inggris. Dalam perjanjian tersebut, kaum Sikh mengakui sungai Sutlej sebagai batas paling selatan daerah kekuasaan mereka yang memisahkannya dari daerah kekuasaan Inggris.

Kaum Sikh mulai melupakan perjanjian mereka dengan Inggris dan mulai merasa ketakutan. Pada tahun 1845, mereka mendahului menyerang Inggris dengan menyebrangi sungai Sultej dan berusaha merampas wilayah pinggiran sungai yang dikuasai Inggris itu. dalam penyebrangan ini mereka mengalami kekalahan besar, dan pada tahun 1846 mereka terpaksa menerima semacam perlindungan dari Inggri, setelah dipaksa menyerahkan Kasymir kepada Inggris.

 

  1. Perang Sikh Kedua (1848-1849)

Kekalahan yang diderita kaum Sikh yang pertama menimbulkan dendam kepada Inggris.  Maka pada tahun 1848 mereka kembali mengarahkan kekuatan untuk berperang terhadap Inggris.

Perang ini tidak sedahsyat perang yang pertama, sehingga peperangan ini dengan mudah dimenangkan oleh Inggris, dan akibatnya kaum Sikh terpaksa menyerahkan seluruh daerah mereka untuk digabungkan ke dalam wilayah Inggris.

Sehingga  Maha Raja Duplih Singh, raja terakhir kerajaan Sikh, menyatakan tunduk di bawah kekuasaan Inggris. Duplih Singh pernah menghadiahkan Koh-i-Nur, permata terbesar kepada Ratu Inggris dan kemudian dijadikan hiasan mahkota Ratu Inggris, Ratu Victoria (1837-1901). Ratu ini dijuluki sebagai Ratu Penakluk India, karena di bawah pemerintahannya Inggris berhasil secara tuntas menumbangkan kekuasaan kekaisaran Mughal dan merampas ibukotanya, Delhi, tahun 1858 dari tangan Sultan Bahadur II (1838-1858).

Semenjak kekalahan kaum Sikh dalam perang kedua ini, mereka tidak pernah lagi tampil sebagai kekuatan yang menantang kekuasaan Inggris di India. Sebaliknya, banyak di antara kaum Sikh militan, pengikut Govind Singh, memihak kepada Inggris dan membantunya berbagai peperangan. Bahkan kelompok militer Sikh militan terhadap inti pasukan Inggris di India.

Hubungan antara Sikh dan Inggris yang bersejarah ini menyebabkan kaum Sikh mendapat tempat juga di daratan Inggris. Banyak orang Sikh yang hidup di Inggris. Mereka tinggal baik sebagai pedagang, pengusaha dan buruh, maupun sebagai anggota militer Inggris. Banyak pula diantara mereka yang sudah menjadi warga negara Inggris. Bahkan rumah suci atau kuil kebanggaan mereka yang terbesar kedua di luar India setelah Amritsar, kul emas di Punjab yang berada di London, yang baru-baru ini diresmikan pemakaiannya setelah direnovasi.

Menjelang akhir abad ke-20 ini, kaum Sikh terlibat dalam konflik besar-besaran dengan orang-orang Hindu. Konflik agama da politik ini telah menimbulkan korban yang sangat besar di kedua belah pihak dan memakan waktu yang lama. Motifnya yang pokok adalah karena kaum Sikh yang minoritas merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah India semenjak negara tersebut merdeka dari Inggris. Mereka menuntut mendirikan negara sendiri yang terpisah dari Inida. Tuntutan ini tidak mendapat persetujuan dari pemerintah India.

Pada Tahun 1948, kaum Sikh memproklamirkan negara Sikh yang berdiri sendiri dengan nama Republik Khalistan. Markas besarnya berada di London. Dr. Ragjit Singh, menjadi presiden republik itu.[16]

 

  1. D.    Adat Istiadat Penganut Sikh

Adat istiadat bermula sejak kelahiran sehingga kematian penganut Sikh. Pemberian hadiah merupakan amalan biasa untuk menyambut kelahiran bayi. Pemberian nama merupakan upacara penting dan ia dikenali sebagai Naamkaran. Disini bayi yang baru lahir itu akan diberikan nama selepas Granthi membaca Ardas. Kemudian kitab mereka Sri Guru Granth Sahib akan dibuka secara rambang. Bayi itu akan dinamakan mengikut huruf pertama dalam mukasurat itu. Nama akhir untuk penganut Sikh adalah sama dan berbeda hanya mengikut jenis kelaminnya yaitu Singh bagi lelaki, manakala perempuan dipanggil Kaur. Singh bermaksud “Singa” dan Kaur pula bermaksud “Puteri”.

Apabila seseorang remaja lelaki mencapai umur sebelas hingga enam belas tahun dia akan melalui satu upacara – pemakaian serban. Upacara yang dipanggil Dastar Bandhni biasanya dilakukan oleh para agama Sikh dipanggil Granthi atau ketua masyarakat. Bagi seorang Sikh, perkawinan adalah suci dan mereka percaya pada sistem monogami. Dalam agama mereka, penceraian adalah mustahil dan tidak dibenarkan. Walaupun begitu, perceraian masih boleh dilakukan di mahkamah sivil.[17]

 

  1. 2.      Ajaran, Kitab Suci dan Praktek Keagamaan Sikh
  2. A.    Ajaran Agama Sikh
    1. Tentang Tuhan Yang Maha Esa
    2. Tentang Sabda adalah Kata Tuhan
    3. Tentang Guru sebagai Penuntun Hidup Abadi
    4. Tentang Praktek Spirituil (Sadhana)[18]

 

Dasasila Ajaran Guru Nanak:

  1. Engkau harus percaya pada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Engkau harus menghormati manusia sesamamu, baik laki-laki maupun wanita, dengan respek yang sejajar.
  3. Engkau harus mempunyai rasa peri-kemanusiaan yang luas dan mendalam.
  4. Engkau harus memajukan watak pribadimu dengan perbuatan kebajikan yang mulia dan luhur.
  5. Engkau harus selalu ingat kepada Tuhan.
  6. Engkau tidak boleh buta akan kepercayaan.
  7. Engkau harus menolak perbedaan kasta.
  8. Engkau tidak boleh berjanji dengan mempergunakan bentuk dan adat istiadat agama.
  9. Engkau tidak boleh menyangkal kenyataan dunia ini.
  10. Engkau tidak boleh percaya dengan peraturan seorang pemimpin rohani akan penyelamatan dirimu atas hukuman Tuhan.[19]

 

  1. Konsep Ketuhanan Dalam Agama Sikh

Berkaitan dengan konsep ketuhanan, definisi terbaik yang dapat diberikan oleh orang-orang Sikh adalah konsep ‘Mul Mantra’. Konsep ini menjadi landasan fundamental agama Sikh yang termuat di dalam bagian permulaan kitab suci agama Sikh yaitu Sri Guru Granth Shahib. Dalam kitab Sri Guru Granth Shahib volume 1, pasal 1 ayat 1 disebutkan istilah ‘Japoji Mul Mantra’. Ayat tersebut berbunyi “Hanya ada Allah Tuhan Yang Esa”. Tuhan itu disebut Dadru, ‘Sang Pencipta’, atau ‘Dia yang terbebas dari rasa takut dan rasa kebencian’, ‘Dia Yang Kekal’, ‘Dia yang tidak dilahirkan’. Agama Sikh ini secara tegas menyatakan diri sebagai agama monotheisme. Dan Tuhan Yang Maha Kuasa yang tidak tampak wujudnya itu disebut ‘Ek Omkara’, sedangkan Tuhan yang tampak wujudnya disebut ‘Omkara’. 

Guru Granth Shahib memberikan nama-nama yang beragam kepada bentuk penampakan Tuhan ini (Omkara), atau yang disebut dengan ‘Kartar’ (Sang Pencipta), ‘Akal’ (Yang Abadi), ‘Satyanama’ (Yang Maha Suci), ‘Shahib’ (Tuhan), ‘Parvadigar’ (Sang Pemelihara), ‘Rahim’ (Sang Pengasih), ‘Karim’ (Yang Mulia). Tuhan juga mempunyai gelar lain yang disebut dengan ‘Wahe Guru’, yang berarti satu Tuhan yang sejati.

Disamping itu, agama Sikh juga menentang ajaran Avtarvada, yakni konsep titisan (inkarnasi) Tuhan. Orang-orang Sikh ini meyakini bahwa Tuhan tidak bisa mengambil wujud berupa manusia. Mereka tidak percaya bahwa Tuhan bisa melakukan inkarnasi, dan mereka juga melarang pe-nyembahan-penyembahan terhadap berhala-berhala. Guru Nanak sangat dipengaruhi oleh ajaran Kabir. Tidak mengherankan, bila Anda membaca ‘Sri Guru Granth Sha-hib’, terdapat beberapa bab yang mengandung untaian ‘Do has’ dari Sant Kabir. ‘Dukh mein sumren sab kare, Sukh mein kare na koi. Joi sukh mein sumren kare, to dukh kahe hoi’. Artinya, setiap orang akan ingat kepada Tuhannya tatkala ia berada dalam lilitan masalah, tetapi tidak seorangpun yang mengingat-Nya tatkala berada dalam keadaan senang dan bahagia. Seseorang yang bisa mengingat Tuhan tatkala berada dalam keadaan senang dan bahagia, bagaimana mungkin ia akan terjatuh ke dalam masalah .

Pesan yang sama disampaikan dalam kitab suci Al-Qur’an yang berbunyi., yakni di dalam surat Az-Zumar, surat ke-39, ayat 8, disebutkan 

 

“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya. Kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya, lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu bagi Allah untuk menyesatkan manusia dari jalan-Nya”.[20] 

 

  1. Ajaran Nanak tentang Manusia

Guru Nanak mengajarkan bahwa seluruh umat manusia adalah satu. Orang dimuliakan bukan karena ia anggota kasta ini atau itu, kepercayaan ini atau itu, melainkan karena ia adalah “manusia”. Oleh sebab itu Nanak sangat menentang ajaran tentang kasta, lebih-lebih ajaran tentang adanya manusia “najis” yang haram di sentuh.

Nanak meletakkan dasar bagi pengengkatan martabat manusia di kalangan masyarakat Hindu bukan atas dasar kasta, upacara-upacara singkat seperti mantra-mantra, keajaiban-keajaiban, misteri-misteri, tetapi atas dasar kodrat dan kecenderungan manusia itu sendiri. “Tidak ada gunanya itu kasta dan kelahiran: pergilah dan tanyakan pada mereka yang mengetahui kebenaran. Derajat seseorang ditentukan oleh amal kebajikannya,” demikian katanya.

Nanak sangat mementingkan segi moral manusia. Menurut dia, manusia harus hidup dengan mengutamakan kesempurnaan moral, karena nilai manusia terletak pada tinggi rendahnya moral itu.

 

  1. Ajaran Nanak tentang Alam

Nanak mengajarkan bahwa alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan, dan tidak abadi. Yang kekal dah abadi hanya Tuhan, karena Tuhan adalah Realitas Mutlak. Nanak, juga manusia lain, adalah hamba Tuhan. Tuhan adalah Yang Maha Kuasa, menguasai segala-galanya. Kalau manusia beranggapan bahwa ia bebas melakukan kehendaknya, maka ia tidak akan dapat menikmati kebahagiaan yang sejati. Dengan kodrat dan iradat Tuhan seluruh alam ini terjadi, dan melalui Hukum Tuhan alam ini menjalani kehidupannya. Tidak ada sesautu yang bisa berjalan di luar Kehendak dan Hukum Tuhan.

Apapun yang dikendaki Tuhan semuanya pasti terjadi. Tidak ada yang berada di bawah kuasa makhluk. Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Tahu dan Maha Kasih Sayang. Ajaran-ajaran yang berasal langsung dari Nanak ini dilengkapi terus oleh guru penggantinya. Guru Angarh mulai mencetuskan tentang perlunya kaum Sikh memiliki kitab suci dan rumah ibadahnya sendiri. Ia mempelopori pengadaan dua hal tersebut. Ia berusaha membersihkan unsur-unsur Hindu dari dalam Sikh seperti larangan pemujaan Sakti. Larangan membakar janda yang ditinggal mati suaminya dipelopori oleh Amar Das, guru ketiga. Ram Das menetapkan ajaran tentang kewajiban menyumbangkan sebgaian harta untuk menegakkan agama dan kepentingan umat. Juga pengangkatan seseorang menjadi iman atau pemimpin upacara ditetapkan olehnya. Realisasi ide adanya tempat suci dilaksanakan oleh Ram Das ini. Ia membangun kuil emas Amritsar, yang sampai sekarang dianggap sebagai kuil yang paling suci oleh orang-orang Sikh.

Guru Govind Singh memperdekat Sikh dengan Hindu. Ia memasukkan kembali unsur-unsur Hindu yang sebelumnya telah dibersihkan dari Sikh. Berkat jasanya, syair-syair Ramayana dan Mahabharata dipadukan pembacanya sebagai Adi Granth di kuil-kuil Sikh. Begitu juga ajaran-ajaran tambahan lainnya, seperti penyucian atau sakramen yang mereka sebut Khandadi-Paul dan Karah Parshad. Perjamuan dan simbol-simbol kesucian yang terdiri dari 5K juga merupakan hasil tambahan dari guru.[21]

 

  1. Tentang Ibadah Dan Tempat Yang Disucikan

Gurdwara adalah sebuah kuil peribadatan pemeluk Sikh. Gurdwara di Amritsar, nama resminya Harmandir Sahib, berwarna emas, bersinar gemilang. Kuil ini terletak di tengah danau berbentuk persegi. Tanah di sekitarnya berupa lantai pualam. Amritsar semula adalah nama danau. Amrit Sarovar berarti danau air suci. Kemudian menjadi nama kompleks kuil ini. Sampai akhirnya, seluruh kota ini dinamai Amritsar. Danau ini begitu suci. Ratusan umat Sikh mencelupkan diri ke dalam airnya yang sejuk. Ritual mandi ini bukan sekadar membasuh diri secara badani, tetapi punya juga pembasuhan dan penyucian jiwa spiritual. 

Ada sedikitnya 15 juta penganut agama Sikh di India. Pria Sikh dikenali dengan mudah dari turban mereka yang membumbung tinggi. Mereka selalu menutup rambut panjang mereka dengan turban. Dalam agama Sikh, kesh atau rambut yang terpotong, adalah salah satu simbol terpenting. Sepanjang apa pun, rambut, jenggot, dan semua bulu yang tumbuh di sekujur tubuh tak boleh dipotong. Kaum pria menyembunyikan rambut panjangnya dengan rapi di bawah surban mereka. Kaum wanita selain berambut panjang juga tidak boleh mencukur alis. Rambut punya arti yang penting dalam agama ini. Memasuki tempat suci ini, semua orang diharuskan untuk menutup rambutnya, boleh dengan surban, topi, kerudung, atau kain. 

Di dalam ajaran agama Sikh “Rambut adalah lambang kesucian yang dianugerahkan Tuhan kepada umat manusia. Tidak memotong rambut berarti menerima dan mensyukuri apa yang dianugerahkan oleh Tuhan.” Kuil emas ini terbuka bagi semua orang. Umat dari pelbagai agama, bahkan yang tidak beragama pun, disambut dengan ramah di sini. Di tempat sucinyalah dia merasa, hati dipenuhi rasa berserah diri yang sepenuhnya. 

 

  1. Tentang Aspek Eskatologi (Hidup Setelah Mati)

Kepercayaan dalam agama Sikh tentang hidup setelah mati rupanya ajarannya sama dengan Islam. Adapun perbedaan yang mendasar di dalam ajaran agama Sikh dengan agama Islam adalah tidak adanya kepercayaan di dalam agama Sikh tentang hari akhir. Mereka masih mempercayai nirwana yang diajarkan oleh agama Hindu Brahmana. 

 

  1. B.     Kitab Suci Agama Sikh
    1. Adi Granth

Adi Granth bermakna Kitab Asli (Original Books) dan bisa pula dipanggilkan dengan Kitab Pertama (Firs Books).[22] Kitab suci ini disebut juga Guru Granth Sahib, dan merupakan kitab yang disusun oleh guru yang kelima, Arjun, di Amritsar. Adi Granth mempunyai tiga versi, yaitu Kartar Vali Bir, Bhai Banno Vali Bir, dan Dam Dama Vali Bir. Kitab tersebut merupakan buku kecil, hasil revisi Guru Govind Singh yang melengkapi dan menyisipi isi kitab yang disusun ayahnya, Tegh Bahadur, yang terdiri dari nyanyian-nyanyian suci yang disusun oleh lima orang yang pertama, dan disusun oleh Govind Singh sendiri, serta syair-syair yang diambilkan dari Mahabatrata dan Ramayana Hindu.[23]

Tulisan-tulisan dalam Adi Granth dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu:

1)      Nyanyian-nyanyian suci yang disusun oleh guru-guru Sikh. Merupakan bagian terbesar, terdiri dari 2218 syair oleh Arjun; 974 syair oleh Guru Nanak; 907 susunan Amar Das; 679 susunan  Ram Das; 115 karangan Tegh Bahadhur dan 62 syair.

2)      Nyanyian yang berasal dari kaum mistik, baik yang beragama Hindu maupun kaum sufi. Sebagian besar berasal dari sufi besar, Kabir dan Farid.

3)      Pujian-pujian yang ditujukan terhadap guru-guru Sikh, disusun oleh para penyair pengembara Sikh.

 

  1. Dasam Granth

Dasam Granth bermakna Kitab guru Kesepuluh (The Granth of the Tenth Guru). Di dalam himpunan itupun termasuk karya tokoh-tokoh Hindu dan karya tokoh-tokoh Islam, termasuk himpunan sajak Kabir (1488-1512 M) dan himpunan sajak Ramananda (abad ke-15 M), seorang tokoh reformasi dalam agama Hindu.[24] Kitab ini disebut juga dengan Dasvin Padshah ka Granth dan merupakan tulisan Guru Govind Singh sendiri. Isinya terdiri dari empat bagian, yaitu:

1)      Mitologi, berisi dongeng-dongeng yang diceritakan oleh Guru Govind Singh mengenai dewa-dewa dan dewi-dewi agama Hindu.

2)      Filosofis, bagian yang terdiri dari karya-karya terkenal seperti Jap Shahib, Akal Ustat, Gyan Probodh, dan Sabad Hazare.

3)      Otobiografi, bagian yang berkenaan dengan riwayat hidup atau biografi termasuk ke dalam Bichitra Natak dan Zafar Nama.

4)      Bagian yang berkenaan dengan masalah hawa nafsu atau erotik, diantaranya cerita-cerita yang diceritakan Guru Govind Singh mengenai godaan-godaan kaum wanita serta penuh cerita-cerita yang sangat cabul.

 

Kitab ini sebagai tambahan atau pelengkap Adi Granth, terdapat Janam Sakhis atau riwayat hidup Guru Nanak secara tradisional. Berisi dongeng-dongeng dan penuh dengan cerita-cerita Mukjizat dan keajaiban-keajaiban.

 

  1. C.    Praktek Keagamaan Sikh

Agama Sikh tidak banyak merumuskan upacara ibadat. Ibadat yang paling pokok adalah semadi dalam rangka mengingat Tuhan untuk menyucikan rohani dari pengaruh-pengaruh yang menjauhkan manusia dari Tuhan.

Di samping itu, mereka mengenal sujud dan menyanyi di kuil. Tetapi semuanya itu inti pokoknya adalah zikir. Menurut mereka, kewajiban tertinggi adalah menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa secara terus menerus. Nama Tuhan Yang Murni itu adalah kekuatan yang akan membantu manusia, sehingga harus selalu diingat dan diucapkan. Hilangkan segala sesuatu dari ingatan selain nama Yang Murni itu. Sebut nama itu berulang kali, dengar nama itu, tumpahkan ingatan akan nama itu, ulang dan ulangi terus menyebut nama Tuhan setiap saat sampai jiwa terserap ke dalam cahaya ketuhanan.

Nama Tuhan yang Murni diwujudkan dalam bentuk jamaah yang oleh mereka disebut dengan Khalsa Panth (Jalan Yang Murni). Orang yang sudah menempuh jalan ini, artinya sudah menjadi anggotanya melalui sakramen atau baptis, akan memperoleh status sebagai “orang yang suci murni.”

Tidak semua kaum Sikh mengakui dan mau menerima upacara sakramen dalam bentuk pembaptisan ini. Mereka menganggap bahwa baptis atau sakramen bukan ajaran Nanak. Mereka tetap mengutamakan semadi dan ketentraman jiwa dalam ibadat. Mereka disebut Sahajdharis atau “orang yang hidup tentram.”

Selain itu, kaum Sikh juga menjadikan tradisi menyikat rambut dua kali sehari dan membaca serta menyanyikan syair-syair yang terdapat dalam kitab suci mereka setiap hari sebagai ibadat. Bagi mereka yang tergabung dalam golongan Khalsa Panth, berperang adalah juga ibadat. Sebab itu, tidak aneh bila setiap mereka melakukan aksi-aksi kekerasan, kekuatan terakhir, yang terdiri dari basis kaum militernya, selalu dipusatkan di kuil, termasuk kuil emas Amritsar.

Akhirnya perlu dilihat kembali keyakinan dan kecenderungan Nanak sendiri selama dia bersentuhan dengan berbagai ajaran agama yang dianut oleh masyarakat India, terutama agama Hindu dan Islam.

Ibadat-ibadat Hindu jelas ditolak semuanya oleh Nanak, tapi ibadat-ibadat Islam juga tidak ada yang ditetapkannya sebagai ibadat kaum Sikh. Jalan semadi dan zikir yang diutamakannya untuk menyembah Tuhan adalah merupakan jalan mistik yang paling populer dalam semua agama. Melalui jalan mistik semua agama bertemu, sehingga benar kiranya bila dikatakan bahwa agama Sikh yang didirikan oleh Nanak merupakan agama mistik sinkretis.[25]

 

 

 

KESIMPULAN

 

Dari pembahasan di atas mengenai Agama Sikh dapat disimpulkan bahwa Agama Sikh didirikan oleh Guru Nanak (1469-1539). Kepercayaan Sikh, atau lebih dikenal dengan nama “Khlasa” atau “yang murni” berasal dari agama Hindu, muncul dalam tahun 1699 M. Sikh berarti murid, dan Sikha berarti murid atau pengikut Sikh. Agama Sikh merupakani agama “sinkretis” karena ia didirikan dengan maksud “memperdamaikan antara Islam dan Hinduisme.”

Dalam agama ini ada sepuluh guru Sikh yang sangat berpengaruh dan berperan penting serta berbagai peperangan yang dalam sejarah perkembangan agama Sikh. Selain itu mereka pun diwajibkan mengamalkan 5K yang dicetuskan oleh Guru kesepuluh, Gobind Singh, sebagai lambang dari Sikh serta adat istiadat mereka yang unik yang membedakan bangsa India lainnya.

Konsep kepercayaan Agama Sikh monoteis serta tidak mempercayai kehidupan akhirat, yakni percaya terhadap reinkarnasi. Kitab suci Sikh yaitu Adi Granth  atau disebut juga “Sri Granth Sahib” dan Dasam Granth. Ritual yang dilakukan melalui jalan mistik yakni zikir atau semadi. Menurut mereka, kewajiban tertinggi adalah menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa secara terus menerus. Praktek ini cenderung dengan agama Islam dan Hindu. Sehingga bisa dikatakan bahwa agama Sikh merupakan agama mistik sinkretis.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ali, Mukti (Pengantar), Agama-Agama Dunia, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press,1988

Pendit, Nyoman S., Guru Nanak dan Agama Sikh, Jakarta: Yayasan Sikh Gurdwara Mission: 1988

Naik, Zakir, Concept of God in Major Religions, New Delhi: Adam Publishers & Distributors, 2007

Carmody, Denise L. dan John T. Carmody,  Ways to The Center An Introduction to World Religions, California: Wadsworth Publishing Company, 1984

Sou’yb, Joesoef, Agama-Agama Besar Di Dunia, Jakarta: Al Husna Zikra, 1996

Pamungkas, Sagita Catur, http://pengetahuan-mengenai-agama-sikh.html, diakses pada Minggu, 5 Mei 2013

 


[1]Mukti Ali (pengantar), Agama-Agama Dunia, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press,1988 Cet.I, h. 183

[2] Ibid, h. 185

[3] Sagita Catur Pamungkas, http://pengetahuan-mengenai-agama-sikh.html, diakses pada Minggu, 5 Mei 2013

[4] Nyoman S. Pendit, Guru Nanak dan Agama Sikh, Jakarta: Yayasan Sikh Gurdwara Mission: 1988, Cet.II, h.26

[5] Joesoef Sou’yb, Agama-agama Besar di Dunia, Jakarta: Al Husna Zikra, 1996, h.144

[6] Denise L. Carmody dan John T. Carmody,  Ways to The Center An Introduction to World Religions, California: Wadsworth Publishing Company, 1984, h.333

[7] Joesoef Sou’yb, Agama-agama Besar di Dunia, Jakarta: Al Husna Zikra, 1996, h. 145

[8] Naik, Zakir, Concept of God in Major Religions, New Delhi: Adam Publishers & Distributors, 2007 h. 15

 

[9] Ibid, h.185

[10] Nyoman S. Pendit, Guru Nanak dan Agama Sikh, Jakarta: Yayasan Sikh Gurdwara Mission: 1988, Cet.II, h. 27

[11] Ibid, h.186

[12] Nyoman S. Pendit, Guru Nanak dan Agama Sikh, h.18

[13] Ibid, h.186

[14] Nyoman S. Pendit, Guru Nanak dan Agama Sikh, h.17

[15] Ibid, h. 191

[16] Ibid, h. 191-201

[17]Sagita Catur Pamungkas, http://pengetahuan-mengenai-agama-sikh.html, diakses pada Minggu, 5 Mei 2013

[18] Nyoman S. Pendit, Guru Nanak dan Agama Sikh, h. 87

[19] Nyoman S. Pendit, Guru Nanak dan Agama Sikh, h.94

[20] Naik, Zakir, Concept of God in Major Religions, New Delhi: Adam Publishers & Distributors, 2007 h. 16-17

[21] Ibid h. 206

[22] Joesoef Sou’yb, Agama-agama Besar di Dunia, Jakarta: Al Husna Zikra, 1996, h. 145

[23] Ibid, h. 207

[24] Joesoef Sou’yb, Agama-agama Besar di Dunia, Jakarta: Al Husna Zikra, 1996, h.146

[25] Ibid, h. 206-207

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s