Agama Mesir Kuno

AGAMA MESIR KUNO

 

  1. 1.      Sejarah dan Perkembangan Mesir Kuno

Mesir merupakan salah satu peradaban tertua di dunia yang terletak di ujung Benua Afrika bagian utara. Peradaban Mesir tumbuh dan berkembang di sekitar aliran Sungai Nil yang membentang sepanjang 6.671 km.

Sungai Nil bersumber dari mata air di dataran tinggi Pegunungan Kilimanjaro di Afrika Timur. Ada empat Negara yang dilewati sungai Nil yaitu Uganda, Sudan, Ethiopia dan Mesir. Peradaban Mesir Kuno bertahan lebih dari 3000 tahun sehingga peradaban Mesir Kuno disebut sebagai peradaban kuno terlama di dunia, sekitar tahun 3300 SM sampai 30 SM.

Selain itu, wilayah Mesir juga memiliki gurun di sebelah barat dan timur, laut di sebelah utara, dan bagian sungai Nil yang deras atau air terjun di sebelah selatan dapat mempersulit serangan musuh. Menurut para arkeolog, orang Mesir menyebut negeri mereka Kemet, yang berarti “Daratan Hitam” yang mengacu pada tanah gelap yang merupakan lahan subut yang tersisa setelah luapan sungai Nil. Mereka juga menggunakan istilah lain, Deshret, yaitu “Daratan Merah”, yang mengacu pada gurun yang terbakar di bawah terik matahari.

Orang-orang Mesir diperkirakan telah menempati wilayah tersebut sejak 6.000 tahun SM. Wilayah mesir merupakan daratan subur yang dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Secara Geografis, Mesir memiliki perlindungan alam berupa dua gurun, yakni Nubia dan Sahara yang menjadikan Mesir terlindungi dari ancaman serangan bangsa asing. Bangsa Mesir mengenal tiga musim: Akhet (banjir), Peret (tanam), dan Shemu (panen). Bangsa ini menanam gandum emmer dan jelai, serta beberapa gandum sereal lain sebagai bahan roti dan bir. Tanaman sayur dan buah dikembangkan di petak-petak perkebunan dekat dengan pemukiman yang tinggi dan harus diairi dengan tangan, seperti bawang perai, bawang putih, squash, kacang, selada, anggur dan tanaman lain.

Penduduk Mesir mulai menempati lembah Sungai Nil sekitar tahun 5000-525 SM, yaitu pada masa neolitik sampai pada kekuasaan absolut para firaun. Secara kronologis, sejarah Mesir dapat dibagi menjadi beberapa periode, yakni

a)      Periode prasejarah sebelum tahun 3400 SM,

b)      Periode kerajaan lama (3400-2475 SM),

c)      Periode transisi feudalism (2475-2160 SM),

d)     Periode pertengahan (2160-1780 SM),

e)      Periode dominasi Hykso (1780-1580 SM), dan

f)       Periode emperium (1580-525 SM).

 

Periode prasejarah Mesir ditandai dengan banyak ditemukan peralatan pada kuburan bangsa Mesir, diperkirakan dimulai sejak tahun 1500 SM.

Jika dilihat time line Mesir Kuno, maka daratan yang dikenal sebagai wilayah yang subur ini memiliki pola peradaban yang sangat panjang.

Waktu

Peradaban

6000 SM

Pertanian dimulai di Lembah Sungai Nil

3300-3100 SM

Berkembang kota pertama

3000 SM

Mesir Atas dan Mesir Bawah disatukan menjadi satu kerajaan

2630 SM

Zaman Piramida, piramida didirikan untuk pertama kalinya

Kerajaan Tua (2649-2134 SM)

2575-2465 SM

 

 

2134-2040 SM

 

 

Selama pemerintahan dinasti keempat, kekuasaan Mesir meningkat dramatis

 

Periode Pertengahan Pertama

Mesir terbagi menjadi dua kerajaan

Kerajaan Tengah (2040-1640 SM)

2040 SM

1640-1532 SM

 

 

 

 Sesotris III menyatukan Mesir kembali

Periode Pertengahan Kedua

Bangsa Hyksos menduduki Mesir Bawah

Kerajaan Baru (1532-1070 SM)

1504-1492 SM

 

1285 SM

 

1070-712 SM

 

 

Kekaisaran Mesir mencapai puncak kejayaannya di bawah Tuthmosis I

Ramses menyatakan kemenangan di Qadesh melawan bangsa Hittites

Periode Pertengahan Ketiga

Kekuatan Mesir menurun drastis

924 SM

Shosenq I menyerang Israel dan Yudah

828-712 SM

Mesir dibagi menjadi lima kerajaan

Periode Akhir 712-332 SM

712 SM

671 SM

525 SM

332 SM

 

Mesir diperintah oleh raja dari Nubia

Bangsa Assyria menaklukkan Mesir

Bangsa Persia menaklukkan Mesir

Mesir dikalahkan oleh Alexander Agung

 

Dari time line di atas dapat dilihat, bahwa Mesir terbagi dalam dua bagian, yaitu Mesir Bawah (Lower Egypt), merupakan hilir Sungai Nil, yang terletak di Utara dekat Laut Tengah, dan Mesir Atas (Upper Egypt), yang terletak di Selatan lebih dekat hulu Sungai Nil.

Sistem sosial kemasyarakatan, Mesir Kuno sangat terstratifikasi dan status sosial yang dimiliki seseorang ditampilkan secara terang-terangan. Sebagian masyarakat bekerja sebagai petani, namun hasil pertanian dimiliki dan dikelola oleh negara, kuil, atau keluarga ningrat yang memiliki tanah. Petani juga dikenai pajak tenaga kerja dan dipaksa bekerja membuat irigasi atau proyek konstruksi. Seniman dan pengrajin mempunyai status yang lebih tinggi dari petani, namun mereka dibawah kendali negara, bekerja di toko-toko yang terletak di kuil dan dibayar langsung dari kas negara. Mesir Kuno memandang pria dan wanita dari kelas sosial apapun, kecuali budak, sama di mata hukum. Bahkan wanita seperti Hatshepsut dan Cleopatra bisa menjadi firaun.

Masyarakat Mesir Kuno dibagi menjadi enam tingkatan sebagai berikut:

1)      Firaun dan keluarganya yang hidup mewah

2)      Para bangsawan yang juga hidup mewah

3)      Para pedagang dan pengusaha yang tinggal di kota-kota

4)      Para petani yang tinggal di desa-desa

5)      Para buruh yang tinggal di kota

6)      Para budak yang dipekerjakan oleh para bangsawan dan firaun.

 

Struktur sosial, terdiri dari kelas atas yang didominasi oleh para penguasa dan pendeta, kelas menengah dan kelas rakyat yang sebagain besar sebagai budak.[1]

 

  1. A.    Perkembangan Pemerintahan Mesir Kuno
    1. a.      Zaman Kerajaan Tua (3000-2200 SM)

Pada masa ini, Raja Menes berhasil menyatukan Mesir Hulu dan Hilir. Dia kemudian digantikan oleh Raja Chufu (Chefren) tahun 2200-2150 SM. Setelah itu, Raja Sesotris tahun 2150-2000 SM. Pada masa ini, makam raja-raja berbentuk piramida dan di depannya terdapat Sphink.

Periode kerajaan lama, sudah memasuku zaman logam. Selama berada di bawah enam kekuasaan dinasti firaun pada masa kerajaan lama, sentralisasi kekuasaan yang kuat menjadi berkurang dan memunculkan independensi dan ambisi para gubernur propinsi. Akibat terjadinya perang sipil, kekuatan firaun menjadi runtuh, sementara para gubernur saling berebut kekuasaan di antara mereka.

Pada masa pertengahan, Sensoris II dan Amenemhet III telah berhsil membuat sistem kerajaan firaun bersifat monarkhi yang kuat, dengan hukum, aturan, kemakmuran ekonomi dan kemajuan peradaban. Selain tiu, peradaban yang paling menonjol dalam bidang literatur dan kesenian.

Sekitar tahun 1780 SM, Bangsa Hyksos dari Asia berhasil menaklukan Mesir kawasan Delta sampai lembah sungai Nil bagian atas. Azhmes dari Thebes berhasil menjadikan Mesir masuk ke babak baru, yaitu masa emperium. Para penguasa di masa ini meyakini bahwa Mesir dapat aman dari serbuan asing dengan mengontrol Palestina, Syuria, Phoenesia, kawasan air di Timur Mediterania serta mengontrol nite-nite perdagangan oleh pasukan infantri.

Peradaban paling besar pada periode ini adalah Mosis III (1479-1447 SM) biasa disebut Napoleon oleh bangsa Mesir. Dia berhasil menaklukan Syuria, Phoenesia, Palestina, Nubia dan kawasan Siprus.

Thebes sebagai ibukota Mesir menjadi kota terkaya di dunia, dengan beberapa kuil tanaman yang indah dan rumah-rumah besar dan indah milik para pembesar. Di bawah kekuasaan Amenhotep II (1411-1375 SM), masa emperium mengalami kemunduran yang ditandai dengan adanya kontroversi agama dan kehilangan teritorial.[2]

 

  1. b.      Zaman Kerajaan Tengah (2000-1700 SM)

Sekitar tahun 2000-1800 SM, terjadi perang saudara, yaitu pada masa pemerintahan Raja Hatshepsut. Tahun 1800-1700 SM, kerajaan dalam keadaan genting sehingga Raja Hatshepsut mengirimkan tentara ekspedisi ke Afrika Timur. Kota Karnak yang penuh dengan Kuil diperbaiki dan didirikan Obelisk.

 

  1. c.       Zaman Kerajaan Baru (1700-1100 SM)

Sekitar tahun 1700 SM, Mesir diserang oleh bangsa Hyksos. Sekitar tahun 1600 SM, bangsa ini berhasil diusir. Raja Thutmosis II, berhasil memperluas kekuasaan sampai ke Syirua dan pulau Kreta. Pada Masa Ramses II, wilayah Mesir sampai ke Palestina, Sisilia dan Sardinia. Pada masa Ramses, Mesir lumpuh. Akibatnya kerajaan ini tidak mampu menghadapi serangan-serangan dari luar, seperti:

1)      Abad ke-9 SM, Mesir ditundukkan bangsa Assiria

2)      Abad ke-6 SM, Mesir ditundukkan bangsa Persia

3)      Abad ke-4 SM, Mesir ditundukkan oleh Raja Iskandar Zulkarnaen dari Macedonia (Yunani).[3]

 

 

 

  1. B.     Peradaban Mesir Kuno

Sistem Hukum Mesir Kuno secara resmi dikepalai oleh firaun yang bertanggung jawab membuat peraturan, menciptakan keadilan, serta menjaga hukum dan ketentraman, sebuah konsep yang disebut masyarakat Mesir Kuno sebagai Ma’at.

Dewan sesepuh lokal, dikenal dengan nama Kenbet di Kerajaan Baru, bertanggung jawab mengurus persidangan yang hanya berkaitan dengan permasalahan-permasalahan kecil. Sedangkan untuk kasus yang lebih besar diserahkan kepada Kenbet Besar yang dipimpin oleh Wazir atau firaun.

Dalam bidang perekonomian, secara besar perekonomian diatur secara ketat dari pusat. Bangsa Mesir Kuno malakukan transaksi dengan cara barter berupa karung beras dan beberapa deben (satuan berat yang setara dengan 91 gram), tembaga atau perak sebagai denominatornya. Pekerja dibayar dengan biji-bijian; pekerja kasar hanya mendapat 5 karung (200 kg)/bulan, sementara mandor mendapat 7 karung (250 kg)/bulan. Pada abad ke-5 SM, uang koin mulai digunakan di Mesir.

Dalam bidang Arsitektur dan Seni, Selama 3500 tahun, seniman mengikuti bentuk artistik dan ikonografi yang dikembangkan pada masa Kerajaan Lama. Perpaduan antara teks dan gambar biasa diukir di tembok makam dan kuil, peti mati, maupun patung. Bahan dasar yang digunakan dengan batu dan kayu untuk memahat. Firaun menggunakan relief untuk mencatat kemenangan dipertempuran, dekrit kerajaan atau peristiwa religius. Salah satu kota pertama di Mesir bernama Hierakonpolis. Di Hierakonpolis, orang Mesir kuno juga sudah membuat lembaran seperti kertas dari daun papirus. Setelah daun papirus dikeringkan, di atasnya mereka dapat menggambar dan menulis huruf hieroglif.

Karya arsiterktur yang paling terkenal adalah Piramida Giza dan kuil di Thebes. Proyek pembangunan dikelola dan didanai oleh pemerintah untuk tujuan religius, sebagai bentuk peringatan, atau untuk menunjukkan kekuasaan firaun. Salah satu kontribusi penting lain bangsa Mesir adalah kemajuan dalam bidang seni tulis, khususnya terhadap alphabet literatur tertua yang terdapat pada teks-teks Piramida yang dapat dijumpai pada dinding makam raja ke-5 dan ke-6 yang berisi mantra-mantra magis, mitos dan nyanyian religius. Sedangkan dalam ilmu pengetahuan, bangsa Mesir adalah pertama kali dalam matematika terapan, dan sedikit dalam bidang fisika dan astronomi.

 

  1. 2.      Ajaran dan Kepercayaan Agama Mesir Kuno
    1. a.      Bangsa Mesir Kuno menyembah banyak dewa

Ketika Mesir terdiri dari 42 wilayah sebelum disatukan Mina, setiap wilayah memiliki dewa khusus yang disembah. Mereka mendirikan beberapa kuil dan membuat patung para dewa. Pada hari-hari besar, mereka berkerumun mengitari patung-patung itu. Ada daerah yang menyembah elang sebagai simbol kekuatan, ada juga yang memuja sapi sebagai simbol kebenaran dan kasih sayang.

 

1)      Jenis-jenis dewa bangsa Mesir Kuno

Dewa yang paling tinggi ialah Ra (matahari waktu tengah hari). Dewa Ra dipandang sebagai dewa yang melahirkan dewa-dewa lainnya sehigga terdapat 9 orang dewa pokok, sebagai berikut:

  1. Dewa Ra: dewa matahari
  2. Dewa Nut : dewa langit
  3. Dewa Geb : dewa bumi
  4. Dewa Su : dewa hawa
  5. Dewa Tefnit : dewa udara panas
  6. Dewa Osiris : dewa sungai nil
  7. Dewa Isis : dewa kesuburan
  8. Dewa Sit : dewa padang pasir
  9. Dewa Nefus : dewa kekeringan

 

2)      Hewan yang Dipandang Suci

Selain diatas, mereka juga menunjukkan dewa-dewa kecil yang bersifat individual atau bersifat lokal (setempat). Dewa-dewa kecil dipuja oleh kelompok suku-suku, dinasti dari raja-raja/Farao tertentu. Dengan kepercayaan kepada adanya dewa-dewa kecil itu, maka muncullah 42 dewa-dewa yang terdiri dari 9 dewa besar, dan 33 dewa kecil lainnya yang\ mendapat pemujaan sepanjang masa.

Dewa-dewa kecil itu melambangkan kekuatan alam dan juga terdiri dari binatang-binatang  yang dipandang suci dan dipuja oleh mereka seperti:

  1. Dewa Aton : dewa matahari diufuk timur (pagi hari)
  2. Dewa Horus : dewa dimusim semi
  3. Dewa Funix : dewa burung bangau
  4. Dewa Ibis : dewa burung air
  5. Dewa Hator : dewa sapi
  6. Dewa Apis : dewa lembu jantan yang sangat disucikan oleh pendeta-pendeta

Binatang yang dipandang suci adalah kucing, anjing, buaya, dan sebagainya. Dan itu disebut dengan Totemisme, yang merupakan jenis binatang suci dari para dewa. Pembatasan-pembatasan moral yang dalam, dilarang membunuh, serta menyakiti orang lain adalah berasal dari faham totemisme ini. Jadi jika bangsa Mesir memuja binatang baik secara simbolis maupun langsung, maka hal tersebut disebabkan karena watak dan jalan pikirannya terpengaruh oleh kesederhanaan dalam memahami gejala alam sekitar.

 

  1. b.      Keyakinan tentang Penghitungan Setelah Kematian

Pengadilan orang mati dalam naskah Papyrus yang berasal dari Thebes yang mengacu pada tahun 1025 SM termaktub, dewa Anobis menimbang jantung si mayat dengan timbangan keadilan. Sementara Osiris sebagai dewa kematian berada disebelah kanan Anobis mengikuti persidangan. Karena itulah bangsa Mesir Kuno percaya bahwa arwah setelah mati akan dipersidangkan sesuai perbuatna yang dilakukan di dunia.

Persidangan tersebut terdiri dari 42 hakim yang mewakili beberapa wilayah Mesir yang dipimpin oleh dewa Osiris sebagai dewa kematian. Sementara itu, jantung si mayat diletakkan disalah satu sisi timbangan dan di sisi lainnya diletakkan di sehelai bulu mewakili dewi Maat, dewi kejujuran dan keadilan, sekaligus putri dewa Ra. Karena itu bila timbangannya ringan berarti seseorang itu suci yang akan ditempatkan surga, dan bila timbangannya berat berarti dia adalah pendosa yang akan digiring ke neraka.

Kepercayaan bangsa Mesir Kuno terhadap pahala dan siksa di akhirat adalah buah diutusnya sejumlah para nabi mereka, seperti nabi Ibrahim, Yusuf, Musa dan Harun. Dengan begitu, pengaruh tersebut yang mendorong mereka mencatat perbuatan yang baik dan meninggalkan perbuatan yang buruk.

 

  1. c.       Keluhuran Monotheisme

Hal ini nampak dalam hal kepercayaan keagamaan hasil ajaran Farao Achnaton esensi ajarannya merupakan kekuatan reaksi terhadap kepercayaan agama masyarakat dan raja yang telah berakar serta berkembang berabad-abad lamanya yakni pemujaan terhadap banyak dewa. Farao Achnaton memaksakan kepada rakyatnya untuk mengikuti ajaran monotheisme yaitu kepercayaan kepada satu dewa saja; dewa Aton; dewa matahari  terbit di ufuk timur.

Dari segi politik ajaran Achnaton berarti mematahkan kekuasaan pendeta dalam pemerintah sebab Achnaton adalah seorang raja yang membenci dewa Amon ikut serta dalam pemerintah. Bahkan kuil Amon di Memphis dan kuil-kuil lainnya dihilangkan, diganti dengan kuil Aton di Thebe, kota Achet. Kuil Aton ini terletak ditengah-tengah padang pasir dikelilingi dinding persegi panjang  tanpa atap di atasnya, di tengah-tengahnya dibangun suatu obelisk lambang pemujaan dewa Aton.

Demikianlah gambaran umum kepercayaan Mesir Kuno terhadap dewa serta pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan hidup kegamaan mereka. Agar mereka tidak berlarut-larut dalam jurang kesesatan, tahayul-tahayul serta hurafat-hurafat, maka Allah segera mengutus Nabi Musa pada masa Farao Ramses II pada abad ke-13 SM. untuk meluruskan sistem kepercayaan mereka yang tidak benar itu.

Walaupun Farao Ramses II saat itu tidak mau mengikuti ajaran Nabi Musa, namun akhirnya ajaran Nabi Musa berdasarkan monotheisme mutlak dengan 10 perintahnya (Ten Commendements) dapat mendobrak polytheisme bangsa tersebut termasuk tradisi-tradisi kepercayaan paganistis (keberhalaan) mereka.

Akhirnya riwayat agama paganisme dan polytheisme Mesir Kuno mengalami kehancuran total bersama dengan runtuhnya kerajaan Farao pada abad ke-6 SM.

 

  1. d.      Kepercayaan tentang Jiwa dan Ruh

Menurut Mesir Kuno, bahwa ruh adalah seperti angin atau hawa yang tidak nampak bentuk dan rupanya, tetapi dapat dirasakan kekuatannya. Ruh disebut “BA” yakni ruh yang benar-benar dan kekuatan lain yang disebut “KA” yaitu jiwa atau tubuh halus.

Dari kedua unsur tersebut ada hubungannya yaitu kekuatan yang disebut “KA”. Apabila manusia meninggal dunia maka “KA” selalu mendatangi tubuh jamaninya dan memberi nasihat kepada keluarganya. Itulah sebabnya timbul pemikiran untuk membuat mummi agar tubuh mayat itu tidak rusak, sehingga “KA” senang mendatangi tubuhnya itu.

Mayat Farao atau raja-raja, selain diawetkan dengan mummi juga dibalut dengan emas yang sama bentuk dan rupanya. Setelah itu dikuburkan dalam piramida-piramida atau kuburan batu lembah raja-raja. Piramida tertinggi di Mesir adalah piramida Raja Cheops 137 meter tingginya; sedang mummi yang paling terkenal karena seninya serta mutu emasnya ialah mummi Tut Ank Amon yang telah terbaring dalam suatu pemakaman kuburan batu selama 33 abad lamanya.

 

 

 

  1. 3.      Praktek Keagamaan Mesir Kuno

Ritual yang dilakukan Bangsa Mesir Kuno adalah ritual Ozres yang diyakini bahwa setiap manusia baik raja maupun rakyat akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya.

Bangsa Mesir Kuno percaya bahwa manusia akan dibangkitkan kembali setelah kematian untuk hidup abadi. Ketika kematian menjemput, arwah seseorang akan naik ke langit berbentuk seperti burung. Jika jasadnya tetap utuh setelah dimakamkan, maka arwahnya akan kembali kepadanya. Keyakinan inilah yang membuat mereka memumikan jenazah seseorang. Demi menjaga keutuhannya, maka mereka membangun Piramida besar untuk menjaga keutuhan jasad tersebut.[4]

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Umar, Mustofa. Mesopotamia dan Mesir Kuno: Awal Peradaban Dunia, vol. 11, El-Harakah, 2009.

http://dewasastra.wordpress.com

http://sejarahnasionaldandunia.blogspot.com/2012/10/sejarahmesirkuno.htm

 

 


[1] Mustofa Umar, Mesopotamia dan Mesir Kuno: Awal Peradaban Dunia, vol. 11 (El-Harakah, 2009), h. 211

[2] Ibid., h. 208-210

[3] http://sejarahnasionaldandunia.blogspot.com/2012/10/sejarahmesirkuno.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s