Agama Jain

AGAMA JAIN

 

  1. 1.      Sejarah dan Perkembangan Agama Jain

Jain bermakna penaklukan. Dimaksud penaklukan kodrat-kodrat syahwati di dalam tata hidup manusiawi.[1] Salah satu filsuf berkata “ Jain adalah gerakan rasionalisme yang bebas dari kekuasaan Weda kitab suci umat Hindu dan terbentuk dari karakter umum masyarakat Hindu. Paham ini terbentuk karena rasa takut terhadap reinkarnasi dan pelarian dari kesialan hidup. Berawal dari asketisisme dalam hidup karena khawatir bahaya mengancam. Jainisme berpegang pada latihan rohani yang melelahkan dan kontrol yang sulit. Poinnya adalah tidak peduli pada kenikmatan dan penderitaan. Caranya dengan menjalani hidup dalam kesengsaraan dan kekerasan. Selain itu, dengan menjadi seorang rahib (pendeta) tetapi bukan Brahma.[2] Jainisme dibuat sebagai gerakan protes terhadap upacara Veda dan juga penerapannya.[3]

Jain muncul sebagai reaksi atas sikap eksrem hindu dalam hal diskriminasi lapisan sosial (kasta). Akibat sebagian ajaran hindu, masyarakat digeser kedalam medan konflik antarlapisan sosial. Mereka terjebak diantara api kedengkian dan kebencian. Jainisme menyangkal sebagian ajaran hindu, terutama dalam hal kasta yang dinilai berbahaya bagi masyarakat. Seruan baru ini mendapat dukungan penuh dari banyak pihak. Namun, meski sikap jainisme tanpa seperti gerakan reformasi, pengaruhnya tidak banyak menyentu masyarakat. Mayoritas penduduk India masih berpegang pada doktrin hindu. Jumlah pengikut Jainismepun terbilang sedikit yang menurut perkiraan hanya berjumlah sejuta orang.

 

  1. 2.      Ajaran dan Praktek Keagamaan Jain

Menurut Jainisme, jagat raya tidak diciptakan atau tidak berasal dari Tuhan. Jagat raya itu tidak berawal (anadi) dan tidak berakhir (ananta) dan berjalan sesuai dengan hukum alam. Kenyataan itu memiliki dua kategori yang mandiri dan tidak sama, Jiva (jiwa) dan Ajiva. Jiva merupakan kesadaran dimana Ajiva adalah tidak hidup, tanpa kesadaran atau hidup. Jiva tidak berada dalam tahap yang bebas dan tahap yang tidak bebas. Jiva memiliki tubuh dan berhubungan dengan kekuatan karma, yaitu partikel yang paling halus dan menyerap ke dalam jiwa. Karena hubungannya dengan kekuatan karma, asal kejayaan dari jiwa menjadai ternoda, seperti emas yang cemerlang yang dikotori oleh karat atau terangnya lampu yang diburamkam oleh lapisan jelaga. Tujuan dari ajaran Jain adalah untuk menghilangkan Jiva dengan Karma an mengembalikan jiwa pada kejayaan yang sebenarnya.

Ajiva adalah komponen yang kedua dari kenyataan, yang terdiri dari lima hal yaitu: zat (pudgala), ruang (akasa), waktu (kala), dharma dan adharma. Lima sifat ini mengatur peristiwa objek materi. Zat membentuk tubuh manusia dan fenomena di jagat raya. Waktu dan ruang dibutuhkan untuk keberadaan objek material. Dharma dan adharma adalah prinsip dari yang bergerak dan tidak bergerak; mereka bertanggung jawab pada keberadaan objek dalam ruang dan waktu.

 

            Ajaran utama dari Jainisme dapat diringkas sebagai berikut:[4]

  1. Ahimsa adalah pemikiran atau doktrin yang tidak membunuh, tidak melakukan kekerasan, dan tidak menyakiti. Ini adalah doktrin yang jainisme dan satu dari sumpah yang kelima yang diajarkan oleh Mahavira, Tirthankara. Dalam Jainisme doktrin ahimsa meluas dalam hidup manusia, binatang dan tumbuhan yang hidup.
  2. Jainisme percaya pada hukum karma, yang merupakan hukum dari sebab dan akibat. Menurut hukum ini, setiap manusia memilikitanggung jawab moral bagi setiap tindakannya, dan ia harus menikmatinya dalam kehidupannya sekarang atau kehidupannya di masa mendatang. Tidak ada orang yang dapat selamat dari hukum karma atau orang yang bisa selamat dari akibat tindakan yang dilakukannya. Perbuatan yang baik membebaskan seseorang dari karma dan perbuatan yang buruk akan menyeret seseorang pada cengkraman karma.
  3. Jainisme mengajarkan bahwa himsa (kekerasan), nirdaya (kurangnya welas asih), krodha (kemarahan), mada (harga diri), moha (mabuk), lobha (ketamakan), dvesa (benci), dan trsna (penderitaan) yang merupakan penyebab utama dari penderitaan dan ketidakadilan yang ada di dunia. Nafsu dan keinginan ini juga merupakan musuh dari Jiwa dan menyebabkan ikatan dengan dunia. Jainisme mangajarkan bahwa pengetahuan yang benar, keyakinan yang benar, dan perbuatan yang benar secara terus menerus dapat menaklukkan musuh-musuh ini.
  4. Keterikatan pada objek materi adalah penyebab utama dari keterikatan dan akan mengarahkan kita pada ketamakan dan kecemburuan, yang lebih jauh lagi akan mengarahkan kita pada objek materi adalah syarat yang diperlukan untuk mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian dalam dunia dan kehidupan setelah itu.
  5. Jainisme dengan kuat menekankan bahwa penerapan kedisiplinan sepanjang hidup. Ini adalah alat untuk menyucikan mental dan fisik, dan akan mengarahkan kita pada kedamaian bathin. Kedisiplinan akan menghilangkan kecenderungan untuk bersifat posesif, menghancurkan kejayaan dan keagungan yang sebenarnya.
  6. Jainisme mengajarkan penerapan dari Lima sumpah dan dan Tiga permata untuk menyembuhkan penyakit dunia dan untuk mencapai Kevala (pembebasan). Lima sumpah itu adalah ahimsa (tidak melakukan kekerasan), satya (melakukan kebenaran), asteya (tidak melakukan pencurian), brahmacarya (kesucian), dan aparigraha (tidak terikat atau mengasingkan diri dari benda meteri). Tiga permata itu adalah: keyakina yang benar, pengetahuan yang benar, dan perbuatan yang benar.  

 

Mahavira menyimpulkan seluruh pokok ajarannya pada Tiga Ratna Jiwa (The Three Jewels of Soul), yaitu :

  1. Pengetahuan yang benar
  2. Kepercayaan yang benar
  3. Tindakan yang benar

Tindakan yang benar itu mestilah berazaskan Lima Sumpah Terbesar (Five Great Vows), yaitu : [5]

  1. Jangan membunuh sesuatu yang hidup
  2. Jangan mencuri
  3. Jangan berdusta
  4. Jangan hidup bejat
  5. Jangan menghasratkan apapun

 

  1. 3.      Kitab Suci Agama Jain

Kitab suci di dalam agama Jain (Siddhanta) itu bermakna : pembahasan. Dan  kitab suci Jain bisa disebut dengan nama Agamas yang bermakna : perintah, ajaran, dan bimbingan.

Kitab suci Jain  hanyalah sekumpulan 55 khotbah mahavira, beberapa pidato dan wasiat yang berhubungan dengan para murid, pendeta, dan ahli ibadah aliran tersebut. Warisan ini turun-temurun berpindah secara lisan yang baru terkumpul pada abad ke-4. Pada waktu itu, para pemuka agama Jain berkumpul di kota Paleopatra. Mereka berdiskusi perihal kodifikasi warisan mahavira tersebut karena khawatir hilang dan tercampur dengan sesuatu yang lain. Mereka mengumpulkan sebagian isi kitab dalam beberapa buku dan berselisih tentang sebagian sumbernya. Namun, mereka belum berhasil menyatukan suara masyarakat guna menyepakati rencana kodifikasi tersebut.

Oleh karena itu, penulisan undang-undang Jainisme ditunda sampai tahun 57 M. akhirnya, mereka membukukan sebagian naskah yang didapatkan setelah cukup banyak kehilangan warisan tersebut. Pada abad ke-5 M, mereka menyelenggarakan pertemuan lain di kota Welapehi yang menyepakati pendapat terakhir tentang warisan Jainisme yang mereka anggap suci. Kali pertama, buku tersebut ditulis dalam bahasa Ardaha Majdi,(bahasa kepustakaan sebelum masehi)  kemudian ditulis dengan bahasa Sanskerta pada abad-abad Masehi. Selain itu orang Jain juga percaya dengan permata yakut yang tiga atau bisa disebut tiga ratna jiwa diantaranya yaitu,

  1. Permata atau mutiara yang pertama adalah itikad yang sah, dialah puncak penyelamatan. Maksud mereka adalah percaya kepada para pemimpin Jain yang dua puluh empat itu. Itulah aturan yang dipuja dan jalan yang lurus. Itikad yang sah tidak ada kecuali setelah diri terlepas dari kotoran-kotoran dosa yang melekat padanya dan yang menghalangi sampainya ruh kepada itikad ini.
  2. Permata atau mutiara yang ke dua adalah ilmu yang benar, maksudnya adalah pengetahuan mengenai alam dari kedua segi rohaninya dan kebendaan serta membedakan diantara keduanya. Martabat pengetahuan ini berlainan menurut kekuatan penglihatan hati dan kejernihan ruh. Seseorang yang memisahkan pengaruh dari kekuatan rohani serta sinarnya dapat melihat alam dalam bentuk yang sebenarnya, segala hakikat terbentang di depannya, tabir-tabir tebal tersingkap darinya yang menyebabkannya dapat membedakan antara kebenaran dan kesalahan, antara sangkaan dan keyakinan. Dia tidak diraguhkan oleh apapun . Ilmu pengetahuan yang benar ada sesudah itikad yang sah.    
  3. Permata atau mutiara yang ketiga adalah akhlak yang benar, maksudnya adalah bersifat dengan akhlak Jain seperti melakukan kebaikan meninggalkan keburukan, tidak membunuh, tidak berbohong, tidak melakukan pencurian, tidak melakukan kecurangan dan berzuhud dengan barang-barang kepunyaan sendiri. 

 

  1. 4.      Sekte dalam Agama Jain

Sekitar tahun 310 SM. Terjadilah perpecahan paham dan pendirian dalam kalangan agama Jain itu, yakni lebih kurang 3 abad sepeninggalan Mahavira (599-527 SM). Perpecahan itu disebabkan musim paceklik di India utara. Sejumlah 12.000 orang dari jemaat Jain itu, di bawah pimpinan Bhadrabahu, melakukan perpindahan menuju belahan selatan India, berdiam dan menetap dalam wilayah Mysore. Dengan begitu jemaat Jain itu telah terpecah dua, yaitu belahan utara dan belahan selatan. Belahan utara itu beriklim dingin dan belahan selatan beriklim panas. Di dalam wilayah yang beriklim panas itu pakaian tidaklah diperlukan. Sedangkan jemaat Jain bagian belahan utara lebih mengutamakan bertarak dan bertapa, yakni hidup secara asketik.

Sekitar tahun 82 M baharulah perpecahan itu menjadi resmi disebabkan masalah pakaian. Jemaat Jain yang mendiami wilayah pada belahan utara pegunungan Vindaya, yang bersuhu sejuk itu, selalu mengenakan pakain putih. Jemaat Jain itulah yang dipanggilkan dengan sekta Svetambara, yakni jemaat berpakain putih.

Tetapi jemaat Jain yang mendiami wilayah pada belahan selatan pegunungan Vindhya itu, yang sepanjang tahun beriklim panas, tidak mengenakan pakaian agak sehelai benangpun. Jemaat Jain itulah yang dipanggilkan dengan sekta Digambara, yakni jemaat bertelanjang bugil bagaikan langit.

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Joesoef Sou’yb. Agama-agama Besar di Dunia. Jakarta: Al Husna Zikra, 1996.

al-Maghlaut, Sami bin Abdullah, Atlas Agama-agama. Jakarta: Almahira, 2010.

Pandit, Bansi. Pemikiran Hindu. Surabaya: Paramita, 2003.

 

 

 

 

 

 


[1] Joesoef Sou’yb, Agama-agama Besar di Dunia (Jakarta: Al Husna Zikra, 1996), h. 128.

[2] Sami bin Abdullah al-Maghlaut, Atlas Agama-agama (Jakarta: Almahira, 2010),h. 563 .

[3] Bansi Pandit, Pemikiran Hindu (Surabaya: Paramita, 2003), h. 101.

[4] Ibid., h. 102.

[5] Joesoef Sou’yb, Agama-agama Besar di Dunia (Jakarta: Al Husna Zikra, 1996), h 136.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s