Agama Persia Kuno

AGAMA PERSIA KUNO

 

  1. 1.      Sejarah Perkembangan Persia Kuno

Iran dan Persia adalah dua nama yang kerap digunakan untuk menunjukkan satu wilayah. Salah satu rumpun bangsa Arya, yaitu Bangsa Media, mendiami wilayah Iran bagian barat. Sementara Bangsa Persia mendiami bagia selatan wilayah tersebut. Bangsa Media dan Bangsa Persia tunduk pada kekuasaan Bangsa Assyiria. Namun, sejak 1000 SM., Bangsa Persia berhasil menaklukan Bangsa Media bahkan menaklukan imperium Assyria. Sejak saat itu, wilayah Iran dikenal dengan nama Persia.

Kekaisaran Arkhmeniyah (Persia), imperium ini didirikan oleh Cyrus atau Koresh yang Agung pada tahun 5550 SM. yang merupakan imperium pertama di kala itu. Pada tahun 486 SM., Raja Darius I naik tahta, dan pada tahun 521 SM. menguasai Iran. Pada tahun 334 SM., Alexander Agung, Kaisar Macedonia, Yunani, menaklukkan dan menguasai imperium Persia, bahakan membakar ibukotanya Parsepolis. Tindakan ini sengaja dilakukan sebagai balasan atas pembakaran kota Athena yang dilakukan oleh pasukan Persia. Alexander sendiri mengikrarkan bahwa ia adalah pewaris tahta raja-raja Arkhmeniyah serta memadukan kebudayaan Persia dan Yunani (Helenistik).

Setelah kematian Alexander pada tahun 323 SM., terjadi perpecahan di antara panglima militernya. Mereka pun membagi wilayah kekuasaan yang telah ditaklukkan Alexander. Wilayah Persia menjadi milik panglima Seleukus, salah seorang jenderal Alexander. Persia dikuasai oleh pemerintahan Kekaisaran Seleukus yang berlangsung hingga 141 SM.

Setelah itu muncul Kekaisaran Parthia atau disebut juga Dinasti Arsacia yang menguasai Persia pada tahun 247 SM- 224 M. Nama Arsacia dinisbahkan kepada raja pertamanya, yaitu Arsacia I. Tapi kemudian nama ini dipakai sebagai gelar untuk kekaisaran Parthia, seperti gelar pada raja-raja Romawi.

Kekaisaran Sasanid: didirikan oleh Ardhashir I (w.240) yang berkuasa paa tahun 224 M. Dinasti ini dianggap sebagai pembangun dan penghidup kembali peradaban Persia dan Zoroaster, sekaligus berupaya membangun kembali tradisi Persia peninggalan Dinasti Arkhmeniyah sekaligus pendiri Imperium Pahlavi. Ardhasir wafat dan digantikan oleh putranya, Shapur yang kembali memerangi Imperium Byzantium dan berhasil menaklukkan Kekaisaran Romawi Valerian pada tahun 260 M. Beberapa waktu kemudian, Shapur mendirikan akademi Gundishapur di Gundeshapur. Dia pun kembali membangun tata kerajaan dan Imperium Persia, seperti mebangun banyak kota-kota utama, salah satunya Nishapur.

Pada periode berikutnya, muncul Raja Anusherwan (531-579 M). Pada awal pemerintahannya, ia telah mampu menghilangkan fitnah pengikut Mazdak dan memulihkan stabilitas situasi di Iran. Pada tahun 642 M, pasukan Muslim mengalahkan Bangsa Persia pada dua pertempuran. Perang Qadisiyah dan perang Nahawan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Setelah itu, kaum Muslimin tersebar di negara Persia hingga pemerintahan Dinasti Sasanid berakhir.

 

  1. 2.      Peradaban Persia

Persia merupakan rumah dari salah satu peradaban tertua didunia. Dari tulisan-tulisan sejarah, peradaban Iran yang pertama ialah Proto-Iran[1], diikuti dengan peradaban Elam. Yang dihasilkan oleh peradaban Persia diantaranya, yang sangat terkenal karena kesusatraannya. Sehingga hampir seluruh Negara di dunia pasti mengenal budaya tersebut. Dalam bidang kesusastraan, budaya Persia terkenal dengan bahasa Parsinya. Yang merupakan bahasa penulisan setelah sebelumnya menggunakan bahasa avista. Bahasa Parsi sendiri termasuk dalam rumpun bahasa indo-Europa, yakni rumpun bahasa yang berasal dari dataran tinggi Iran. Bahasa lain yang masuk ke dalam rumpun tersebut adalah bahasa yang sudah tidak asing lagi di Negara Indonesia, yakni bahasa sangsekerta atau bahasa sangskrit. Sementara itu bahasa yang digunakan oleh bahasa Eropa dan termasuk ke dalam rumpun ini antara lain adalah bahasa Latin, Jerman dan Belanda.

Kemudian hasil peradaban yang lainnya yakni dalam bidang arsitektur yakni kincir angin Persia kuno yang merupakan salah satu kincir angin tertua yang pernah dibuat oleh manusia. Kincir angin ini dibuat oleh peradaban Persia sekitar 3000 tahun yang lalu. Kincir angin ini digunakan untuk menggiling gandum dan memompa air. Selain kincir angin ada juga menara angin atau wind tower ini digunakan oleh masyarakat Persia untuk sistem ventilasi udara di rumah – rumah mereka. Sistem ventilasi mereka jauh lebih rumit dari sistem ventilasi rumah pada saat ini.

 

  1. 3.      Ajaran dan Praktek Keagamaan Agama Persia Kuno

Di bidang keagamaan, bangsa Persia mengikuti ajaran seorang nabi Persia yang bernama Zarathustra, dalam bahasa Yunani disebut Zoroaster. Zoroaster menjalankan agama suku Persia kuno yang dibawa orang Persia dari Asia tengah. Mereka menyembah satu dewa, Ahura Mazda, yang dikenal ikut dalam peperangan suci melawan Ahriman (mewakili sikap diam) dan setan (mewakili kejahatan). Menurut penganut Zoroaster, dzat Ahura Mazda adalah esensi murni yang suci dari segala bentuk materi, yang tidak dapat dilihat oleh pandangan mata dan tidak dapat ditangkap kedzatannya oleh akal manusia. Banyak dari manusia yang tidak mampu mengimani dzat dengan sifat seperti ini. Sehingga Zoroastrianisme membuat rumusan tentang hakikat ketuhanan Ahura Mazda dengan rumus[2]:

a)      Rumus pertama bersifat transenden (samawi) yang disimbolkan dengan matahari

b)      Rumus kedua bersifat imanen (ardhi) yang disimbolkan dengan api.

Keduanya adalah unsur yang memancarkan cahaya, menerangi semesta, suci, serta tidak dapat terkontaminasi oleh hal-hal yang buruk dan segala bentuk kerusakan. Kepada cahayalah kehidupan semesta raya ini bergantung. Sifat inilah yang paling mendekati untuk digambarkan oleh akal manusia akan sifat Maha Pencipta.

Zoroastrianisme adalah suatu agama yang bersifat “keduaan” atau dualistis. Disebutkan bersifat keduaan karena para penganutnya percaya bahwa ada dua kekuatan yang saling berperang terus menerus, yakni kekuatan yang baik dan kekuatan yang jahat.

Kekuatan yang baik diwakili oleh Ormadz, sang dewa tertinggi, bersama dengan para pembantunya yang adalah para malaikat. Sedangkan kekuatan yang jahat diwakili oleh Ahriman, si dewa kejahatan, bersama dengan kumpulan setan-setan yang membantunya.[3]

Meskipun ajaran Zarathustra mengajarkan monoteisme dengan Ahura Mazda sebagai satu-satunya dewa yang harus disembah namun keberadaan dewa-dewa lain pun tetap diakui. Dewa-dewa yang turut diakui keberadaanya ada lima yaitu:

  1. Asha Vahista, dewa tata tertib dan kebenaran yang berkuasa atas api.
  2. Vohu Manah, dewa yang digambarkan sebagai sapi jantan ini dikenal sebagai dewa hati nurani yang baik.
  3. Keshatra Vairya, yaitu dewa yang berkuasa atas segala logam.
  4. Spenta Armaity, yaitu dewa yang berkuasa atas bumi dan tanah.
  5. Haurvatat dan Amertat, yaitu dewa-dewa yang berkuasa atas air dan tumbuh-tumbuhan.

Kitab suci agama zoroaster dikenal dengan nama Avesta. Avesta berasal dari akar kata avistak, bermakna Bacaan.[4] Ada tiga bagian di dalam kitab ini[5]:

  1. Gathas, Nyanyian” atau “ode” atau yang secara umum dan tepat dinisbahkan pada Zoroaster sendiri
  2. Yashts atau himne korban yang ditujukan kepada berbagai macam dewa
  3. Vendidat atau Videvdat, “aturan melawan syetan”, berupa sebuah risalah yang terutama menyangkut ketidakmurnian ibadah dan prinsip dualisme yang diperkenalkan oleh Zoroaster dan diuraikan sangat panjang dalam bidang kehidupan praktis.

 

  1. a.      Konsep Mengenai Etika Hidup

Etika hidup yang ideal, ada tiga hal utama yang ditekankan dalam Zoroastrianisme yaitu pikiran yang baik, perkataan yang baik dan perbuatan yang baik. Zoroastrianisme sangat menekankan tanggung jawab moral dari masing-masing orang untuk melakukan kebaikan. Dosa bagi penganut Zoroastrianisme adalah penolakan untuk bersekutu dengan aspek kebaikan dari Ahura Mazda. Mereka meyakini bahwa tidak ada yang ditakdirkan atau dikodratkan sebelumnya. Apa yang dilakukan, dikatakan dan dipikirkan selama hidup akan menentukan apa yang akan terjadi setelah meninggal. Mereka pun menolak konsep pertapaan karena mereka memahami bahwa dunia itu baik. Tidak ada ruang untuk penyangkalan diri dan bertapa karena menolak dunia berarti menolak ciptaan dan menolak ciptaan berarti menolak Sang Pencipta.

 

  1. b.      Konsep Kematian

Agama Zoroaster meyakini bahwa tubuh manusia adalah tidak suci sehingga menurut mereka jasad manusia tidak boleh mengotori bumi dan api, atas dasar alasan tersebut jasad manusia tidak boleh di kubur atau di kremasi. Oleh sebab itu orang yang telah meninggal jenazahnya akan di bawa ke kuil Towers of Silence agar di makan oleh burung pemakan bangkai, burung Nasar. Setelah daging dimakan habis oleh burung Nasar dan tinggal tersisa tulang belulang, maka tulang-tulang tersebut akan di buang ke tengah bangunan.

 

  1. c.       Konsep Kehidupan Setelah Mati (Eskatologi)

Para pengikut Zoroaster percaya bahwa ada suatu peperangan sorgawi yang berlangsung diantara dua kekuatan itu dan akhirnya (yakni pada akhir zaman) Ormadz-lah yang akan menang. Para pengikut ini yakin bahwa kematian bukanlah akhir dari segala sesuatu, melainkan akan ada suatu kehidupan baru bagi orang-orang yang benar ketika Ormadz menang.[6] Manusia diberikan kebebasan untuk memilih kebaikan dan kebenaran. Apabila kebaikan akan menuai hasilnya di kehidupan akhirat yang abadi kelak. Adapun orang yang membela kejahatan dan kedustaan, dia akan mendapatkan siksa di neraka yang abadi.

 

  1. d.      Praktek Keagamaan

Zoroaster menganjurkan pengikutnya untuk senantiasa menyalakan api suci di tungku-tungku api yang terdapat di setiap kuil peribadatan. Api tersebut harus selalu menyala dan memancarkan cahaya. Tungku api itu dijaga dan diurus oleh Magi[7], rohaniawan muda, juga oleh para pendeta kuil. Setiap hari, mereka selalu memasukkan kayu cendana ke dalam tungku api sebanyak lima kali, atau kayu lain yang mengeluarkan aroma wewangian khas, juga menaburkan serbuk-serbuk dan cairan wewangian sehingga udara di dalam kuil selalu terasa segar dan harum semerbak. Mereka juga merapalkan doa dan melaksanakan ritual keagamaan disekitar api tersebut.[8]

Dalam tradisi Zoroastrianisme, ketika akan mendirikan sebuah kuil api baru, mereka diharuskan menyalakan api terlebih dahulu pada sembilan buah lilin atau obor. Nyala api di obor pertama kemudian disalurkan untuk nyala api obor kedua, dan seterusnya hingga pada obor yang ke sembilan. Pengikut Zoroaster meyakini, api yang menyala pada obor terakhir itulah yang telah sampai pada derajat kesucian api. Dan dari api kesembilan itu mereka menyalakan api pada tungku kuil baru tersebut.

Praktek penyembahan para dewa dengan cara melakukan pengorbanan untuk menyenangkan hati para dewa. Api dinyalakan di atas altar yang dibangun khusus dan ke dalamnya dilemparkan daging binatang, biji-bijian, dan susu perah, sementara itu para pendeta mengalunkan pujian suci kepada para dewa tersebut. Apa yang dianggap khusus menyenangkan para dewa adalah persembahan berupa sari tanaman yang memabukkan, yang disebut soma dalam hymne Weda dan homa dalam Avesta.

Sementara, untuk penyembahan kepada nenek moyang di lakukan dengan cara sesajen untuk arwah para nenek moyang berupa suatu kue yang disebut darun (Iran) atau purodasha (Indo-Arya).[9]

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hinson, Dafid F. Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab diterjemahkan Pdt. M. Th. Mawene MTh. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991.

Ali, Mukti. Agama-Agama Di Dunia. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988.

al-Maghlouth, Sami bin Abdullah. Atlas Agama-Agama. Jakarta: Almahira, 2010.

Soi’yb, Joesoef. Agama-Agama Besar Di Dunia. Jakarta: Al Husna Zikra, 1996.

PDF. Ulfat Aziz Us-Samad, Agama Besar Dunia. Peshawar, 1975.

 

 


[1] Suku purba Proto-Indo-Eropa Arya

[2] Sami bin Abdullah al-Maghlouth, Atlas Agama-Agama ( Jakarta : Almahira, 2010), h. 469.

[3] Dafid F. Hinson, Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab diterjemahkan Pdt. M. Th. Mawene MTh. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991), h. 210.

[4] Joesoef Soi’yb, Agama-Agama Besar di Dunia (Jakarta: Al Husna Zikra, 1996), h. 223.

[5] H. A. Mukti Ali, Agama-Agama di Dunia (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988), h. 270-271.

[6] Dafid F. Hinson, Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab diterjemahkan Pdt. M. Th. Mawene MTh (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991), h. 210.

[7] Magi adalah para pemimpin agama.

[8] Sami bin Abdullah al-Maghlouth, Atlas Agama-Agama (Jakarta : Almahira, 2010), h. 469.

[9] PDF. Ulfat Aziz Us-Samad, Agama Besar Dunia, (Peshawar, 1975), hal.71.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s