Agama Shinto

AGAMA SHINTO

 

  1. 1.      Sejarah dan Perkembangan Agama Shinto

Wilayah Jepang terdiri dari empat pulau besar, yaitu Hondo (Honsyu) dan Hokkaido (Ezo) dan Shikoku dan Kyushu, beserta ribual pulau kecil. Bentuk susunan sosial Jepang dewasa itu terdiri atas himpunan berbagai suku (Uji), yang satu persatu suku itu dibawah pimpinan seorang kepala suku (Uji No Kami). Negara Jepang itu sepanjang sejarah sering berbenturan dengan Korea dan Tiongkok dan pertempuran itu meniggalkan jejak pengaruh di Jepang.[1] Nama asli bagi agama itu ialah Kami no Michi, yang bermakna “jalan dewa”.

Agama Shinto di Jepang itu tumbuh dan hidup dan berkembang dalam lingkungan penduduk. Pada saat Jepang berbenturan dengan kebudayaan Tiongkok maka nama asli itu terdesak kebelakang oleh nama baru yaitu Shin-To. Nama baru itu perubahan dari Tien-Tao, yang bermakna “jalan langit”. Perubahan bunyi kata itu seperti halnya dengan aliran Chan, sebuah sekte agama Budha mazhab Mahayana di Tiongkok, menjadi aliran Zen sewaktu berkembang di Jepang. Dan nama Shinto itu sendiri baru dipergunakan untuk pertama kalinya untuk menyebut agama asli bangsa Jepang itu ketika agama Buddha dan agama konfusius (Tiongkok) sudah memasuki Jepang pada abad ke-6 M.

Shinto adalah kata majemuk daripada “Shin” dan “To”. Arti kata “Shin” adalah “roh” dan “To” adalah “jalan”. Jadi “Shinto” mempunyai arti lafdziah “jalannya roh”, baik roh-roh orang yang telah meninggal maupun roh-roh langit dan bumi. Kata “To” berdekatan dengan kata “Tao” dalam taoisme yang berarti “jalannya Dewa” atau “jalannya bumi dan langit”. Sedang kata “Shin” atau “Shen” identik dengan kata “Yin” dalam taoisme yang berarti gelap, basah, negatif dan sebagainya ; lawan dari kata “Yang”. Dengan melihat hubungan nama “Shinto” ini, maka kemungkinan besar Shintoisme dipengaruhi faham keagamaan dari Tiongkok. Sedangkan Shintoisme adalah faham yang berbau keagamaan yang khusus dianut oleh bangsa Jepang sampai sekarang.

Shintoisme merupakan filsafat religius yang bersifat tradisional sebagai warisan nenek moyang bangsa Jepang yang dijadikan pegangan hidup. Tidak hanya rakyat Jepang yang harus menaati ajaran Shintoisme melainkan juga pemerintahnya juga harus menjadi pewaris serta pelaksana agama dari ajaran ini. [2]

Agama Shinto didirikan mulai sekitar 2,500 – 3000 tahun yang lalu di Jepang. Agama ini memiliki 13 sekte dengan masing-masing pendirinya. Pengikutnya sekitar 30 Juta orang, dominasi di Jepang. Sebagian besar juga adalah penganut agama Buddha. Ada dua pemisahan utama. Pertama adalah tiga belas sekte-sekte kuno, hampir sama semuanya. Kedua adalah apa yang dikenal sebagai Shinto Negara, dan merupakan sinthesa kemudian yang menemukan ekspresi tertinggi pada pemujaan pada Kaisar dan kesetiaan pada Negara dan keluarga.

Agama Shinto itu berkenyakinan pada mitos bahwa bumi di Jepang itu diciptakan dewata yang pertama-tama dan bahwa Jimmu Tenno (660 SM), Kaisar Jepang yang pertama, adalah turunan langsung dari Amaterasu Omi Kami, yaitu dewi matahari, dalam perkawinannya dengan Taouki Lomi, yakni dewa bulan. Sekalian upacara dan kebaktian terpusat seluruhnya pada pokok keyakinan tersebut.

Sejarah perkembangan agama Shinto di Jepang dapat dibagi menjadi beberapa tahap massa :

  1. Masa perkembangannya dengan pengaruh yang mutlak sepenuhnya di Jepang, Yaitu dari tahun 660 SM – 552 M. kira-kira 12 abad lamanya.
  2. Masa agama Budha dan ajaran Konfusianisme dan ajaran Taoisme masuk ke Jepang, yaitu tahun 552 M sampai tahun 800 M, yang dalam masa dua setengah abad itu agama Shinto memperoleh persainga berat, pada tahun 645 M kaisar Kotoku merestui agama Buddha dan menyampingkan Kami no Michi. Sedangkan pada tahun 671 M sang Kaisar membelakangi dunia dan mengenangkan pakaian rahib.
  3. Masa sinkronisasi secara berangsur-angsur antara agama Shinto dengan tiga ajaran lainnya, yaitu dari tahun 800 M sampai 1700 M, yang masa dalam sembilan abad itu pada akhirnya lahir Ryobu Shinto yang didirikan oleh Kubo Daishi (774-835 M) dan Kita Batake Chikafuza (1293 – 1354 M) dan Ichijo Kanoyoshi (1465-1500 M).

 

Kemudian agama Shinto bercampur dengan agama Buddha demikian pula dengan agama Konghucu yang masuk ke jepang langsung dari tanah asalnya kira kira pada abad pertengahan ke 7, Tentang pengaruh agama Buddha yang lain nampak pada hal-hal seperti anggapan bahwa dewa-dewa Shintoisme merupakan Awatara Buddha (penjelmaan dari Buddha dan Bodhisatwa), Dainichi Nyorai (cahaya besar) merupakan figur yang disamakan dengan Waicana (salah satu dari dewa-dewa penjuru angin dalam Budhisme Mahayana), hal ini berlangsung sampai abad ke-17 M.

Ahirnya ketiga agama itu bergandengan bersama sampai sekarang, hal itu tidaklah aneh karena orang jepang tidak menolak kepercayaan apapun yang masuk negrinya, asalkan tidak menggangu keselamatan Negara, tujuan utama bagi pemeluk agama Shinto adalah kebahagiaan dalam kehidupan dunia, mereka menganggap bahwa orang yang sudah mati dapat membantu mereka dalam menjalankan hidup ini dari abad keabad kultus (kebaktian) terhadap roh nenek moyang selalu berubah bentuknya tetapi sifat kultus yang khas masih tetap sama.[3]

Setelah abad ke-17, timbul lagi gerakan untuk menghidupkan kembali ajaran Shinto murni di bawah pelopor Kamamobuchi, Motoori, Hirata, Narinaga dan lain-lain dengan tujuan bangsa Jepang ingin membedakan “Badsudo” (jalannya Buddha) dengan “Kami” (roh-roh yang dianggap dewa oleh bangsa Jepang) untuk mempertahankan kelangsungan kepercayaannya.

Pada abad ke-19 tepatnya tahun 1868 agama Shinto diproklamirkan menjadi agama negara yang pada saat itu agama Shinto mempunyai 10 sekte dan 21 juta pemeluknya. Sejak saat itu dapat dikatakan bahwa paham Shintoisme merupakan ajaran yang mengandung politik religius bagi Jepang, Sebab saat itu taat kepada ajaran Shinto berarti taat kepada kaisar dan berarti pula berbakti kepada negara dan politik negara.

 

 

  1. 2.      Ajaran dan Praktek Keagamaan Shinto
    1. A.    Ajaran Agama Shinto

Dalam agama Shinto yang merupakan perpaduan antara faham serba jiwa (animisme) dengan pemujaan terhadap gejala-gejala alam mempercayai bahwasanya semua benda baik yang hidup maupun yang mati dianggap memiliki ruh atau spirit, bahkan kadang-kadang dianggap pula berkemampuan untuk bicara, semua ruh atau spirit itu dianggap memiliki daya kekuasaan yang berpengaruh terhadap kehidupan mereka (penganut Shinto), daya-daya kekuasaan tersebut mereka puja dan disebut dengan “Kami”.

Istilah “Kami” dalam agama Shinto dapat diartikan dengan “di atas” atau “unggul”, maka kata “Kami” dapat dialih bahasakan (diartikan) dengan “Dewa” (Tuhan, God dan sebagainya). Dewa-dewa dalam agama Shinto jumlahnya tidak terbatas, bahkan senantiasa bertambah, hal ini diungkapkan dalam istilah “Yao-Yarozuno Kami” yang berarti “delapan miliun dewa”. Menurut agama Shinto kepercayaan terhadap berbilangnya tersebut justru dianggap mempunyai pengertian yang positif. Sebuah angka yang besar berarti menunjukkan bahwa para dewa itu memiliki sifat yang agung, maha sempurna, maha suci dan maha murah.

Pengikut-pengikut agama Shinto mempunyai semboyan yang berbunyi “Kami negara – no – mishi” yang artinya : tetap mencari jalan dewa. Kepercayaan kepada “Kami” daripada benda-benda dan seseorang, keluarga, suku, raja-raja sampai kepada “Kami” alam raya menimbulkan kepercayaan kepada dewa-dewa.Orang Jepang (Shinto) mengakui adanya dewa bumi dan dewa langit (dewa surgawi) dan dewa yang tertinggi adalah Dewi Matahari (Ameterasu Omikami) yang dikaitkan dengan pemberi kamakmuran dan kesejahteraan serta kemajuan dalam bidang pertanian.

Disamping itu, mereka juga mempercayai adanya kekuatan gaib yang mencelakakan, yakni hantu roh-roh jahat yang disebut dengan Aragami yang berarti roh yang ganas dan jahat. Dualistis satu sama lain saling berlawanan yakni “Kami” versus Aragami (Dewi melawan roh jahat) sebagaimana kepercayaan dualisme dalam agama Zarathustra.

Dari kutipan di atas dapat dilihat adanya tiga hal yang terdapat dalam konsepsi kedewaan agama Shinto, yaitu :

  1. Dewa-dewa yang pada umumnya merupakan personifikasi dari gejala-gejala alam itu dianggap dapat mendengar, melihat dan sebagainya sehingga harus dipuja secara langsung.
  2. Dewa-dewa tersebut dapat terjadi (penjelmaan) dari roh manusia yang sudah meninggal.
  3. Dewa-dewa tersebut dianggap mempunyai spirit (mitama) yang beremanasi dan berdiam di tempat-tempat suci di bumi dan mempengaruhi kehidupan manusia.

 

  1. B.     Praktek Keagamaan Shinto

Mengenai tata cara sembahyang atau doa dalam kuil Shinto sangat sederhana yaitu melemparakan sekeping uang logam sebagai sumbangan di depan altar, mencakupkan kedua tangan di dada dan selesai. Jadi semua proses berdoa yang dilakukan dengan berdiri ini tidak lebih dari sepuluh detik. Doa dilakukan tidak mengenal hari atau jam khusus jadi bebas dilakukan kapan saja. Sedikit catatan, bisa saya sebutkan bahwa tata cara doa di kuil Shinto dengan kuil Buddha sangatlah mirip. Yang sedikit berbeda adalah di kuil Buddha tangan dicakupkan ke depan dada dengan pelan, hening dan tanpa suara, sedangkan kuil Shinto adalah sebaliknya yaitu mencakupkan tangan dengan keras sehingga menghasilkan suara sebanyak dua kali (mirip tepuk tangan).

Walaupun aturan tata cara berdoa ini bisa disebut baku namun sama sekali tidaklah bersifat mengikat. Berdoa tepat di depan altara utama, dari halaman kuil, dari luar pintu gerbang, dilakukan tidak dengan mencakupkan tangan namun membungkukan badan atau bahkan tidak berdoa sama sekali bukanlah masalah sama sekali.

Agama Shinto sangat mementingkan ritus-ritus dan memberikan nilai sangat tinggi terhadap ritus yang sangat mistis. Menurut agama Shinto watak manusia pada dasarnya adalah baik dan bersih. Adapun jelek dan kotor adalah pertumbuhan kedua, dan merupakan keadaan negatif yang harus dihilangkan melalui upacara pensucian (Harae). Karena itu agama Shinto sering dikatakan sebagai agama yang dimulai dengan dengan pensucian dan diakhiri dengan pensucian. Upacara pensucian (Harae) senantiasa dilakukan mendahului pelaksanaan upacara-upacara yang lain dalam agama Shinto. Atas pengaruh ajaran kebersihan atau kesucian ini, maka soal “mandi” termasuk perbuatan utama, sehingga dijadikan salah satu upacara keagamaan. Kamar atau tempat mandi dipandang sebagai tempat menarik hati bagi semua orang, sedangkan waktu mandi ditetapkan menjadi tradisi, misalnya 2 jam diwaktu sore anatara jam 17.00 dan 19.00 sebelum makan malam. Banyak terdapat uapaca-upacara ditetapkan dengan melalui pemandian. [4]

Ritus-ritus yang dilakukan dalam agama Shinto terutama adalah untuk memuja dewi Matahari (Ameterasu Omikami) yang dikaitkan dengan kemakmuran dan kesejahteraan serta kemajuan dalam bidang pertanian (beras), yang dilakukan rakyat Jepang pada Bulan Juli dan Agustus di atas gunung Fujiyama.

Upacara resmi dan bersifat menyeluruh bagi bangsa Jepang di pusatkan di kui Ise, yang terletak pada pesisir tenggara Kyoto, pemujaan terhadap Amaterasu Omi Kami (dewi matahari). Tepatnya berada dikuil Naiku, kuil tua yang terletak pada bagian dalam dank anon dibangun pada tahun 4 SM, kuil itu sangat terpandang suci bagi pemujaan Dewi Matahari, sedangkan pada bagian luar terdapat kuil Geku bagi pemujaan Dewi Makanan, Dewi Ukemochi. Seorang Shinto atau seorang Buddha di Jepang, merasa suatu kewajiban untuk sekali dalam seumur hidupnya pergi ziarah ketempat suci di Ise itu.

Pada setiapa hari kelahiran kaisar, seluruh lembaga pendidikan di Jepang, atas perintah resmi, melakukan uapacara yang kidmat dengan menundukan diri di depan gambar sang Kaisar. Kaisar itu dipandang suatu yang sangat sakral.

Akan tetapi sehabis perang dunia kedua, maka perubahan besar terjadi pada kekuasaan Kaisar yang absolut itu telah digantikan kekuasaan rakyat melalui sitem pemilihan umum, dan kaisar sudah ditempatkan pada lambang belaka, yang kini bukan lagi suatu yang sakral akan tetapi dipandang sebagai manusia biasa, yang saat ini sudah bias bergaul dengan masyarakat umum, sebuah keyakinan azasi dalam agama Shinto itu telah menghilang tempat untuk berpijak.[5]

 

  1. 3.      Kitab Suci Agama Shinto

Dalam agama Shinto ada dua kitab suci yang tertua, tetapi di susun sepuluh abad sepeninggal jimmi temmo (660 SM), kaisar jepang yang pertama. Dan dua buah lagi di susun pada masa yang lebih belakangan, keempat empat kitab tiu adalah sebagi berikut :

  1. Kojiki – yang bermakna : catatan peristiwa purbakala. Disusun pada tahun 712 masehi, sesudah kekaisaran jepang berkedudukan di nara, yang ibukota nara itu di bangun pada tahun 710 masehi menuruti model ibukota changan di tiongkok.
  2. Nihonji –  yang bermakna : riwayat jepang. Di susun pada tahun 720 masehi oleh penulis yang sama degan di Bantu oelh seorang pangeran di istana.
  3. Yeghisiki –  yang bermakna : berbagai lembaga pada masa yengi, kitab ini disusun pada abad kesepuluh masehi terdiri atas 50 bab. Sepuluh bab yang pertama berisikan ulasan kisah kisah yang bersifat kultus, disusuli dengan peristiwa selanjutnya sampai abad kesepuluh masehi, tetapi inti isinya adalah 25 norito yakni do’a do’a pujaan yang sangat panjang pada berbagai upacara keagamaan.
  4. Manyosiu –  yang bermakan : himpunan sepuluh ribu daun, berisikan bunga rampai, yang terdiri atas 4496 buah sajak, disusun antara abad kelima dengan abad kedelapan masehi.

Kitab 1 dan 2  itu menguraikan tentang alam kayangan kehidupan para dewa dan dewi sampai kepada Amaterasu Omi Kami (dewa matahari) dan Tsukiyomi (dewa bulan). Diangkat untuk menguasai langit dan putranya Jimmu Tenno diangkat untuk menguasai tanah yang subur (bumi Jepang) lalu disusul dengan sisilah turunan Kaisar Jepang itu beserta riwayat hidup satu persatuanya.Selanjutnya upacara-upacara keagamaan yang dilakukan dalam masa yang panjang itu, dan berkenaan dengan pemujaan terhadap Kaisar beserta para dewa dan dewinya. Dan di dalam kata pendahuluan itu dalam kitab Kojiki, penulisnya menyatakan bahwa dia seorang bangsawan tingkat lima di istana, yang menerima perintah Kaisar untuk menyusun riwayat hidupnya dan silsilah keturunan Kaisar.

Dan kitab 3 dan 4 berisikan tentang kisah-kisah legendaris, nyanyian-nyanyian kepahlawanan, beserta sajak-sajak tentang asal usul kedewaan, asal usul kepulauan Jepang dan kerajaan Jepang. Ragam hal-hal kisah yang berkaitan tentang kehidupan para dewa dan para dewi dalam kayangan dilangit.Catatan peristiwa pada masa-masa terakhir barulah dilanjutkan dengan kisah sejarah. [6]

 

  1. 4.      Sekte-sekte Agama Shinto

Secara umum Shinto bisa dikelompokkan menjadi 4 bagian atau kelompok. Yang masing masing mempunyai keunikannya tersendiri.

 

  1. a.      Imperial Shinto (Kyuchu Shinto atau Koshitsu Shinto).

Shinto kelompok ini sangat eksklusif dan tidak umum ditemukan. Memiliki beberapa kuil saja yang kalau tidak salah 5 buah di seluruh negeri. Nama kuil ini biasanya berakhir dengan nama Jingu, misalnya Heinan Jingu, Meiji Jingu, Ise Jingu dll. Kuil Shinto kelompok ini selain berfungsi sebagai tempat untuk memuja Kami juga berfungsi sebagai tempat memuja leluhur khususnya keluarga kerajaan. Salah satu dari kuil ini dibangun khusus untuk menghormati dewa Matahari.

 

  1. b.      Folk Shinto (Minzoku Shinto)

Mithologi tentang Kojiki, cerita terbentuknya pulau Jepang dan cerita tentang dewa dewa lain adalah ciri khas dari Shinto kelompok ini. Jadi Folk Shinto adalah kepercayaan Shinto yang meliputi cerita tua, legenda, hikayat dan cerita sejarah. Kuil Kibitsu Jinja yang terletak di daerah Okayama, Jepang tengah adalah salah satu contoh menarik karena dibangun untuk menghormati tokoh utama dalam cerita rakyat yaitu Momo Taro. Disamping itu Shinto kelompok ini juga mendapat pengaruh yang kuat dari agama Buddha, Konghucu, Tao dan ajaran penduduk local seperti Shamanism, praktek penyembuhan dan lain-lain. Kuil kelompok ini biasanya mudah dibedakan dengan kuil lainya karena adanya sejarah pendirian kuil yang unik. Jadi jangan kaget kalau Anda menemukan kuil yang penuh dengan ornament dan pernak pernik kucing atau binatang dan benda lainya karena sejarah pendiriannya yang memang berkaitan dengan binatang tersebut.

 

  1. c.       Sect Shinto (Kyoha atau Shuha Shinto)

Shinto kelompok ini mulai muncul pada abad ke 19 dan sampai saat ini memiliki kurang lebih 13 sekte. Dua diantara sekte ini yang cukup banyak pengikutnya adalah Tenrikyo atau Kenkokyo. Keberadaan dari Sect Shinto ini cukup unik karena memiliki ajaran, doktrin, pemimpin atau pendiri yang dianggap sebagai nabi dan yang terpenting biasanya menggolongkan diri dengan tegas sebagai penganut monotheisme. Shinto golongan ini sepertinya jarang dibahas ataupun kurang dikenal oleh kebanyakan orang.sehingga konsep monotheisme dari shinto aliran baru nyaris luput dari tulisan kebanyakan orang.

 

 

  1. d.      Shrine Shinto (Jinja Shinto)

Dari semua kelompok kuil Shinto yang ada, kelompok inilah yang sepertinya paling mudah untuk ditemukan. Diperkirakan saat ini ada sekitar 80 ribuan kuil yang ada di seluruh negeri dan semuanya tergabung dalam satu organisasi besar yaitu Association of Shinto Shrines.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arifin, Muhammad, H, Prof, M.Ed, Mengguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, GT. Press, Jakarta.

Sou’yb. Joesoef.Agama-agama besar di dunia.PT. Al-Huzna Zikra. Jakarta, cet. Ke-3 1996

http://hmjperbandinganagama.blogspot.com/2011/03/agama-shinto.html diakses pada Maret 2013, pukul 15:45

 

 

 

 

 

 

 

 


[1]  Joesoef Sou’yb, Agama-agama Besar di Dunia (Jakarta: Al Husna Zikra, 1996), h. 207.

[2] Prof. H.M. Arifin. M.Fd. Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar, h. 47.

[4]Ibid ., h. 53.

[5] Joesoef Sou’yb. Agama-agama Besar di Dunia, h. 213.

[6] Joesoef Sou’yb. Agama-agama Besar di Dunia, hal. 212

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s